Sektor Konsumer dan Media Jadi Primadona

Setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah pada Mei lalu, yakni di level 5.000-an, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan terus mengalami penurunan. Pada penutupan perdagangan saham Kamis (22/8), IHSG tercatat melemah 1,11% ke level 4171,413.

IMG_0140Menanggapi pelemahan tersebut, Ekonom OCBC NISP, Gundy Cahyadi, menyarankan agar para investor untuk mengalihkan penempatan dananya ke saham-saham sektor konsumer dan media massa.

“Pertumbuhan jumlah emiten di sektor konsumer dan media akan terus meningkat. Dua sektor ini yang paling tepat bagi investor dalam menanggapi situasi ekonomi saat ini,” ujar Gundy.

Sementara, sektor yang harus dihindari adalah perbankan. Kondisi perekonomian saat ini menjadikan sektor perbankan paling rentan terkena dampak krisis ekonomi global yang sudah mulai masuk ke sistem perekonomian dalam negeri. Menurutnya, ekonomi di Indonesia saat ini sudah memasuki perfect storm. Di market sudah terjadi banyak guncangan.

Ada tiga faktor utama yang menyebabkan kepanikan investor di pasar modal. Pertama, kata Gundy, penetapan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2014 sebesar 6% tidak digaransi oleh pemerintah. “Faktanya, pertumbuhan investasi terus menurun dan rupiah terus melemah,” ucap Gundy.

Faktor kedua, jelas Gundy, tingginya kredit perbankan yang dikhawatirkan tidak terkendali akibat perubahan kondisi perekonomian global dan domestik. “Hal ini yang justru menjadi aneh. Pertumbuhan investasi rendah, sementara kredit perbankan malah meningkat. Sehingga muncul pertanyaan, dana-dana tersebut lari ke mana?” tanya Gundy.

Ketiga, dipengaruhi faktor klasik terkait lambannya pengembangan infrastruktur. “Selama bertahun-tahun, pembangunan infrastruktur begitu-begitu saja dan cenderung jalan di tempat. Padahal, pertumbuhan kendaraan mengalami kenaikan 20-30% per tahunnya.”

Sebagai catatan, RAPBN 2014 yang baru saja ditetapkan hanya menganggarkan dana 10% untuk infrastruktur. Padahal menurut IMF idealnya anggaran infrastruktur mencapai 30% dari keseluruhan anggaran.

Lebih lanjut Gundy mengatakan,pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada akhir 2013 sulit tercapai, mengingat pada triwulan II 2013 pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 5,8%.

Pertumbuhan ekonomi pada semester I 2013 itu pula yang menjadi alasan diturunkannya estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2013 menjadi 5,9-6,0% (YoY) dari sebelumnya 6,3% (YoY).

“Kontribusi investasi kepada pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2013 tercatat di level terendahnya sejak permulaan 2009 dan terus menurun di empat triwulan terakhir.”

Per Juni 2013, kontribusi investasi berada di bawah angka 1,5% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan kontribusi terendah yaitu pada Juni 2009 yaitu sebesar 0,5% terhadap PDB.

Satu-satunya faktor positif untuk potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam waktu dekat ini adalah kenyataan bahwa pertumbuhan konsumsi swasta masih stabil. Pertumbuhan konsumsi swasta diprediksi akan mencapai sekitar 5% di tahun 2013 ini.

Memasuki 2014, perekonomian Indonesia secara fundamental dinilai masih sangat kuat kendati banyak guncangan baik dari internal maupun eksternal. Pertumbuhan ekonomi dunia juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhansebesar 3,8%, lebih besar dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia di 2013 yang sebesar 3,1%. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)