Gaya Trading Investor Milenial

//Para investor muda ini melakukan trading harian untuk mengincar imbal hasil 2-10%. Imbal hasil dari saham digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari dan mempersiapkan dana untuk membiayai kebutuhan di masa mendatang. Bagaimana taktik mereka bermain saham?//

Zola Azaria Zola Azaria. Menargetkan return 3%-5% setiap per hari

Rivan Kurniawan yang berinvestasi saham sejak 2008 berhasil memulihkan kerugian karena mengubah taktik dalam mentransaksikan saham di pasar modal. Rivan menggunakan value investing dari trading harian untuk memutar modalnya di pasar saham. Strategi ini memprioritaskan saham perusahaan yang harganya relatif murah dan kinerja fundamentalnya positif. Metode ini identik dengan strategi average down, yakni membeli saham yang prospektif ketika harganya terkoreksi.

Value investing mengincar capital gain dalam jangka menengah-panjang. Rivan melakukan hal ini sejak akhir 2012. Pria kelahiran 30 tahun silam ini memperoleh imbal hasil dengan membeli saham yang salah harga. Saham yang salah harga itu memperhitungkan berbagai faktor, antara lain kinerja bisnis perusahaan mencetak laba dan harga wajar sahamnya. Contohnya, lanjut Rivan, saham PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (berkode ULTJ) yang dibeli pada awal 2013 di harga Rp 300. Menurutnya, harga saham Ultra Jaya cukup murah serta di bawah harga pasar apabila melongok data keuangan dan bisnisnya yang cemerlang. Ia menambah kepemilikan di saham ini dalam beberapa periode. Lantas, ia menjual saham Ultra Jaya ketika harganya melonjak menjadi Rp 700 yang tercapai dalam tempo setahun.

Rivan menyabet imbal hasil yang maksimal lantaran konsisten menerapkan strategi value investing ini. Baginya, prinsip value investing diibaratkan menabung saham dan mengambil aksi profit taking ketika harganya naik berlipat ganda. Hal ini dipraktikkan ketika ambil untung dari 3-4 saham lainnya, misalnya saham PT Aneka Tambang (Persero)Tbk. (ANTM) dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). Saham Antam, misalnya, dibelinya pada 2016 seharga Rp 300 dan dijual pada level di harga Rp 700. Di tahun yang sama, saham Medco seharga Rp 700 dikoleksi Rivan. Dalam jangka waktu 10-12 bulan, ia melepasnya ketika harganya naik menjadi Rp 1.800. Alhasil, nilai asetnya kian melambung tinggi. “Nilai aset saya di saham sekitar Rp 1 miliar di akhir 2018,” ujar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia ini.

Taktik berbeda ditempuh Zola Azaria. Lajang kelahiran Padang, Sumatera Barat, 22 tahun silam ini nyaman dengan strategi hit and run dalam mentransaksikan sahamnya. Zola menargetkan return sebesar 3-5% setiap hari. Modal awalnya Rp 10-an juta ketika membuka rekening efek di PT Mandiri Sekuritas pada 2013. Ia membeli saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). “Saya trading harian, waktu itu belum ngerti fundamental, hanya mengadalkan insting dan ngerti sedikit analisis teknis seperti candle stick,” ujar Zola. Ia jual-beli 3-4 saham dan mengambil cuan 3-5% di setiap saham per harinya.

Zola yang kala itu masih berkuliah di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, menggunakan return saham untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah di Jakarta. Maklum saja, ia perantauan lantaran orang tuanya tinggal di Padang. “Kalau uang pendaftaran kuliah dibayarkan orang tua, seterusnya saya hidup mandiri membiayai hidup di Jakarta yang sebesar Rp 8 juta-10 juta setiap bulannya,” tutur wanita yang masih lajang ini. Ia memenuhi kebutuhannya dari keuntungan trading saham dan honor sebagai pekerja paruh waktu (freelance).

