Belajar dari Cara Aswin Wirjadi Merencanakan Keuangan dan Investasi

Penuh perhitungan”, tampaknya itulah kata yang tepat untuk menggambarkan strategi Aswin Wirjadi dalam merencanakan keuangannya sejak muda. Mantan Wapresdir PT Bank Central Asia Tbk. ini bahkan telah berencana menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri dan mempersiapkan dana pensiun sedini mungkin. Kini ayah dua anak dan kakek dua cucu ini masih aktif mengelola sendiri investasinya di pasar modal meski sudah tidak lagi agresif bertransaksi.

Selain itu, ia juga menikmati aktivitasnya di berbagai yayasan sosial di bidang pendidikan. Ditemui di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pria kelahiran Padang 17 Januari 1948, yang kini masih menjabat sebagai Komisaris Independen Bank UOB ini, berbagi cerita mengenai bagaimana ia mulai bersakit-sakit dahulu hingga bersenang-senang kemudian dalam bekerja dan merencanakan keuangan keluarganya.

Aswin Wirjadi

Siklus hidup orang itu pada umumnya sama, setelah lulus sekolah atau kuliah, lalu bekerja, menikah, memiliki anak, kemudian pensiun. Karena itulah orang harus mempersiapkan masa depannya dengan baik, termasuk mempersiapkan biaya pendidikan anak, dana pensiun, dan bahkan asuransi untuk suatu saat jika sang kepala keluarga itu meninggal ketika usia anak-anaknya masih membutuhkan banyak biaya untuk melanjutkan pendidikan.

Orang itu suka lupa mempersiapkan dana pensiun. Banyak yang sudah dekat usia 50 tahun baru memikirkan pensiun. Saya pernah baca di Reader's Digest bahwa pensiun itu sudah harus diperhitungkan saat kita mulai bekerja. Karena siklus hidup yang pada umumnya sama tersebut, sebenarnya semua sudah bisa dikalkulasi, akankah anak itu disekolahkan di dalam negeri atau di luar negeri, apakah ingin di akademi saja atau ke universitas. Semua kebutuhan biayanya bisa diperhitungkan. Apalagi saat ini tingkat inflasi dan bunga bank terbilang relatif jauh lebih stabil daripada dulu. Tahun 1970-1990, bunga bank mencapai 20-an%. Saat krisis tahun 1997-1998, bunga bank dapat mencapai 70% per tahun. Untuk membeli rumah sebelum tahun 1990-an pun hampir tidak ada kredit rumah seperti sekarang, kecuali jika kita memiliki koneksi dengan bank.

Jadi, kalau berbicara investasi pada akhirnya juga harus bicara properti, dan itu dimulai dari tempat tinggal kita dulu. Satu prinsip yang saya lakukan saat mulai bekerja adalah saya harus memiliki tempat tinggal sendiri, meskipun tempat tinggal itu berupa rumah yang sangat sederhana dan lokasinya belum terjangkau oleh fasilitas umum seperti listrik dan air. Saya tidak mau mengontrak rumah, karena dengan begitu berarti pendapatan saya banyak habis hanya untuk bayar kontrakan rumah.

Tahun 1973, saya membeli properti pertama di Tanjung Duren yang saat itu masih berupa tanah seluas 110 m2 dan belum memiliki fasilitas seperti air, listrik apalagi telepon. Saya membelinya dengan pinjaman senilai tiga bulan gaji ditambah THR dari IBM, perusahaan tempat saya bekerja. Untuk langsung membeli rumah, saya belum sanggup. Setelah itu saya mencicil pinjaman tersebut selama 6 bulan. Selanjutnya, selama 2-3 tahun saya kumpulkan uang untuk membangun sebuah rumah sederhana dengan dua kamar.

Tidak masalah bersakit-sakit dahulu. Tiga tahun lamanya rumah pertama saya belum tersentuh fasilitas umum hingga harus membeli air dari tukang air dorongan, sebelum akhirnya ada proyek Husni Thamrin dari Gubernur DKI, Ali Sadikin yang memperbaiki kampung-kampung, membuat jalan, selokan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Saya yakin, saya tidak memboroskan uang, dan uang itu akan kembali dengan adanya kenaikan nilai tanah. Karena, seperti yang Mark Twain katakan, ”Tuhan sudah tidak menciptakan tanah lagi.” Jadi bagaimanapun harga tanah pasti naik, dan tidak mungkin turun.

