Gaya Investasi Raffi Ahmad di Properti

Investasi Raffi kini masih fokus di properti. Potential gain yang dihasilkan memang lumayan besar, yang membuatnya puas. Apakah saat ini melirik pula ke instrumen investasi lain?

Presenter top Raffi Ahmad hanya menekuni satu instrumen investasi: properti. Akan tetapi, bukan berarti Raffi tidak mengenal jenis investasi lain. Ia pernah berinvestasi untuk mendirikan My Room, kafe dan klub di Bali. Sayang, di bisnis kuliner itu ia hanya bertahan dua tahun. Bisnisnya gagal total. Karena lokasinya jauh, ia tidak bisa memantaunya terus-menerus. Adapun orang-orang yang mengelolanya tidak bertanggungjawab. “Bisnis kafe harus benar-benar dipantau dan dikelola langsung,” kata Raffi. Pengalamannya yang masih hijau di bisnis membuatnya mudah saja dibohongi karyawannya sendiri. Berapa kerugiannya? Ketika berinvestasi, ia merogoh kocek Rp 1 miliar, tetapi baliknya hanya Rp 350 juta. Jadi, dari bisnis kafe Raffi tekor Rp 650 juta.

Raffi (tegak)

Dua hari menjelang pernikahannya, Raffi masih sibuk dengan urusan pribadi, mulai dari ke dokter gigi hingga membeli cincin pernikahan di Pacific Place. Dengan mengenakan sepatu sport Nike, celana pendek, baju lengan panjang putih dan jam tangan putih merek G Shock, pemilik nama lengkap Raffi Faridz Ahmad ini nampak santai menikmati makan siang di Potatoes Head, SCBD, Jakarta Selatan.

Di sanalah Raffi berbicara tentang invetasinya di properti. Ia pernah menyimpan uang dalam bentuk mobil dan motor mewah. Ternyata, risikonya cukup besar karena harganya terus turun dari waktu ke waktu. Hanya mobil dan motor tertentu yang nilainya naik, seperti motor dan mobil antik, hanya saja menunggu waktunya terlalu lama. Karena itu, ia menyadari, unsur investasi di kendaraan hanya 10%. “Sisanya hanya untuk lifestyle dan hobi,” ujarnya.

Raffi tertarik menanamkan duit di properti karena relatif aman. “Developer-nya menjanjikan risiko paling hanya 5%, dan itu biasanya terjadi di luar dugaan, misalnya tiba-tiba bangunan hancur. Tetapi, itu bisa dilindungi dengan asuransi,” Raffi menjelaskan. Ia meyakini, investasi di properti dinilainya tidak akan turun, tetapi akan terus tumbuh, 10% hingga 100%. Bahkan, ada yang 300%. Hanya saja, semuanya butuh waktu dan kesabaran. Karena semakin sabar, setelah bangunan jadi dan lokasinya berkembang, serta ditunjang fasilitas yang ada di lokasi tersebut, nilai investasi akan semakin tinggi. “Untuk properti memang harus sabar bila ingin mendapatkan hasil, minimal harus menunggu dalam waktu tiga tahun,” ujar aktor yag mulai naik daun ketika membintangi sinetron Tunjuk Satu Bintang ini.

Pengalaman pertama investasi di properti adalah ketika ia membeli rumah pada 2009, di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, senilai Rp 2,4 miliar. Sekarang, sudah ada yang menawar Rp 5 miliar, meskipun belum ada niat menjualnya.

Selain itu, suami Nagita Slavina ini mengambil beberapa properti dari Forza Land di Serpong, yakni 10 unit apartemen One Azure. Harga sebelum peluncuran sekitar Rp 7 juta/m2, tetapi sekarang sudah Rp 13 juta/m2. Itu belum ada setahun. Total investasi di One Azure, Serpong, sebesar Rp 6-7 miliar. Proyek ini belum jadi, tetapi fasilitasnya sangat mendukung, ada kampus, rumah sakit, dll. Selain itu, ia juga membeli satu unit apartemen proyek Forza Land di One Casablanca Resident, Jak-Sel, seharga Rp 2,4 miliar. Meskipun kemajuan pembangunan apartemen tersebut belum mencapai 25%, sekarang setelah lebih dari setahun harganya mencapai Rp 3,3 miliar, naik Rp 1 miliar.

