Rivan Kurniawan, Menerapkan Prinsip Value Investing

Rivan Kurniawan mulai masuk ke pasar saham pada 2008, ketika usianya baru 20 tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ketika itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di kisaran 1.100-1.200-an, karena sepanjang 2008, IHSG terkoreksi sekitar 50% akibat kasus subprime mortgage.

Awal ketertarikan Rivan dengan saham bermula dari ajakan teman untuk membeli saham yang kebetulan di kampusnya, yaitu Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ada sebuah sekuritas yang baru buka. “Awalnya hanya iseng, tapi setelah makin lama dipelajari, makin menarik. Dan Puji Tuhan, dari saham bisa membayar uang kuliah sendiri sehingga tidak merepotkan orang tua. Setelah lulus kuliah, makin serius di saham, sampai akhirnya bisa memperoleh passive income dari saham,” katanya.

Apa pedoman yang digunakan untuk melakukan transaksi? “Karena saya berpegang pada prinsip value investing, saya mencari saham-saham yang salah harga alias terdiskon. Jadi, saya mencari saham-saham yang misalkan harga wajar atau nilai intrinsiknya di Rp 1.000, namun saat ini dihargai pada Rp 500 atau lebih rendah,” ungkapnya.

Intinya, Rivan berpegang pada tiga prinsip. Pertama, membeli saham yang memiliki fundamental yang baik (secara kuantitatif ataupun kualitatif), bukan saham yang lagi hype. Kedua, beli saham yang dipahami bisnisnya. Dan ketiga, beli saham ketika valuasinya sedang terdiskon.
 
Adapun pedoman untuk menjual saham, pertama, jual saham ketika harga saham telah mencapai nilai intrinsiknya (atau bahkan di atasnya). Kedua, jual saham ketika terjadi perubahan fundamental di dalam tubuh perusahaan. Ketiga, jual saham ketika ada opportunity yang lebih baik di saham lainnya.
 
Bicara frekuensi/intensitas bermain saham sebelum dan di era pandemi ini, bagi Rivan sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda, karena pendekatannya value investing, frekuensinya memang tidak sering. “Secara frekuensi mungkin melakukan evaluasi setiap minggu sekali. Dan, di situlah akan diputuskan apakah akan melakukan transaksi atau tidak,” ujarnya.

Meskipun secara frekuensi tidak berbeda jauh, yang membedakan adalah nilai transaksinya. Ketika pandemi, nilai transaksinya jauh lebih besar ketimbang saat sebelum pandemi. Hal ini karena ingin memanfaatkan kesempatan saham-saham yang dihargai diskon saat pandemi.

Untuk nilai transaksi, Rivan lebih suka metode mencicil ketimbang lumpsum dalam membeli saham. Alasannya, dalam investasi saham, sangat penting yang namanya money management. “Kalau kita lumpsum kemudian ternyata harga sahamnya turun, kita gak bisa beli lagi di harga lebih rendah karena uangnya sudah habis. Tapi kalau kita mencicil (istilahnya scaling in), kita bisa membeli lagi di harga lebih rendah ketika harga saham turun,” ungkapnya.

Nah, menjawab berapa jumlah uang rata-rata dalam setiap kali transaksi, sebenarnya berbeda-beda. Namun, kalau dirata-rata setiap mencicil beli, sekitar Rp 500 juta-1 miliar per transaksi/posisi.

“Jadi, misalkan saya mau beli saham A sebanyak Rp 2 miliar, saya gak langsung masuk Rp 2 miliar, karena kalau ternyata harga sahamnya turun, kami jadi gak siap. Tapi saya masuknya, misalkan, Rp 500 juta dulu. Nanti kalau misalkan harga saham koreksi, saya masuk lagi di harga lebih murah Rp 500 juta, dan seterusnya. Ini kalau dalam kondisi normal,” Rivan menjelaskan strateginya.
 
Namun, berbeda cerita ketika di tahun lalu. “Misalkan, kita ingin masuk ke satu saham sebanyak Rp 2 miliar. Nah, ternyata ketika kita cicil beli pertama Rp 500 juta, eh ternyata harga sahamnya koreksi cukup besar. Jika ternyata koreksinya cukup besar, saya masuk lagi sebanyak Rp 1 miliar di posisi kedua, karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan,” katanya.
 
Saat ini, investasi saham masih merupakan pilihan paling menarik bagi Rivan. Apalagi, jumlah pertambahan investor makin banyak, pertambahan emiten yang melakukan initial public offering (IPO) juga makin beragam. Ditambah lagi akan ada beberapa IPO besar di waktu yang akan datang, yang makin memberikan gairah bagi pasar saham saat ini.
 
“Selain di saham, saya juga ada invest di fixed instrument seperti obligasi. Selain itu, saya diversifikasi juga ke emas dan mata uang asing. Itu untuk paper asset-nya. Sementara untuk real asset, saya juga invest di properti. Secara persentase, saat ini portofolio investasi saham sebesar 50%-55% dari total aset,” ungkap Rivan menginformasikan. (*)
 
Dede Suryadi dan Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)