Memang, tidak jarang ada faktor nasib juga, sehingga seseorang dapat merencanakan keuangannya secara baik. Ini pula yang saya alami. Begitu saya pindah kerja ke Chase Manhattan Bank tahun 1979, saya memperoleh fasilitas pinjaman untuk membeli rumah. Sebagai karyawan bank saat itu saya memperoleh pinjaman tunai senilai Rp 50 juta dengan bunga 2% dan jangka waktu cicilan 20 tahun untuk membeli rumah di Tomang seluas 320 m2. Ini sangat membantu mengingat orang luar yang tidak memiliki koneksi dengan bank harus membayar bunga 24% setahun. Sekarang, harga pasaran rumah itu telah mencapai Rp 4,5 miliar.

Hal penting kedua yang harus dimiliki – terutama setelah menikah dan memiliki anak – adalah asuransi. Banyak keluarga mapan yang saat kepala keluarganya meninggal langsung kesulitan karena pendapatannya terhenti. Maka di usia 38 tahun, saya membeli asuransi jiwa yang berupa kombinasi investasi dan asuransi untuk jangka waktu 20 tahun dalam mata uang dolar Singapura dari sebuah perusahaan asuransi asing, karena saat itu belum ada produk semacam itu di Indonesia.

Setelah masalah tempat tinggal dan asuransi terpenuhi, saya mulai memperhitungkan biaya pendidikan anak. Meskipun posisi saya saat itu Country Manager Consumer Banking atau orang nomor dua di Chase Manhattan, berdasarkan perhitungan saya, jika saya ingin menyekolahkan anak-anak saya di luar negeri, saat pensiun saya tidak akan memiliki dana yang cukup untuk hidup tanpa bergantung pada anak saya yang sudah lulus kuliah.

Aswin Wir (tegak)

Di saat yang sama, datang tawaran dari Grup Salim, yaitu Indomobil. Maka setelah 12 tahun bekerja di Chase Manhattan, saya lalu bergabung dengan Indomobil sebagai Direktur Teknologi Informasi. Saat itu perusahaan swasta di Indonesia sedang booming. Mereka berani membayar mahal para profesional dari perusahaan asing. Saya bahkan menerima bayaran hampir tiga kali lipat gaji saya sebelumnya. Tapi hanya setahun di Indomobil, saya kembali ditarik ke sektor perbankan, yaitu BCA.

Pindah dari Chase Manhattan yang notabene bank asing dengan segala aturan yang jelas ke sebuah perusahaan swasta milik keluarga, mengharuskan saya memastikan bahwa saya memiliki job security. Di perusahaaan asing, semua aturannya jelas, berbeda dengan di perusahaan milik perorangan, jika pemilik tidak menyukai kita, kita bisa kehilangan pekerjaan kapan saja. Nah, ternyata keamanan kerja ini dapat diasuransikan. Karena itu saya membeli produk asuransi keamanan kerja dari sebuah perusahaan asuransi lokal. Produk ini akan membayarkan gaji kita setiap bulan selama setahun apabila kita kehilangan pekerjaan. Jadi, setidaknya kita masih memiliki penghasilan di saat kita mencari pekerjaan baru.

Selama 12 tahun berkarier di bank asing juga membawa berkah tersendiri. Saat itu ada sebuah aturan di bank asing bahwa setelah 12 tahun kerja, karyawan dapat memperoleh 18 bulan gaji. Uang inilah yang digunakan untuk melunasi cicilan rumah dan mobil. Karena itu pula, saat bergabung dengan Indomobil saya mulai dapat aktif berinvestasi lantaran sudah tidak lagi memiliki utang.