Zola yang baru-baru ini menggondol gelar sarjana dari Jurusan Akuntansi Ubinus mengambil gain untuk diputar kembali ke saham lain. Saham unggulan dan lapis kedua yang harganya murah dia incar. “Dalam sehari, rata-rata bisa dapat untung Rp 1 juta-2 juta dari gain di lima saham,” ungkapnya. Ia mengambil cut loss di level 2% apabila harga saham yang dimilikinya memberi sinyalemen negatif.

Diversifikasi Aset

Guna menekan risiko, Zola menyebar asetnya yang masing-masing sebesar 50% untuk trading harian dan investasi jangka panjang di 2-3 saham. Investor lainnya, Suherman (32 tahun), menempuh strategi yang hampir mirip dengan Zola. Herman lebih banyak mengalokasikan asetnya untuk investasi jangka panjang. Porsinya 60-80%, tergantung pada kondisi pasar. Sisanya untuk trading harian (20-40%).

Suherman Suherman. "Di pekan kedua Januari 2018, aset saya naik sekitar Rp 153 juta"

Berkat rajin trading, aset Herman pada awal 2017 naik menjadi senilai Rp 70 juta, atau meroket sebesar 775% dari modal awal sebesar Rp 8 juta ketika pertama kali trading saham di tahun 2010. “Di pekan kedua Januari tahun 2018 ini, aset saya naik sekitar Rp 153 juta,” ujar Herman yang berprofesi sebagai satpam di Kantor Cabang Bank Mandiri Bandung ini. Sepanjang tahun lalu, ia mendapatkan imbal hasil 50-60%.

Menurut Herman, periode Desember-Mei adalah momentum baginya untuk meningkatkan porsi asetnya di transaksi harian. Porsinya mencapai 40% dari jumlah total portofolionya. Periode itu. lanjutnya, adalah momentum untuk memanen untung karena harga saham cenderung membubung cukup tinggi setelah perusahaan beramai-ramai mengumumkan kinerja keuangan positif di tahun sebelumnya. Setelah Mei, ia agak mengerem pedal gas lantaran porsi trading harian dikurangi menjadi 20%. Pada pekan kedua Januari tahun ini ia menjaring untung. Antara lain, mencetak gain dari saham PT Gas Negara (Persero)Tbk. (PGAS), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), dan produsen beras, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. (AISA).

Saham Tiga Pilar dibeli pada Rp 530 serta dijual ketika naik ke level Rp 615. “Saya dapat untung Rp 3 juta,” tuturnya. Imbal hasil yang diakumulasikan Herman dari tiga saham tersebut mencapai Rp 10 juta dalam dua hari. Ia mentransaksikan saham itu di Mandiri Sekuritas Online Trading (MOST), fasilitas trading online yang disediakan Mandiri Sekuritas untuk nasabahnya. Zola juga menggunakan aplikasi MOST untuk memperlancar upayanya mencetak imbal hasil yang maksimal.

Zola dan Herman disiplin untuk merealisasi keuntungan dan cut loss. Kalau harga saham turun sekitar 1%, Herman buru-buru mengambil cut loss agar kerugiannya tidak terlalu besar. Baru-baru ini, ia merugi dari saham PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA). Ia terpaksa melepas saham Surya Semesta di harga Rp 510, padahal ia membelinya di level Rp 520.

Berbicara kerugian, Zola pada 2014 pernah tersandung di saham PT Saranacentral Bajatama Tbk. (BAJA). “Saya beli BAJA di Rp 600, sekarang turun di harga Rp 100. Dana saya nyangkut selama empat tahun di saham ini,” kata model iklan salah satu merek telepon seluler ini. Sambil tersenyum ia mengatakan, masih berharap saham Bajatama akan naik ke depan. Bagi investor, pengalaman merugi niscaya dijadikan pengalaman berinvestasi di periode berikutnya.

