Kinerja Ciamik, Tirta Mahakam Optimistis Capai Target Pendapatan Rp900 Miliar

PT Tirta Mahakam Resources Tbk. (TIRT) tahun ini menargetkan pendapatan senilai Rp900 miliar, meningkat 21,48% dari pendapatan tahun lalu yang senilai Rp740,84 miliar. Perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan tersebut merasa optimis bisa mencapai target tersebut, sebab kinerja mereka sepanjang kuartal pertama 2014 cukup menjanjikan, dengan membukukan pendapatan senilai Rp245,14 miliar atau 27,24% dari target sepanjang 2014.

PE TIRT 2013-2014

Begitu pula dengan laba bersih yang ditargetkan bisa menembus angka Rp100 miliar pada akhir tahun ini. Jika itu tercapai, maka menjadi pencapaian yang signifikan, mengingat tahun lalu perseroan menderita rugi bersih Rp46,28 miliar.

“Kami bangga dengan pencapaian di kuartal pertama 2014, karena sebelumnya kami membukukan kerugian dalam dua tahun terakhir. Sejak saya diangkat sebagai Dirut perseroan tahun lalu, kami telah dan akan terus menjalankan rencana bisnis tahunan, yakni antara lain pemenuhan bahan baku logs, perbaikan produksi dan produk, diversifikasi produk dan pasar, serta penutupan dan penjualan aset pabrik di Gresik," kata Djohan Surjaputra, Direktur Utama TIRT.

Firman G. Munthe, Senior Manager Finance & Accounting Division TIRT, menambahkan bahwa pada semester pertama 2014 perseroan sudah mampu membukukan laba bersih senilai Rp43,16 miliar atau hampir separuh dari target mereka tahun ini.

“Laba bersih yang ditargetkan Rp100 miliar pada akhir tahun ini, bukan dari penjualan aset (pabrik Gresik), melainkan dari pendapatan kita. Penjualan (pabrik) Gresik itu tidak akan berpengaruh kepada kinerja kami secara keseluruhan. Ini ditutup, karena harga produk yang diproduksi di pabrik itu tidak bisa dijual tinggi, tapi harga plywood lagi tinggi,” papar Firman.

Firman menuturkan bahwa penutupan pabrik di Gresik itu juga disebabkan sangat turunnya permintaan dari pasar AS, Eropa dan Jepang terhadap produk mereka yang diproduksi di pabrik tersebut. Dengan kondisi ini, TIRT sudah mengalihkan fokus produksinya kepada kayu tipis yang mempunyai ketebalan sekira 2,4 mm, yang biasa digunakan untuk pelapis kayu meja dan lemari.

“Kita bisa kompensasi penurunan permintaan dari mereka itu, karena kita mainnya di tipis. Awalnya yang tipis itu kecil (porsinya), hanya 5% dan sekarang mau dikejar ke 20%, yang mana ini diharapkan terjadi di semester pertama ini,” ungkap Firman.

Penjualan pabrik di Gresik tersebut juga telah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan, yang mana pabrik itu itu dijual dengan nilai Rp90,7 miliar. Serta ada juga persetujuan atas penjualan tanah dan bangunan senilai Rp44,2 miliar. “Dana hasil penjualan itu rencananya akan kami gunakan untuk modal kerja bagi pabrik kami di Samarinda sebesar Rp60 miliar, juga untuk pelunasan sebagian pinjaman dari Bank DBS sekitarra Rp30 miliar,” jelas Firman. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)