Prospek Saham Grup Astra di Tengah Persaingan Otomotif

PT Bahana Sekuritas menilai ada beberapa hal penting yang perlu diamati dari masing-masing anak usaha di sektor otomotif Grup Astra.

Menurut manajemen PT Astra International Tbk., ada perbaikan permintaan khususnya dari roda dua yang berasal dari luar Jawa, sebagai dampak dari membaiknya harga batu bara di pasar global.

Namun permintaan terhadap kendaraan roda empat bakal menghadapi persaingan dari beberapa pemain baru seperti Wulling yang mengeluarkan Cortez, Sokon dengan Glory, Misubishi dengan Expander, Nissan dengan Grand Livina new generation juga kemungkinan akan mengeluarkan varian baru lainnya, tak ketinggalan Datsun Cross. Tentunya kehadiran beragam varian baru ini akan mengambil market share Astra pada tahun ini, hingga tahun depan.

''Kami masih bullish melihat Astra, bila permintaan terhadap otomotif realisasinya di luar perkiraan, karena hal tersebut menjadi konfirmasi terhadap membaiknya daya beli masyarakat,'' kata Kepala Riset dan Strategis Bahana Sekuritas,  Andri Ngaserin. Andri menaikkan rekomendasi atas saham Astra International menjadi beli dari yang sebelumnya tahan, dengan target harga Rp 9.100/lembar.

Penjualan mobil retail selama dua bulan pertama tahun ini secara nasional telah mencapai 185.000 unit atau meningkat 17% dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan rata-rata penjualan setiap bulannya sekitar 93.000 unit, angka ini memperlihatkan daya beli masyarakat semakin membaik dibanding tahun lalu, yang mencatat rata-rata penjualan mobil setiap bulannya sekitar 89.000 unit secara nasional.

“Kami melihat perubahan strategi dari agen tunggal pemegang merek Toyota dan Daihatsu yang lebih mengutamakan kenaikan keuntungan dibanding strategi mereka selama ini yang mementingkan market share, karenanya kami memperkirakan kinerja otomotif Astra tetap masih akan positif pada tahun ini,'' papar Andri.

Melihat kenaikan profitabilitas Astra di bisnis otomotif, Bahana merevisi earning per share (EPS) perusahaan berkode saham ASII. Tahun ini pendapatan diperkirakan akan mencapai Rp 228 triliun, pada 2019 diperkirakan bakal mencapai Rp 249,9 triliun.

Laba bersih pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp 22,2 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 21,5 triliun, sedangkan 2019 diperkirakan mencapai Rp 24,41 triliun dariperkiraan sebelumnya Rp 23,7 triliun. Sehingga EPS pada 2018 diperkirakan sebesar Rp 548, dari perkiraan sebelumnya sebesar531. Sedangkan pada 2019 diperkirakan akan berada padakisaran Rp 603 dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 584.

Adapun kinerja United Tractors diperkirakan akan semakin membaik pada tahun ini, yang telah tercermin sejak tahun lalu. Bila tahun lalu perseroan yang menjual alat berat ini mampu menjual 3.788 unit, maka pada tahun ini, manajemen menargetkan penjualan alat berat akan berada pada kisaran 4.200 - 4.500 unit, yang pertumbuhan yang ditopang oleh sektor pertambangan khususnya alat-alat bagi pertambangan besar.

Pada Januari volume penjualan alat berat naik sebesar 50% menjadi 405 unit dibanding periode yang sama tahun lalu, terutama ditopang meningkatnya penjualan alat berat dari sektor pertambangan. Pencapaian ini, memperkuat perkiraan Bahana atas penjualan alat berat sepanjang tahun ini sebesar 4.787 unit, akan tercapai.

''Risiko yang perlu dicermati dari UNTR adalah bila harga batubara turun, curah hujan yang lebih besar dari perkiraan semulayang bisa berakibat negatif terhadap produksi tambang, juga depresiasi rupiah terhadap dolar,'' ujar Andri. Ia merekomendasikan beli saham UNTR dengan perkiraan target harga naik menjadi Rp 42.200/lembar dari perkiraan sebelumnyaRp 39.700/lembar.

Bahana juga merevisi kebawah EPS UNTR pada tahun ini dan tahun depan karena asumsi margin yang lebih konservatif serta belanja modal yang diperkirakan lebih tinggi karena Astra grup akan semakin meningkatkan investasi di luar bisnis otomotifnya. Tahun ini pendapatan diperkirakan naik menjadi Rp 81,5 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 80,3 triliun, sedangkan 2019 diperkirakan akan naik ke kisaran Rp 92,7 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 89 triliun.

Laba bersih diperkirakan akan mencapai Rp 9,7 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 10 triliun pada akhir 2018. Sedangkan 2019, diperkirakan naik menjadi Rp 11,1 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 11,7 triliun. Dengan perkiraan EPS pada tahun ini turun menjadi Rp 2.597 dari perkiraan sebelumnya Rp 2.678, sedangkan tahun depan diperkirakan turun menjadi Rp 2.983 dari perkiraan sebelumnya Rp 3.131.

Sementara itu, masuknya grup Astra ke bisnis ojek online melalui Gojek akan menjadi perhatian serius Bahana untuk beberapa tahun ke depan karena saat ini manajemen masih berupaya mengembangkan sinergi bisnis dengan Gojek.

Astra sedang mengembangkan inisiatif digital melalui Astra Digital Plan (ADP) untuk melakukan integrasi berbagai bisnis, juga melakukan sistem pengumpulan data yang belum pernah dilakukan perseroan sebelumnya, dengan tujuan mengumpulkan berbagai data penting untuk mengoptimalkan seluruh bisnis Grup Astra.

Editor : Eva Martha Rahayu

ww.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!