Paul N.Janelle: Tahun 2012 Merupakan Rekor Kinerja Sampoerna

Dalam SWA100 2013, jumlah perusahaan yang mencetak WAI positif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun ini (berdasarkan perhitungan WAI selama periode 2008-2012), jumlah perusahaan yang mencetak WAI positif hanya 40 perusahaan, sedangkan tahun sebelumnya 46 perusahaan. Sebelum dilakukan pemeringkatan, terlebih dahulu dipilih 100 perusahaan berkapitalisasi terbesar per 31 Desember 2007.

Dari perusahaan yang mencetak WAI positif itu, HM Sampoerna berada di posisi puncak dengan nilai WAI Rp 145,32 triliun (tahun lalu Rp 112,622 triliun). Kapitalisasi pasar HM Sampoerna, dalam periode 2007-2011 bertumbuh 302,06%, sedangkan jika dihitung pada periode 2008-2012, kenaikan nilai kapitalisasi pasarnya mencapai 418,86%.

Sayangnya, saham HM Sampoerna yang dipegang publik sangat kecil, yakni sekitar 2,5%, sedangkan 97,5% dikuasai Philip Morris. Ini artinya, Philip Morris yang menangguk untung dari kenaikan nilai perusahaan tersebut. Perusahaan yang berada di lima besar tidak terjadi perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Urutan selanjutnya setelah HM Sampoerna dan Astra International adalah Gudang Garam, Bank Central Asia, dan Unilever Indonesia (sama seperti tahun lalu). Berikut wawancara via email Rosa Sekar Mangalandum dengan Paul Norman Janelle, Presiden Direktur H.M. Sampoerna.

Bagaimana HM Sampoerna memperlakukan pemegang saham publik yang jumlahnya sangat kecil (2,5%)? Apakah mereka juga mendapatkan hak-hak semestinya sebagai pemegang saham publik?

Semua pemegang saham Sampoerna mendapatkan hak-hak yang sama sebagaimana ditetapkan Bursa Efek Indonesia, yakni diberi informasi tentang kinerja keuangan dan bisnis perusahaan, pengumuman dan informasi yang diwajibkan, RUPS, dan penerimaan deviden.

Terkait penghitungan Wealth Added Index (WAI) 2013, HM Sampoerna mencatat nilai tertinggi. Artinya, return yang dihasilkan lebih dari cost of equity yang ditanggung oleh HM Sampoerna. Apa yang dilakukan oleh HM Sampoerna untuk membuat saham-sahamnya ini tetap menarik bagi investor, meskipun jumlahnya terhitung kecil?

Saya yakin, keunggulan organisasi Sampoerna berikut kekuatan pemasaran dan penjualan bisa mempertahankan profitabilitas, pertumbuhan saham, dan volumenya di masa mendatang, sesuai dengan peluang dan kekuatan yang dihadapi Sampoerna.

Per 31 Desember 2012, kapitalisasi pasar HM Sampoerna mencapai Rp 262,54 triliun, terbesar kedua setelah PT Astra International. Apa saja yang dilakukan oleh HM Sampoerna sehingga kapitalisasi pasarnya naik secara signifikan?

Penilaian (valuation) bursa saham tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan terbuka lain di BEI sebab jumlah saham Sampoerna yang tersebar di bursa masih sedikit.

Tahun ini 2013, kapitalisasi pasar HM Sampoerna ditargetkan mencapai berapa triliun, dan seberapa besar target lima tahun ke depan?

Terkait kapitalisasi pasar dan pemegang saham, PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) sudah puas dengan peredaran bebas (free float) sahamnya di BEI. Dan tidak melihat kebutuhan untuk menambah peredaran bebas sahamnya dan tidak berencana memperbanyak ataupun mengurangi peredaran bebasnya dalam waktu dekat.

Bagaimana strategi bisnis yang dijalankan HM Sampoerna, agar perusahaan ini selalu bisa memberikan value yang makin tinggi kepada para pemegang sahamnya, termasuk pemegang saham publik?

Mengenai strategi dan kinerja perusahaan, seperti perusahaan terbuka lainnya, Sampoerna berupaya mengelola bisnis sedemikian rupa agar selalu meningkatkan nilai di mata pemegang saham.

Bagaimana caranya agar perusahaan terus mampu menghasilkan keuntungan dan margin keuntungan yang tinggi? Tolong jelaskan pertumbuhan kinerja keuangannya dalam lima tahun terakhir.

Tahun 2012 merupakan tahun rekor buat Sampoerna. Maksud saya, dari segi pendapatan, laba bersih, dan volume. Tentu ini kabar baik bagi para pemegang saham. Kami pun mengumumkan pada mereka laba bersih per saham (net income per share).

