Revolusi Emil Salim Berhenti Hari Sabtu dan Minggu

Revolusi Berhenti Hari Minggu. Demikian judul buku rangkuman tulisan sahabat Emil Salim sebagai kado ulang tahun ke-70. Judul tersebut terinspirasi oleh tingkah Ketua Dewan Pertimbangan Presiden ini di masa pacaran. Emil muda adalah aktivis tak kenal lelah. Anehnya, setiap hari Minggu tak satu kegiatan pun ia hadiri. Usut punya usut, Emil muda memanfaatkan hari Minggu untuk pacaran. Emil Salim kini adalah kakek empat cucu. Bersama mantan kekasih yang kini jadi istrinya, Roosminnie Roza Salim, revolusi berhenti hari Sabtu dan Minggu. Berikut petikan obrolan Roosminnie dengan reporter SWA Online, Tika Widyaningtyas, usai selebrasi ulang tahun MarkPlus ke-22.

Apa pendapat Ibu tentang banyaknya wanita sekarang yang berlaga di kancah bisnis?

Bagus ya. Saya senang kalau wanita mulai ke arah bisnis yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Itu kan berarti emansipasi wanita berhasil. Apalagi situasi sekarang sudah lebih baik ya dari jamannya Pak Harto dulu. Saya pribadi mendukung wanita untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan pria, yang penting sesuai dengan kodrat wanita saja. Ya jangan yang keras seperti main tinju.

Ibu tidak tertarik untuk berbisnis juga?

Saya malah tidak pernah terpikir ke situ. Saya ini tidak punya bakat bisnis. Selama 53 tahun pernikahan, Bapak (Emil Salim) juga tidak pernah sekalipun menyuruh saya bekerja. Saya memang spoiled sekali sama Bapak. Sempat khawatir juga, bagaimana nanti kalau Bapak sudah tidak ada. Tapi Bapak selalu bilang, “Cari uang itu urusan saya!”.

Pak Emil kan hampir selalu jadi pejabat negara, berarti keuangan keluarga selalu baik ya Bu?

Ya tidak juga. Waktu Bapak turun dari menteri, saya sangat khawatir. Kalau Bapak tidak jadi menteri, dia dapat uang dari mana? Nanti buat belanja bagaimana? Saya khawatir, tapi Bapak itu tenang-tenang saja. Ya itu tadi, dia selalu bilang, “Cari uang itu urusan saya”. Untungnya Bapak itu pandai, ingatannya juga bagus padahal umur sudah 83. Kalau kita tidak punya uang, Bapak menulis terus dikirim ke surat kabar – surat kabar. Nah, kalau dimuat kan Bapak dapat uang. Itu yang menolong keuangan keluarga kami.

Mengandalkan honor menulis, gaya hidup apa tidak turun Bu?

Gaya hidup? Kita sih tidak terlalu bermewah-mewah ya. Saya sendiri juga tidak selalu beli barang-barang bermerk dari luar negeri. Bikinan dalam negeri kalau kualitasnya bagus, ya saya pakai. Buat apa beli tas-tas merk luar, saya juga tahu itu bikinan mana. Ini baju sama selendang juga lokal koq. Ini sulaman Bukittinggi.

Apa Ibu tidak iri dengan ibu-ibu pejabat lain atau selebritis yang suka nenteng tas-tas branded?

Sama sekali tidak. Saya senang lihat tas bagus. Tapi kalau saya memaksakan beli yang bermerek, berarti saya merusak suami saya. Nanti kalau saya minta tas merek apa yang mahal ke Bapak, terus Bapak korupsi, saya dosa donk. Tapi Bapak itu pengertian. Kalau dinas ke luar negeri, Bapak suka kasih surprise. Dia bawa oleh-oleh tas bermerek. Tapi ya tidak selalu. Pokoknya jangan maksa suami beli ini itu lah.

Wah, Ibu beruntung sekali punya suami Pak Emil!

Saya dan Bapak itu memang menjaga keseimbangan antara karir Bapak dan keluarga. Bapak yang cari uang, saya yang mengatur buat keluarga. Kita juga bukan yang terlalu sering jalan-jalan ke luar negeri, belanja-belanja. Di sini-sini saja, yang penting satu keluarga bisa kumpul. Bapak itu walaupun sibuk, setiap weekend selalu keluar sama anak-anak. Kalau sekarang sama cucu juga. Saya punya 4 cucu. Yang pertama itu Adhilina, 25 tahun. Sekarang dia kuliah di UK. Terus Betalina, 23 tahun. Nah, yang kecil-kecil ini Andata sama Anaya. Mereka 12 tahun sama 10 tahun. Kalau weekend itu kita selalu keluar bareng-bareng. Dulu kita suka ke Taman Ria, Ancol, TIM. Kalau sekarang mereka itu suka ke mal. Cucu-cucu saya suka main di Timezone. Kalau saya mengikuti mereka kan capek. Jadi ya biasanya kita ke mal, mereka main di Timezone, saya, Bapak, sama anak-anak makan sambil ngobrol-ngobrol.

Itu selalu Bu? Tiap akhir pekan?

Iya. Pokoknya hari Sabtu itu kita harus makan di luar. Sabtu, Minggu, harinya keluarga. Dari dulu kami selalu begitu.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)