Kiat Berinvestasi Saham Ala Selebgram Tiqasya

Model, dokter kecantikan, influencer fashion hijab Athieqah Asy-Syahidah atau yang lebih akrab disapa Tiqa mencuri perhatian khalayak terutama kaum hawa dengan paras dan gaya berpakaiannya yang menarik. Apalagi foto-fotonya kerap mengisi laman Hijup, marketplace hijab Indonesia karena ia didapuk menjadi salah satu model.

Baru-baru ini, tidak hanya foto-foto fashion saja yang berderet di Instagramnya, tetapi juga update soal investasi. Wanita yang sudah berkeluarga ini memang sedang rajin membagikan pengalaman sekaligus edukasi investasi kepada followers-nya. Ia bahkan menjadi influencer investor terbaik dalam program Investor Incubator 2020 yang diadakan BEI. Tapi siapa sangka kalau Tiqa baru mendalami pasar modal pada pertengahan 2020?

Dalam wawancara eksklusif dengan SWA Online, Tiqa mengaku tidak pernah menaruh perhatian pada berita ekonomi, apalagi soal pasar modal. Yang menginspirasinya untuk berinvestasi justru sang suami. Memiliki suami yang menggeluti dunia saham sejak kuliah membuat Tiqa merasakan adanya perbedaan ketertarikan topik saat mereka mengobrol. Dari situlah wanita tersebut memberanikan diri belajar pasar modal.

 “Di awal-awal obrolan, kami banyak roaming-nya. Akhirnya sedikit demi sedikit saya jadi tertarik dengan dunia saham tapi belum pernah benar-benar belajar mendalaminya, walaupun niat awalnya supaya obrolan dengan suami lebih nyambung saja,” ceritanya.

Niat untuk mengimbangi obrolan sang suami pun bersambut. Pada pertengahan 2020, Tiqa diajak bergabung oleh salah satu rekan sesama influencer dalam program Investor Incubator 2020. Ia bersama 7 orang rekan influencer terpilih lainnya mengikuti beberapa kelas tentang pasar modal. Sejak saat itu, ketertarikannya melambung, terutama di pasar modal syariah.  Haluan pun berubah, bukan hanya bisa mengimbangi obrolan sang suami, tetapi juga untuk mencapai tujuan keuangan serta membantu menyebarluaskan literasi investasi lewat media sosialnya.

Menjalani profesi sehari-hari yang akrab dengan media sosial tidak lantas membuat Tiqa melupakan betapa pentingnya mengikuti perkembangan dan volatilitas pasar saham. Wanita yang sudah dikaruniai seorang putra ini bercerita bahwa berita finansial dan ekonomi telah menjadi makanan sehari-harinya semenjak aktif berinvestasi. Tiqa pun rutin memantau akun sahamnya di pagi dan sore hari. Bahkan pasar modal membuka jejaring pertemanannya ke kalangan yang lebih luas lagi, termasuk menjadi moderator dan narasumber untuk acara-acara yang dihelat oleh institusi pemerintahan.

Sebagai investor yang belum lama berinvestasi di pasar saham, Tiqa mengaku kerap menemui kendala. Salah satunya adalah dalam memahami istilah-istilah pasar saham dan analisa keuangan secara fundamental. Tapi tentu saja, suami adalah pertolongan pertama dalam mempelajari saham, ditambah dengan seringnya ia mengikuti pelatihan pasar modal.

Tiqa mempercayakan pengelolaan sahamnya pada Mandiri Sekuritas dengan aplikasi online trading MOST. Lebih spesifik, ia menggunakan aplikasi MOST syariah. Menurutnya, Mandiri Sekuritas sudah memiliki reputasi yang baik dan aplikasi yang user friendly. Yang terpenting MOST memiliki sistem online trading syariah.

Berbicara soal trading, Tiqa mengaku bukan investor trading. Ada saham yang disimpannya untuk jangka panjang, ada pula yang aktif diperjualbelikan.

“Berinvestasi saham juga tidak selalu semuanya manis, apalagi saya memulai di masa awal pandemi di mana kondisi pasar sedang tidak stabil. Kerugian yang pernah saya alami sekitar 7-10 persen karena saya batasi di kisaran itu. sedangkan keuntungan terbesar yang pernah saya dapat dari berinvestasi di salah satu saham adalah sampai 150 persen,” ungkapnya.

Sudah merasakan pengalaman lika-liku pasar, Tiqa belajar bahwa untuk memulai berinvestasi di pasar saham adalah start small dengan menggunakan uang dingin tentunya. Ketika sudah nyaman dan lebih mengerti mengenai investasi di pasar saham, barulah menambah jumlah investasi.

Terus belajar dan mengetahui perkembangan terkini perusahaan adalah cara Tiqa agar tidak terperosok dalam keputusan investasi yang salah. Laporan keuangan, corporate action, analisa teknis, semua itu dipelajarinya agar bisa paham tentang fundamental saham.

“Tentunya saya masih terus belajar dan banyak berdiskusi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman di bidang ini. Saya juga selalu menetapkan target level jual saya sendiri, dan berusaha untuk disiplin dalam timeline penjualannya jika memang target tersebut sudah tercapai. Don’t be greedy!” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)