Pengalaman Ikke Nurjanah Mencicipi Beragam Produk Investasi

Ikke Nurjanah, biduanita dangdut, berinvestasi di instrumen investasi berisiko moderat hingga produk investasi berisiko tinggi. Pelantun lagu Terlena ini di 2009 berinvestasi di pasar valuta asing (valas) atau foreign exchange (forex). Dia menitipkan modalnya kepada sahabat untuk dikelola sedemikian rupa agar mendapatkan imbal hasil tinggi dalam tempo yang relatif pendek. Akan tetapi, Ikke terlalu lama memutar modalnya di pasar valas karena tak mau mengambil risiko berinvestasi yang cukup tinggi walau memberikan imbal hasil maksimal. “Forex itu high risk, high return. Saya sebentar saja  berinvestasi di valas,” ucap Ikke di sela-sela acara Stock Sound di Jakarta, Selasa (28/2/2017).

Lantas dia mengalihkan investasinya ke produk investasi yang risikonya relatif moderat. Dia membeli Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan sukuk ritel. “Saya beli ORI dan sukuk ritel sejak 3-4 tahun yang lalu,” ujar Ikke. Di saat ORI dan sukuk ritelnya itu jatuh tempo, maka Ikke memperoleh modal pokok plus kupon. Ikke sesekali menarik kupon di periode tertentu untuk memenuhi kebutuhan tertentu, misalnya menambah modal untuk berbisnis restoran dan karaoke.

Ikke Nurjanah mengajak penggemarnya Irvin Avriano, seorang penggemarnya untuk berduet di panggung Stock Sound, Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Foto: Vicky Rachman/SWA).

Ikke memiliki restoran di Bandung yang didirikan sejak beberapa tahun silam. Sedangkan karaoke dirintis pada akhir tahun lalu. “Nama karaokenya My Boss, lokasi di kawasan Grogol, Jakarta. Tahun ini saya berencana menambah dua cabang di Jakarta dan satu cabang di Bandung,” ungkap diva dangdut kelahiran Jakarta,18 Mei 1974. Bisnis yang dimiliki Ikke itu dikelola oleh tenaga profesional. Sedangkan produk investasi berbasis produk keuangan, Ikke didampingi oleh penasehat keuangan pribadinya.

Si perencana keuangan ini dipercaya Ikke untuk memberikan konsultasi keuangan dan investasi. Sebagai contoh, Ikke membuka rekening efek sejak bulan lalu untuk berinvestasi di pasar saham. “Saya juga mendapat pengetahuan mengenai saham dari direksi Bursa Efek Indonesia. Modal berinvestasi itu ternyata tidak harus punya duit banyak nilainya,” ungkap ibu dari Siti Adia Kania ini. Ia menyisihkan 10% dari jumlah penghasilannya untuk membeli saham. Saham yang dibelinya adalah saham perusahaan barang-barang konsumsi. “Fluktuasi pasar saham prospektif untuk investasi jangka panjang,” pungkasnya. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Empat IKM di Waru Resmi Masuki Supply Chain AHM

Dalam membangun bisnis, kita harus menjalankan falsafah telur. Bahwa telur yang pecah dari luar akan menghasilkan kematian, sedangkan telur yang...

Close