Pertumbuhan Pasar Modal Harus Diimbangi dengan Pasar Tradisional

Di pengujung tahun 2016 terjadi banyak penangkapan teroris. Ini menunjukkan bentuk soliditas antara masyarakat yang juga menandakan adanya kematangan dalam berbicara dan berdemokrasi. “Walaupun ada penurunan, tapi dibandingkan penurunan yang bergejolak, akan jauh lebih baik jika hanya terjadi penurunan yang stabil untuk ekonomi kita,” jelas Wakil Presiden Jusuf Kalla.

All Posts20170103_091813-800x600

Ia menuturkan, permasalahan yang paling banyak dibicarakan adalah in equity. Mengapa? Karena jika tidak ditangani dengan baik, in equity ini akan menjadi masalah gejolak sosial. Untuk mengatasi semua ini Jusuf Kalla menghimbau seluruh pelaku industri, pelaku usaha, bidang keuangan untuk menanamkan semangat equity, keadilan dan berusaha untuk menstabilkan keadaan ekonomi Indonesia. “Cara yang dapat dilakukan adalah dengan bunga yang lebih baik dan lebih rendah. Tidak secara serentak, tapi secara pelan-pelan step by step,” katanya.

“Apapun yang terjadi bagi seorang investor tentu mempunyai pilihan-pilihan. Karena selalu ada trade off antara bunga dan bursa, makanya harus bisa menarik orang untuk berinvestasi dan menstabilkan orang yang bekerja keras,” lanjutnya.

Pasar modal memang menjadi bagian yang penting dalam pertumbuhan perekonomian suatu negara. Namun, Jusuf Kalla menegaskan bahwa pertumbuhan pasar modal juga harus diiringi dengan pertumbuhan pasar tradisional misal Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, dsb. “ Tidak ada gunanya kalau pasar modal naik, tapi pasar tradisional malah turun. Jadi harus ada sinkronisasi pasar tradisional dengan bursa atau pasar modal,” himbaunya.

Menurutnya, yang menjadi dasar di Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang mendasar terlebih dahulu, barulah kemudian orang akan masuk untuk berinvestasi di pasar modal melalui bursa efek.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)