Strategi Mengelola Portofolio Investasi di 2018

 

PT Bank Commonwealth atau Bank Commonwealth memperkenalkan Dynamic Model Portfolio, sebuah konsep investasi yang tidak hanya fokus pada perpaduan kelas aset berdasarkan profil risiko nasabah, namun juga berdasarkan risiko pasar. Singkat cerita, adalah strategi manajemen portofolo dengan rebalancing alokasi aset untuk mencapai tujan fiskal jangka panjang.

Head of Wealth Management & Retail Digital Business Bank Commonwealth, Ivan Jaya, mengatakan, jika melihat kembali tingkat pertumbuhan dari setiap kelas aset, maka secara historis menunjukkan bahwa tidak pernah ada satupun kelas aset yang secara konsisten memberikan tingkat pertumbuhan tinggi setiap tahunnya selama dua tahun berturut-turut. Data menunjukkan bahwa 3 dari 7 tahun terakhir IHSG memiliki voltalitas yang tinggi, sehingga tingkat pertumbuhannya yang diberikan di bawah deposito atau pasar uang. “Jadi jika hanya terpaku pada idiom lama dengan berinvestasi single asset pada kelas aset saham untuk mengejar tingkat pertumbuhan maka hasilnya kurang optimal,” ungkapnya.

Idealnya berinvestasi di pasar pendapatan tetap, menurut dia, merupakan strategi menurunkan risiko investasi di pasar ekuitas. Namun di Indonesia aset ekuitas dan pendapatan tetap memiliki korelasi yang tinggi dan kurang tepat bila digunakan sebagai sarana hedging atau lindung nilai. “Di sini keistimewaan dari Dynamic Model Portfolio, kita dapat berinvestasi secara dinamis berdasarkan analisis kondisi pasar untuk melakukan perubahan alokasi aset dengan objektif utama meminimalkan risiko portofolio, pada saat yang sama untuk mendapatkan tingkat pertumbuhan optimal,” ujarnya

Melalui pendekatan tersebut, Dynamic Model Portfolio akan mengumpulkan berbagai informasi pasar, memilah mana yang paling relevan untuk setiap nasabah berdasarkan profil risiko dan tujuan investasi mereka, kemudian memberikan saran terkait penempatan portofolio aset-nya. Kini nasabah bisa menggerakkan asetnya secara dinamis, tidak harus sama dengan proporsi investasi yang ditentukan di awal. Investasi disesuaikan tidak hanya berdasarkan profil risiko nasabah, namun juga risiko pasar ke depannya. “Lewat Dynamic Model Portfolio, kami ingin melayani nasabah kami dengan layanan wealth management yang mampu membantu mereka memahami realita pasar yang dinamis daripada hanya statis terpaku pada teori semata," papar Ivan.

Sementara itu, CEO PT Schroders Investment Management Indonesia, Michael Tjoajadi, mengungkapkan, berdasarkan data historis, menjelang Pemilu 2004, 2009 maupun 2014, terdapat kenaikan konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah. Meski begitu, perlu dicermati kejadian masa lampau tidak selalu terulang di masa depan."Harga komoditas diprediksi akan membaik pada 2018; Pilkada juga akan memberi pengaruh pada konsumsi karena perputaran yang yang lebih baik. Dari sektor perbankan, pertumbuhan kredit diperkirakan akan mulal mengalami peningkatan. Hal ini tentunya akan mendorong laba perusahaan, termasuk perusahaan publik, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan laba per saham," jelas Michael.

Ekonom Senior Indonesia yang juga Guru Besar Ekonoml Universitas Indonesia, Chatib Basri, menjelaskan, pada 2018 akan menjadi tahun yang menantang seiring dengan perkembangan teknologi disruptif."lnovasi bergerak sangat cepat, siklus produksi menjadi begitu pendek. Barang atau jasa yang dibuat hari ini, akan menjadi usang dalam waktu yang cepat. Nantinya, yang akan bertahan dan sukses mungkin bukanlah yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaan, melainkan adalah mereka yang bisa memformulasikan masalah dengan jeli dan tidak terpikirkan sebelumnya. Artinya, ide, kreativitas. dan keterampilan menjadi faktor penting," tutur Chatib.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)