Pilihan investasi saya jatuh pada saham dan obligasi. Saat itu pasar saham Indonesia baru mulai aktif. Sebagai seorang profesional yang bekerja, tidak punya banyak waktu memantau pasar dan melakukan trading saham, maka saya memilih saham blue chip, seperti saham Astra International, Telkom dan Unilever. Memang, jika ingin berinvestasi jangka panjang di saham, sebaiknya kita memilih saham blue chip untuk meraih kenaikan capital gain dan dividen. Kalau bukan saham blue chip, bisa saja tiba-tiba perusahaan itu hilang dari pasar modal dan kita sebagai investor mengalami kerugian.

Sebenarnya, properti berupa aset aktif seperti ruko atau properti lain yang bisa disewakan juga merupakan investasi yang bagus, karena kita akan mendapat kenaikan nilai aset dan pendapatan dari sewa. Toh, saya merasa bukan orang yang jago berinvestasi properti ataupun logam mulia, dan saya merasa tidak mendapat return yang menguntungkan dari reksa dana, sehingga saya hanya fokus pada saham dan obligasi.

Rumus investasi saham yang paling gampang itu adalah jual setelah untung 15%. Jika turun 5% kita harus segera cut loss. Akhirnya pasti untung 10%. Tapi biasanya orang serakah, padahal seharusnya disiplin. Dulu saya biasa menyimpan saham selama 6 bulan hingga satu tahun. Sekarang, saat usia sudah di atas 50 saya bisa simpan hingga 2-3 tahun, karena saya tidak lagi agresif mengejar gain.

Memang, yang namanya belajar pasti ada 'uang sekolahnya'. Ceritanya begini, saya sempat dikirim oleh Chase Manhattan untuk bekerja di Hong Kong tahun 1979. Di sanalah saya dapat menabung karena status saya ekspat, membuat segala kebutuhan hidup seperti tempat tinggal ditanggung oleh perusahaan. Kembali dari Hong Kong saya membawa tabungan sekitar US$ 37 ribu yang saya simpan dalam bentuk deposito dolar. Toh, sejak tahun 1984 hingga 1987 kurs rupiah terhadap US$ tidak mengalami kenaikan dan bunga deposito sangat kecil, padahal saat itu bunga deposito rupiah sedang tinggi. Akhirnya saya konversikan deposito tersebut ke rupiah. Tetapi seminggu kemudian pemerintah mengumumkan devaluasi rupiah. Memang, untuk belajar segala sesuatu itu harus ada 'uang belajarnya'.

Selain pengalaman rugi, tentunya pengalaman memperoleh keuntungan juga pernah saya rasakan. Misalnya dari obligasi. Saat Sri Mulyani masih menjabat Menteri Keuangan dan obligasi dalam dolar yang pertama dikeluarkan, kupon yang ditawarkan 12,5%. Dari nilai pari 100 langsung melambung ke 122. Saat itu saya langsung menjual di 122.

Selain itu, saya juga memperoleh keuntungan dari saham BCA yang disimpan dalam jangka panjang dari harganya masih Rp 200 hingga menjadi Rp 8.000. Hasilnya saya dapat membeli properti tahun 2005.

Kita jangan takut berbuat salah, meski tentu saja kita juga harus membagi alokasi aset, jangan semuanya ditaruh dalam satu keranjang. Proporsinya harus ditentukan sesuai dengan profil risiko kita di setiap rentang usia. Di usia 40-an mungkin kita masih bisa memilih instrumen dan komposisi alokasi dana yang bersifat hi-risk hi-return, karena kita masih memiliki recovery time yang cukup panjang. Nah di usia 50, kita seharusnya semakin bermain aman dengan memilih instrumen yang low risk low return.

Saya sendiri, di usia 40-an, mungkin alokasi aset saya di saham dan obligasi terbilang seimbang (50:50), dengan rata-rata return investasi per tahun 20%. Setelah usia 50, saya lebih konservatif dengan perbandingan antara saham dan obligasi 25:75 dan kisaran return investasi 10%-15% per tahun. Di usia 60, saya lebih konservatif lagi dengan perbandingan antara saham dan obligasi 10:90, dengan target return hanya 5%-6% setahun.

Selain itu, saya sudah mulai mengoleksi benda seni di usia 35-36 tahun. Ini hobi yang dapat dijadikan investasi. Salah satu lukisan yang saya beli dengan harga Rp 300 ribu saja di tahun 1984, kini dapat dijual dengan mudah seharga Rp 40-50 juta. Selain lukisan saya juga menyukai hulu keris, berbagai macam kain dan benda seni lainnya.

