Rencana YELO Memulihkan Kerugian di Masa Pandemi

Wewy Suwanto, Dirut YELO, pada paparan publik virtual di aplikasi Zoom di Jakarta pada Selasa, 2 Maret 2021. (Tangkapan Layara : Vicky Rachman/SWA)

PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) berancang-ancang untuk memulihkan kerugian dengan  mengakuisisi saham PT Abdi Harapan Unggul (AHU) dan mengoptimalkan kanal penjualan AHU sebanyak 5 ribu titik untuk memaksimalkan penjualan produk YELO. Wewy Suwanto, Dirut YELO, mengatakan,pihaknya mengambil langkah efisiensi untuk mengurangi kerugian, antara lain mengurangi beban gaji hingga 50%, mengurangi biaya sewa kantor dan biaya pokok atas data dengan cara negosiasi.

“Kemudian, memulai penjualan data dalam negeri sehingga diharapkan dapat membantu mengganti penjualan data luar negeri yang hilang akibat pandemi, memulai proses akuisisi anak uaha yang sejalan dengan bisnis perseroan dan berencana melaksanakan right issue,” tutur Wewy pada paparan publik virtual di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menyebutkan rencana right issue dengan proses inbreng untuk mengakuisisi saham AHU itu diyakini berdampak positif terhadap kelangsungan usaha dalam jangka waktu singkat selama pandemi Covid-19. Tatkala kondisi bisnis kembali normal, perseroan memproyeksikan kombinasi penjualan data dalam negeri dan luar negeri akan memulihkan kinerja keuangan.

Pandapatan YELO pada 2020 senilai Rp 2,27 miliar turun sebesar 93,9% dari pendapatan tahun 2019 yang mencapai Rp 37,49 miliar. Pada periode itu, YELO menerima rugi bersih senilai Rp 40,19 miliar dari sebelumnya membukukan laba senilai Rp 1,30 miliar. Wewy menjabarkan faktor penyebab penurunan pendapatan ini lantaran bisnis perseroan terdampak pandemi Covid-19. Mobilitas masyarakat, seperti berwisata, terbatas untuk menangkal penyebaran virus corona. Akibatnya, hal ini memengaruhi bisnis penyewaan modem milik YELO. “Yang sangat terpukul adalah bisnis pariwisata, hotel, penginapan, sehingga berdampak ke perseroan,” ungkap WewyPada periode itu, YELO menerima rugi bersih senilai Rp 40,19 miliar dari sebelumnya membukukan laba senilai Rp 1,30 miliar.

Tahun ini, YELO  belum memiliki rencana untuk mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) lantaran masih meninjau kondisi bisnis selama pandemi ini. Berdasarkan kajian internal, YELO mengamati pemulihan bisnis pariwisata membutuhkan waktu dalam jangka menengah. Indikasinya tecermin dari kebijakan negara tujuan wisata utama yang membatasi wisatawan.

Lebih lanjut, Wewy menyebutkan YELO berencana melakukan pemecahan harga nomimal saham (stock split) menjadi Rp 50 dari Rp 100 per lembar saham seiring dengan dilayangkan surat permohonan stock split kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI).Apabila rencana ini belum mencapai target, maka perseroan mengandalkan aksi korporasi lainnya, yaitu right issue.

YELO berpeluang menghimpun dana sebesar Rp 99,5 miliar seiring rencana perseroan menambah modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue. Rencananya, menurut Wewy, persoran akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,9 miliar saham baru, dengan nilai nominal Rp 50, atau setara dengan 262% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Aksi korporasi YELO ini menunggu persetujuan pemegang saham pada pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan digelar dalam waktu dekat ini.

Wewy menuturkan dana hasil rights issue akan digunakan untuk pengembangan usaha dengan mengakuisisi saham AHU yang akan diakuisisi sejumlah 975.000 saham dengan nilai nominal Rp 100 ribu per saham atau 97,99% dari total kepemilikan saham AHU. “Rencana PMHMETD ini didukung pemegang saham dan kami berharap ini akan memberikan dampak positif untuk kelangsungan usaha dalam waktu singkat,” imbuh Wewy.

Rencana right issue memberikan sentiment positif terhadap harga saham YELO yang sejak Senin, 22 Februari 2021, naik menjadi Rp 67. Sebelumnya, saham YELO mandek di harga Rp 50. Sejak periode itu, harga saham YELO melonjak ke Rp 109 per 5 Maret 2021. Wewy mengatakan saham perseroan terapresiasi karena didorong rencana tersebut. Perseroan belum menghimpun data lebih rinci mengenai porsi investor ritel dan institusi yang mengakumulasi beli saham YELO lantaran masih menunggu pasokan data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). “Setelah kami mengeluarkan keterbukaan informasi ke pasar dan pasar merespons dengan positif sehingga diterjemahkan bahwa ini akan positif ke kinerja perseroan sehingga harga saham terangkat,” ujar Wewy menjelaskan. Bisnis YELO menggarap segmen usaha jasa, perdagangan, pariwisata, dan transportasi serta dikenal sebagai perusahaan yang menyewakan modem bermerek Paspood untuk para pelancong di luar negeri.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)