Trik Dapatkan Passive Income Lewat P2P Lending

P2P Lending atau peer to peer adalah salah satu jenis investasi yang hasilnya didapatkan secara rutin setiap bulannya. Sederhananya, P2P Lending merupakan sebuah sistem investasi yang mempertemukan pendana (lender)  dengan pemberi dana (borrower). Seiring kemajuan teknologi, kini banyak bermunculan Fintech P2P Lending yang berbasis aplikasi digital.

Kemudahan ini menjadikan para investor dapat berinvestasi kapan pun dan dimana pun.

Tetapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin memulai investasi P2P Lending.

Founder dan CEO Finansialku.com memberikan tips dan trik menarik yang berguna untuk para investor pemula.

Pertama, pilih lembaga P2P Lending yang sudah memiliki izin terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini adalah kewajiban utama, agar keamanan investasi terjamin. Kedua, sesuaikan dengan tujuan keuanganmu. Tentukan dahulu apa goal yang ingin kamu dapatkan dari berinvestasi. Apakah untuk dana pensiun? Atau passive income? Dengan begitu kamu dapat mengukur berapa yang  harus kamu keluarkan untuk modal dan estimasi return-nya.

Setelah itu, masuk ke tahap pemilihan platform yang akan digunakan. Melvin menambahkan platform yang bisa mengelola risiko lender dengan lebih aman akan lebih menarik. Misalnya, platform yang memiliki underlying emas atau memiliki asuransi kredit. 

Sehingga, kalaupun terjadi gagal bayar dari peminjam dana (borrower), modal lender tidak 100% hilang. 

Selanjutnya pilih borrower yang potensial. Sesuaikan juga periode investasi dengan tujuan keuangan. Jika lender menemui borrower yang cocok, baru investasi dapat dilakukan secara berkala.

Tips lain yang diberikan Melvin yaitu lebih baik melakukan investasi P2P Lending jangka pendek. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan risiko yang menjadi aspek penting dalam P2P lending. Keuntungan dari investasi pun jangan langsung dijadikan passiveincome di awal, tetapi akan lebih baik jika diputar sebagai modal. Setelah tujuan keuangan sudah terpenuhi dan keuntungan yang didapatkan semakin besar dan stabil baru bisa dikatakan sebagai passiveincome. (Penulis: Mutiara Ramadhanti)

Artikel ini diproduksi oleh tim finansialku.com untuk swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)