“Gue juga nyesel nggak beli banyak, meskipun harganya lebih mahal. Harusnya waktu itu paling tidak gue beli tiga unit,” kata Raffi. Karena awalnya masih ada keraguan, akhirnya ia membeli satu unit, dan ternyata perkembangannya lumayan bagus.

Raffi mengakui, sebelum menikah hobinya membeli mobil dan motor. Namun, setelah mau menikah baru terpikir bahwa investasi yang benar adalah properti, meskipun harus sabar. Karena, investasi di properti bisa juga untuk disewakan atau dijual. Bahkan, juga bisa berguna bila saudara-saudara ingin tinggal. “Saat ini saya baru investasi di hunian, belum masuk investasi ke hotel,” katanya.

Menurut Raffi, investasi di properti hanya cocok-cocokan dan semua orang bisa melakukannya. Namun, ia menambahkan, sebenarnya dalam berbisnis properti harus pintar-pintar dan peka terhadap pengembangnya. Selain itu, juga harus sabar dan itu yang sedang dipelajarinya, bahwa berinvestasi di properti harus sabar menunggu sampai bangunan jadi selama tiga tahun. “Tetapi, feeling-nya juga harus main. Misalnya, dengan melihat lokasi yang bebas banjir, tidak macet dan juga fasilitas yang ada yang akan menjadi nilai plus. Selain itu, juga melihat pangsa pasar yang dibidik developer tersebut, kira-kira membidik kelas yang mana,” tuturnya.

Raffi (utama)

Mengapa tertarik dengan Forza Land, padahal pengembang kakap lainnya banyak? Raffi mengakui, kebetulan pemilik Forza Land merupakan temannya yang juga main mobil. “Awalnya, saya tidak mengerti bagaimana cara berinvestasi,” katanya. Karena pemilik Forza Land teman baiknya, ia diberi pandangan, misalnya bagaimana bila ingin investasi di apatermen atau proyek properti lainnya. Awalnya, Raffi disarankan membeli saat prapeluncuran, harga ini pasti akan naik setelah peluncuran. Setelah dicoba, ternyata benar. Dari situlah ia mulai tertarik berinvestasi di properti. “Mungkin kalau tidak dijelaskan seperti itu, karena saya masih muda, belum tentu percaya dan proyek Forza Land belum ada satu pun yang jadi, tetapi saya sudah percaya,” ungkapnya.

Bagi Raffi, rekam jejak pengembang itu penting, tetapi yang lebih penting adalah lokasi beserta spesifikasi yang ditawarkan dan fasilitasnya. Sehingga, kebutuhan pokok dan kebugaran badan bisa dipenuhi di apartemen tersebut. Itu penting, karena niatnya ada yang untuk investasi atau untuk dijual kembali, sehingga melepasnya gampang.

Rafii membeli 10 unit apartemen di One Azure tahun lalu dan, menurut pengambangnya, pada 2016 harganya akan naik hingga 100%. Apalagi, ia membelinya saat prapeluncuran. Namun, bisa jadi kenaikan tersebut tembus 200%. Alasannya langsung membeli 10 unit di One Azure: ketika membeli di One Casablanca Residence, hasilnya sudah kelihatan, sayangnya hanya satu unit yang dibeli. Untuk proyek di Serpong ia berani beli banyak, selain karena harganya jauh lebih murah, lokasinya pun sangat strategis: berada di daerah yang akan berkembang, sehingga ia merasa secure untuk investasi di sana. Sebab, banyak keluarga baru dan muda yang mencari tempat, meskipun di pinggiran Jakarta tetapi fasilitas seperti di tengah kota.