Rivan Kurniawan Rivan Kurniawan. Menggunakan value investing untuk memutar modalnya di pasar saham

Anggapan ini setidaknya dijalani Rivan tatkala merugi Rp 300 juta di tahun 2012. Ia terpaksa menelan pil pahit lantaran menerapkan trading harian yang cenderung mengabaikan aspek fundamental dan makroekonomi. Ia menggunakan fasilitas margin trading untuk membeli saham PT Bumi Resoures Tbk. (BUMI) di kala itu. “Saya terlalu greedy melihat harga saham Bumi Resources yang murah, tapi tidak melihat tren penurunan harga komoditas,” tuturnya. Fasilitas margin trading dari perusahaan sekuritas memberikan pinjaman kepada investor. Agunannya adalah saham si investor.

Rivan diberi pinjaman Rp 300 juta untuk menambah kepemilikannya di saham itu. Akan tetapi, saham BUMI pada pertengahan 2012 melorot di level Rp 50. Asetnya di saham PT Astra International Tbk. (ASII), Telkom, dan PT XL Axiata Tbk. (EXCEL) dijual paksa (force sell) karena ia tidak mempu membayar pinjaman dari margin trading itu. Dananya ludes dan menyisakan 20% dari jumlah modal sekitar Rp 300 juta.

Itu pengalaman berharga selama Rivan aktif menjadi trader harian di periode 2008-12. Ia mengawali kiprahnya di pasar saham pada 2008. Modalnya Rp 5 juta yang dititipkan ke rekening efek milik temannya. Setahun berikutnya, ia membuka rekening di PT Danareksa Sekuritas. Saat remaja lain seusianya gemar jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, Rivan malah kesengsem melakukan jual-beli saham. Ketika sudah bekerja di Grup Astra di tahun 2009, ia menyisihkan 30-40% gajinya untuk transaksi saham. Ada 3-4 saham yang pernah diperjualbelikan dalam satu periode, antara lain saham Astra, Perusahaan Gas Negara, dan BCA. “Saya waktu itu menjualnya ketika naik 8-10%,” ungkapnya.

Selama 2009-11, aset Rivan naik tiga kali lipat karena ditopang sentimen positif dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memantul kembali (rebound). Pada masa itu, ia mengalokasikan asetnya untuk trading di saham lapis kedua yang porsinya sebesar 70% dan blue chip 30%. Nilai asetnya berkembang biak, yakni sekitar Rp 300 juta di tahun 2011. Ia mengubah haluannya ke metode value investing setelah memetik pengalaman merugi di tahun 2012 itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, Rivan mulai memperdalam analisis fundamental dan teknis untuk menghitung valuasi harga suatu saham serta konsisten menggunakan metode value investing. Berkat cara ini, pada 2017 ia menuai untung dari saham PT KMI Wire & Cable Tbk. (KBLI) yang dibelinya pada harga Rp 286, lalu dijual enam bulan kemudian ketika naik di harga Rp 550. Contoh berikutnya, ia mengail untung ketika menarik untuk saat harga saham PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi Rp 2.300 dari Rp 800 ketika dibeli Rivan pada April-Mei 2017. “Saya mengambil untung secara bertahap, istilahnya scaling out, ketika membeli strateginya juga sama, yang dinamakan scaling in. Saya menjual saham itu bertahap, sebanyak 3-4 kali jual,” tutur inspirator investasi yang mendirikan pelatihan investasi untuk investor ini. Sejak 2012, bapak seoang anak ini konsisten mencari saham yang harganya murah dan kinerja keuangannya kinclong.

Selain saham yang porsinya 60% dari jumlah total portofolionya, Rivan mengalokasikan dana untuk berinvestasi di emas dan obligasi sebesar 10%, serta menyediakan dana cadangan 30%. Zola dan Herman berencana mempertimbangkan diversifikasi aset di instrumen investasi lainnya. (*)

Riset: Hendi Pradika

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)