Pilihan Saham Menyongsong Proyeksi IHSG Capai 6.880 Poin

Tim Investment Information Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan IHSG pada 2021 di level 6.880 poin. (Tangkapan layar : Vicky Rachman/SWA).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan positif hingga akhir tahun ini dengan dukungan dari faktor makroekonomi terutama data manufaktur setelah adanya potensi koreksi wajar menyikapi tapering yang akan dimulai bank sentral AS pada akhir November dan penguatan beruntun 5 bulan terakhir.  “Kami masih optimistis IHSG masih dapat menguat setelah potensi adanya koreksi wajar yang juga disebabkan penguatan beruntun indeks saham sejak Juli,” tutur Martha Christina, Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset Sekuritas) pada jumpa pers virtual di Jakarta, Kamis kemarin.

Hingga akhir tahun, Martha dan Tim Investment Information Mirae Asset Sekuritas memprediksi IHSG diprediksi masih dapat menguat menjadi 6.880 poin, tetapi di sisi lain masih memiliki potensi koreksi hingga 6.570 poin dalam waktu dekat dengan prediksi pergerakan secara teknikal pada rentang 6.394-6.693 poin.  Meskipun demikian, investor dan investor dinilai perlu berlega hati karena tapering kali ini diprediksi tidak akan seperti pada 2013-2015 lalu ketika tapering pertama kali dilakukan dan menyebabkan peristiwa yang sekarang dikenal sebagai taper tantrum.

Faktor tersebut juga ditambah faktor sinyal penaikan suku bunga acuan AS yaitu Fed Rate yang kemungkinan besar tidak akan dieksekusi dalam waktu dekat. Dengan prediksi tersebut, Tim Investment Information Mirae Asset memilih sektor yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi seperti perbankan dan manufaktur otomotif. Selain kedua sektor itu, infrastruktur juga menjadi pilihan mengingat perkembangan digitalisasi yang akan mendorong permintaan di industri telekomunikasi. “Saham pilihan kami antara lain BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, ASII, UNTR, TLKM, EXCL, ISAT, TOWR dan TBIG.”

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa faktor makroekonomi yang akan mendukung IHSG dan pasar saham domestik dalam waktu dekat adalah  kinerja industri manufaktur global dan domestik.  Kondisi manufaktur yang positif itu, lanjutnya, tercermin pada data PMI Manufaktur Global yang ekspansi selama 16 bulan berturut-turut di mana per Oktober 2021 tercatat naik menjadi 54,3.  

Seiring dengan hal positif tersebut di mayoritas negara-negara dunia, manufaktur Indonesia juga berhasil mencatatkan rekor ekspansi tertinggi pada Oktober 2021, yaitu 57,2 dari posisi September 52,2.  “Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan kinerja PMI Manufaktur negara anggota ASEAN lainnya, dan menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian domestik semakin progresif seiring dengan penerapan pelonggaran PPKM menyikapi hasil positif penanggulangan Covid-19 di Tanah Air,” ujar Nafan.

Terkait dengan isu terkini, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Roger MM, memprediksi harga batu bara masih dapat naik meskipun China mulai menggalakkan intervensi baik di sektor riil maupun di pasar keuangan.  Menurut dia, faktor utama yang masih dapat mendongkrak harga komoditas ’emas hitam’ tersebut adalah faktor musim hujan yang semakin deras dan prediksi BMKG terhadap potensi terjadinya La Nina sejak bulan ini hingga akhir tahun.  “Tingginya curah hujan tersebut dapat mengganggu proses penambahan batu bara terutama dari Indonesia sehingga berpotensi menaikkan harga batu bara dunia,” sebut Roger.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)