Selain menanamkan uang di properti, Raffi juga banyak menghabiskan uang di otomotif. Ia pernah punya motor gede hingga 10 unit: empat unit Ducati empat unit, dua unit Harley- Davidson, Spider dan Vespa; dari beli baru yang harganya sekitar Rp 500 juta/unit, tetapi kalau dijual hanya Rp 250 -350 juta/unit. Namun, ia berpikir bagaimana uang yang hilang itu bisa kembali. “Dulu waktu muda kayak foya-foya menggunakan untuk beli motor dan mobil merek-merek besar. Rasanya gengsi banget, tetapi sekarang mulai mikir untuk save money,” ungkapnya.

Dari 10 motor yang ia miliki, Raffi nekat menjual tujuh motor gede koleksinya yang harganya mulai turun. Dana hasil penjualan motor gede ia investasikan ke One Azure. Dan, sekarang sudah keliatan hasilnya. Ia juga menjadi distributor motor Spider sejak 2010.

Begitu juga di mobil, selain untuk gaya hdup, ada juga yang digunakan untuk pergaulan. Sebenarnya, sama halnya dengan moge yang bisa dipakai untuk bergaul dan memperbanyak mitra bisnis dari teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Mobil koleksinya antara lain merek Lamborghini, Land Rover, Mini Cooper, Camaro dan BMW Classic, total ada 10 unit. Namun, mobil tidak dijual, karena masih dipakai untuk keluarga. Berbeda dengan motor yang hanya digunakan Raffi, sehingga tidak perlu banyak. “Kalau motor, cukup 3-4 unit saja,” katanya tandas.

Raffi mengakui, jika tidak membeli mobil, mungkin asetnya bisa dua kali lipat dari saat ini. Dari situlah ia mulai sadar untuk investasi. Prinsipnya berinvestasi: bila ingin investasi, semua pasti ada risikonya. Begitu juga menabung, kalau banknya dilikuidasi, juga berisiko. Yang penting, harus peka dan pintar melihat ke mana dana tersebut akan diinvestasikan, ke apartemen atau rumah. Ke depan, harus bisa dilihat paling cepat berapa lama dananya akan bertambah. Skenario buruknya juga dipikirkan: kalau hilang, seperti apa dananya. “Jadi, jangan melihat yang bagusnya saja, tetapi semua harus dipikirkan. Bila investasi di properti, umumnya dari 100%, hanya 20% yang gagal, sisanya 80% rata-rata berhasil,” ungkap Raffi lagi.

Bagaimana pertimbangannya memilih pengembang? Dkatakan Raffi, portofolio pengembang perlu jadi pertimbangan. Namun, yang lebih penting bisa melihat spesifikasi yang dijanjikan, visi dan misi saat presentasi, serta pembeli individualnya. Juga, perlu melakukan komunikasi yang intens dengan pengembang, sehingga bila terjadi apa-apa, ia termasuk yang dikasih tahu. Itu perlunya komunikasi, sehingga bisa cepat mengambil keputusan, apakah akan dilepas atau ditahan.

Bagaimana dengan saham dan reksa dana? “Terus terang, untuk investasi di pasar modal saya belum mengerti caranya,” ungkap Raffi.

Pengalaman Raffi Berinvestasi di Properti

Beli rumah di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, senilai Rp 2,4 miliar pada 2009, sekarang sudah ada yang menawar Rp 5 miliar.

Beli 10 unit apartemen One Azure, Serpong, dengan harga sebelum prapeluncuran sekitar Rp 7 juta/m2, sekarang sudah Rp 13 juta/m2, padahal belum ada setahun.

Beli satu unit apatermen proyek Forzaland di One Casablanca Resident, Jakarta Selatan, lebih dari setahun lalu dengan harga Rp 2,4 miliar. Meskipun kemajuan pembangunannya belum mencapai 25%, sekarang harganya Rp 3,3 miliar, naik Rp 1 miliar.

