Kelas Menengah Menggandrungi Unitlink

Kelas menengah belakangan banyak yang memilih produk investasi yang digabungkan dengan asuransi atau unitlink. Bahkan para TKI di luar negeri pun mulai ada yang bertanya-tanya mengenai produk investasi seperti reksadana. Bagaimana kecenderungan investasi kelas menengah kita? Riza Zulkifli, Senior Vice President Mass Banking Bank Mandiri, menuturkannya kepada Nimas Novi Dwi Arini:

mandiri

Mengapa bank secara aktif melakukan promosi untuk beberapa produk asuransi namun tidak dalam bentuk reksadana?

Kalau menurut saya ini tidak mutlak. Mereka, kelas menengah, memilih produk investasi asuransi saja, malah sekarang ini lebih banyak produk-produk yang di-bundling, malah asuransi itu menjadi sebuah pelengkap untuk memastikan sebuah investasi itu berjalan dengan baik. Jadi, sekarang malah sudah mulai produk-produk bundling dan ini mereka sudah familiar. Produk bundling ini malah lebih baik daripada yang single produk saja yang kita jalankan. Jadi, ini memang produk-produk investasi yang lain digabungkan dengan asuransi ini akan lebih menyakinkan.

Terkait dengan edukasi apakah ada kendala dalam melakukan edukasi untuk kelas menengah?

Kembali lagi kepada simplifikasi suatu produk yang dikeluarkan. Sebenarnya utuk produk investasi memang tidak simpel-simpel banget. Ini kan ada penjelasan mengenai financial plan, hitung-hitungan, dan lainnya inilah sebenarnya yang membuat penyerapannya menjadi lama, waktu edukasi ini yang memang membutuhkan waktu yang lama dan ini dilakukan secara berulang kali. Tahapannya itu mulai dari awarness telebih dahulu lalu pada tahap ingin mencoba lalu baru ikut bergabung.

Beda dengan produk e-toll mungkin sekali saja langsung bisa bergabung. Tapi kalau produk investasi memang berulang dan membutuhkan waktu lebih, 5-6 kali dan ini harus face to face. Karena mereka akan banyak bertanya mengenai risiko dan lainnya, ini tidak bisa hanya dilakukan lewat media iklan karena tidak komprehensif.

Edukasi seperti ini apakah hanya dilakukan pada nasabah prioritas saja?

Edukasi seperti ini memang kita lakukan ke semua nasabah-nasabah kita yang memang berminat pada produk ini, tapi memang untuk nasabah prioritas ini dilakukan lebih sering tapi bukan berarti menengah tidak masuk ke dalam sana karena pada dasarnya mereka sekarang sudah banyak menanyakan juga. Contohnya nasabah kita TKI yang ada Hong Kong menanyakan reksadana. Kita boleh lah mengatakan mereka hampir menengah, tapi mereka saja sudah menanyakan hal ini dan aware kepada produk investasi kita.

Ke depannya produk-produk ini akan berkembang seperti apa?

Khusunya produk investasi intinya kita melihat kepada customer, ini basic-nya pada kebutuhan customer. Nasabah itu umumnya ingin menjadi lebih wealthy seperti itu. Sedangkan produk-produk ini kan ada juga produk-produk yang konvensional yang standarnya begitu-begitu saja. Misalnya saja tabungan, deposito  yang reguler tapi kan ada produk yang di-bundeling dengan produk-produk lainnya memberikan return yang bagus. Ini yang sebenarnya yang penting , produk-produk seperti ini lebih aman tapi tetap harus mengetahui apa risiko-risikonya.

Masa depan orang sebenarnya sudah melek untuk produk-produk investasi, kalau sekarang kan digencarkan di media-media itu prodak-prodak investasi khususnya reksadana dan lainnya. Saya melihat arahnya ke sana adalah karakter masyarakat yang sudah mengarah ke produk-produk investasi. Kami sebagai bank melihat kebutuhan masyrakat secara finansial yang bisa dipenuhi, kami di sini memfasilitai produk-produk yang seperti itu.

Bagaimana Anda melihat perilaku kelas menengah di masa mendatang dalam hal investasi?

Saya lihat ya mereka lebih kepada mendapatkan return yang pasti. Return besar dan pasti jadi kembali lagi produk itu tergantung kepada bundel yang dilakukan oleh masing-masing industri baik itu asuransi  maupun reksadana. Mereka-mereka ini sudah menghitung atau mengkalkulasi return mana yang paling besar.

Kalau saya sendiri sekarang ini orang masih mengejar asuransi tapi tidak tertutup kemungkinan reksadana yang akan dikejar. Kalau sekarang mungkin mereka memilih reksadana penghasilan tetap padahal yang return-nya tinggi itu malah yang reksadana saham. Ya tapi ini kan ada risiko yang harus mereka manage. (***)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)