Dalam berinvestasi, kita harus tahu bahwa deposito bukan untuk investasi, itu hanya untuk menyimpan dana tunai. Saya selalu menyisihkan setidaknya 20% dari aset saya dalam bentuk deposito. Perlu diingat, data yang ada mengajarkan bahwa selama hampir 75 tahun, deposito dan tabungan dalam mata uang apa pun pasti kalah dengan inflasi. Setelah 50-60 tahun nilainya akan lebih rendah. Deposito ini sifatnya untuk memastikan kita memiliki dana tunai yang cukup jika ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi. Karena jika kita harus menjual aset dalam keadaan mendesak, harganya pasti turun.

Pesan saya kepada para profesional, terutama yang sudah pensiun dan ingin berinvestasi atau berbisnis, jika kita terbiasa bekerja, jangan sok-sokan langsung ingin jadi wirausaha. Karena jika gagal saat kita sudah pensiun, kita tidak akan punya recovery time lagi.

Mike Rini: Pak Aswin Penuh Direction Sejak Muda

Mike Rini Sutikno, Mitra Pengelola MRE Financial and Business Advisory (PT Mitra Rencana Edukasi), menilai Aswin Wirjadi adalah sosok yang benar-benar penuh dengan perencanaan dalam pengaturan keuangannya. Terbukti Aswin berusaha memenuhi kebutuhan pokok keluarganya lebih dulu sebelum mulai berinvestasi. Ia juga mempersiapkan dana pendidikan anaknya untuk kuliah di luar negeri. “Saya tidak terlalu banyak menemukan orang yang penuh direction sejak muda seperti Pak Aswin. Orangnya sudah tahu uangnya mau dialokasikan ke mana,” ujar Mike.

Investasi orang di usia pensiun, memang seharusnya mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai hidupnya setiap bulan. Karena itu, idealnya Aswin memilih saham yang mampu memberikan dividen. ”Mungkin sahamnya masih bisa dinaikkan jadi 15%,” ujar Mike. Selain itu, obligasi pun sebaiknya berupa obligasi jangka pendek dan jangka menengah dengan kupon tiga bulanan atau tahunan. Dan untuk dana darurat, idealnya 6-12 kali pengeluarannya per bulan.

Secara umum, menurut Mike, komposisi alokasi dana Aswin di usianya saat ini sudah terbilang baik. ”Dengan komposisi alokasi dananya sekarang, saya kira sudah sesuai antara aksi dan kebutuhannya, tujuannya kan memang agar memperoleh pendapatan dan pokok investasinya tidak boleh berkurang karena kegiatan spekulasi. Jadi pilihannya instrumen yang bisa memberikan pendapatan yang sesuai dengan gaya hidupnya sekarang sambil tetap memberikan pertumbuhan yang moderat,” ia menambahkan. (EVA)

Mengatur Komposisi Investasi di Instrumen Keuangan (alokasi 20% total aset)

 Usia 40-an:

- Saham 50%

- Obligasi 50%

Usia 50-an:

- Saham 25%

- Obligasi 75%

Usia 60-an:

- Saham 10%

- Obligasi 90%

Strategi dalam Perencanaan Keuangan

dan Investasi

= Memenuhi kebutuhan pokok diri dan keluarga sebelum berinvestasi.

= Berinvestasi pada produk yang diketahui benar (dalam hal ini saham dan obligasi).

= Memilih saham blue chip yang menghasilkan capital gain dan dividen.

= Menyimpan saham dalam jangka menengah dan panjang.

= Mengatur komposisi alokasi dana sesuai dengan profil risiko di setiap rentang usia.

= Memantau pasar dan pemberitaan untuk mengetahui waktu yang tepat menjual atau membeli saham atau obligasi.

Leave a Reply

1 thought on “Belajar dari Cara Aswin Wirjadi Merencanakan Keuangan dan Investasi”

Sangat inspiratif
by kusmanto, 19 Sep 2014, 14:56

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)