Mike Rini:
Raffi Perlu Menghitung Pula Biaya Investasi

Bagi Mike Rini Sutikno, pengamat investasi dari Mitra Rencana Edukasi, Raffi Ahmad belum punya perencanaan investasi. Dia hanya nyimpen duit, bentuknya properti. Kelihatannya itu sudah investasi, Raffi ingin mengembangkan uang yang didapatnya. Padahal, investasi itu bukan saja keuntungan yang dipertimbangkan, tetapi juga harus memperhitungkan biayanya. Biayanya besar ataukah kecil. Biaya yang dikeluarkan itu harus dibandingkan dengan biaya kategori investasi lain. Jangan-jangan kalau investasi di instrumen lain, malah lebih menguntungkan karena biayanya lebih murah.

“Maka, Raffi harus mendiversifikasi investasinya dengan proporsional, sesuai dengan karakter dia dalam berinvestasi. Kalau saya lihat, dia kan cenderung ingin yang aman, stabil dan menguntungkan. Uang dia banyak. Dia masuk kategori investor konservatif moderat, jadi 30% dari seluruh aset harus dalam bentuk cash liquidity atau cash equivalent, “ ujar Mike Rini.

Maksud cash equivalent adalah investasi yang setara dengan uang: kalau dicairkan mudah dan tidak kehilangan banyak nilai pokoknya. Yaitu, dalam bentuk tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, dan campur sedikit emas.

Salah persepsinya adalah kalau Raffi menganggap bahwa investasi properti paling aman. Investasi itu tidak ada yang aman. Kalau dia berkonsentrasi pada satu hal, kelihatannya saja aman. Coba lihat yang terjadi di Amerika Serikat, suprime mortgage menyebabkan harga properti anjlok, kelebihan pasokan. Memang sih jarang terjadi. Raffi berinvestasi karena temannya, sesama anggota geng penggemar kendaraan mewah.

Diversifkasi investasi justru mengamankan asetnya. Kalau semua ditaruh di properti, tidak terasa ruginya. Dia tidak berasa saja biaya yang dikeluarkan. Jika dia berinvestasi properti seharga Rp 10 miliar, pajaknya 5%, itu sudah berapa uangnya? Belum biaya-biaya lain seperti asuransi, interior dan pemeliharaan. Sudah berapa besar itu? Nilai segitu kalau ditotal bisa diinvestasikan lagi.

Katakanlah jika dia punya Rp 3 miliar, lebih menguntungkan yang mana: beli properti, reksa dana pasar uang atau reksa dana saham? Itu harus dibandingkan. “Raffi harus pelajari itu,” kata Mike Rini. Pendekatan harus dilakukan karena dia tidak paham portfolio investasi. Properti itu investasi jangka panjang, padahal dia harus siapkan 30% yang jangka pendek yang sifatnya cash liquidity. Dengan 70% ditempatkan di properti, 30% di cash liquidity saja, menurut Mike Rini, risikonya masih besar. Maka, di tahun kedua dia harus meminimumkan biaya investasi, dari 70% investasi di properti bisa dikonversi sebagian ke aset lain yang biayanya murah tetapi memberikan pertumbuhan tinggi.

Ini sesuai dengan ciri investasi Raffi, yang dari pengalamannya, ia puas sekali hasil investasi properti dua tahun naik harganya sangat tinggi. Karenanya, dia harus dicarikan portfolio yang sepadan, tetapi biayanya murah, aman dan naiknya bagus. Contoh saham defensif: saham yang dibeli karena perusahaannya bagus, seperti Unilever dan Astra. Bukan beli buat di-trading, jadi beli saat penawaran saham perdana (IPO) atau pemecahan saham (stock split). Maka, Raffi perlu belajar; cukup 20% untuk belajar investasi di instrumen lain.

Biaya manajer investasi hanya 1% dari dana yang dia percayakan untuk dikelola, lebih kecil dibandingkan biaya untuk mengelola dan membeli properti. Saya melihat Raffi belum punya rencana investasi, karena tidak mengukur biayanya, hanya berspekulasi dalam menaruh uangnya.(***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)