Kesuksesan ini kami capai di tengah dua tantangan, yakni tajamnya persaingan dan mahalnya harga bahan mentah, terutama tembakau. Untuk pangsa pasar (market position), perusahaan ini masih memimpin pasar dengan porsi 35,6% share (menurut data Nielsen). Yang menjadi pemimpin adalah merek Sampoerna A dan U Mild meskipun di tengah pertumbuhan pesat segmen rokok kretek buatan mesin, Low Tar Low Nicotine (SKM LTLN). Dalam segmen sigaret kretek tangan (SKT), volume penjualan bertambah 10,1%, terutama didorong oleh merek Dji Sam Soe dan Sampoerna Kretek.

Apa saja corporate action yang dilakukan HM Sampoerna dalam lima tahun terakhir yang berdampak pada peningkatan nilai perusahaan (corporate value)?

Kami punya lima rumpun merek inti yang tergolong 10 merek teratas di Indonesia. Ada Sampoerna A, Dji Sam Soe, Marlboro, Sampoerna Kretek, dan U Mild. Sampoerna telah sukses besar meningkatkan volume penjualan dan pangsa pasar merek-merek tersebut di Indonesia berkat investasi dan SDM yang berbakat. Hal ini memperkuat kepemimpinan kami sebagai perusahaan dengan pangsa pasar terbesar di industri kami dan mengokohkan posisi kami untuk terus mencapai pertumbuhan seiring perusahaan kami menginjak usia satu abad.

Selama lima tahun terakhir, jumlah pembayaran cukai Sampoerna naik hampir dua kali lipat. Dan pada tahun 2012, Sampoerna membayar sekitar Rp27,1 triliun (di luar pajak penghasilan dan PMID). Cukai berkontribusi 9,7%* terhadap penerimaan negara tahun 2012 (*sumber: http://www.ekon.go.id/news/2013/01/08/realisasi-pendapatan-negara-2012capai-rp-13357-triliun).

Sampoerna juga selalu berkontribusi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan membuka peluang pendidikan di masyarakat sekitar lokasi operasional perusahaan dan masyarakat sekitar sumber pasokan tembakau kami.

Untuk keperluan belanja modal (capex), bagaimana strategi financing yang dijalankan agar cost of equity-nya tetap rendah?

Investasi sebesar Rp5,2 triliun yang ditanamkan perusahaan induk kami PMI di Indonesia pada tahun 2005 mencerminkan penilaian yang sangat positif terhadap potensi Indonesia. Investasi kami di Indonesia adalah bagian dari kesuksesan kami dan kami berencana untuk terus berinvestasi.

Bagaimana perusahaan mengelola ekspektasi para investor/pemegang saham publik, sehingga mereka tetap optimis terhadap masa depan perusahaan?

Saya yakin, pencapaian kami tahun 2012 lalu menunjukkan beberapa hal yang meyakinkan. Salah satunya adalah portofolio merek kami yang kuat macam Dji Sam Soe yang sangat ikonik. Dji Sam Soe sudah berusia 100 tahun kini. Merek tersebut pun masih memimpin segmen premium SKT di pasar. Ada pula merek A Mild dan Sampoerna Kretek yang dikenal juga sebagai merek rokok terbaik di Indonesia.

Aspek-aspek apa saja yang dipertimbangkan untuk memberi muatan nilai lebih pada Sampoerna di mata investor?

Sampoerna juga memberikan kontribusi besar kepada ekonomi Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja dan pembayaran cukai. Maka, Sampoerna menjalankan upaya CSR dengan fokus pada pengentasan kemiskinan, pelestarian lingkungan, penanganan darurat (dan pengurangan risiko) bencana, serta mendukung pendidikan bermutu.

Sebagai upaya CSR pengentasan kemiskinan, Sampoerna mendirikan Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna, di mana sebanyak 21.000 orang dan 3.000 usaha kecil telah mengikuti pelatihan sejak tahun 2007.

Sampoerna juga mendukung sistem intensifikasi beras (system of rice intensification) yang telah diterapkan di Sukorejo, Pasuruan, Jember, Probolinggo, Lumajang, Bandung, Tasikmalaya dan Karawang, dengan melibatkan 3.000 orang petani dan buruh tani pada lahan seluas lebih dari 1.100 hektare.

Sebagai upaya CSR pelestarian lingkungan, pada tahun 2012, Sampoerna melakukan penanaman 99.000 pohon, termasuk 70.000 pohon bakau di Surabaya.

Salah satu bentuk kontribusi Sampoerna dalam CSR pendidikan pada 2012, Sampoerna memberikan lebih dari 2.450 bea siswa dan pinjaman siswa melalui Putera Sampoerna Foundation (PSF) dan pengembangan keterampilan bagi lebih dari 57.000 guru sejak tahun 2006.

Pada tahun 2012, tim Sampoerna Rescue (SAR) genap telah sepuluh tahun berkiprah dalam penanganan bencana di Indonesia dan terus memainkan peran aktif dalam tanggap bencana. Pada tahun 2012, Pusat Pelatihan Sampoerna Search & Rescue (SAR) diresmikan di Pasuruan, Jawa Timur sebagai kelanjutan pengalaman tim Sampoerna Rescue dalam memfasilitasi pelatihan tanggap darurat bencana dan upaya penanggulangan bencana kepada puluhan ribu warga di seluruh Indonesia. ยง

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)