Resep Mirae Asset Mengalokasikan Aset Pada Tahun Pemilu | SWA.co.id

Resep Mirae Asset Mengalokasikan Aset Pada Tahun Pemilu

Foto : Mirae Asset.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menargetkan nilai wajar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kisaran 8.100 pada semester II tahun depan, setelah adanya pelonggaran kebijakan moneter dan kejelasan hasil pemilu putaran kedua. Investor berpeluang mengalokasikan mayoritas portofolionya ke saham unggulan/blue chips, saham lapis dua, atau reksa dana indeks dan obligasi pemerintah di semester II tahun 2024.

Robertus Hardy, Head of Research Team Mirae Asset, mengatakan potensi penguatan indeks saham utama domestik tersebut didukung oleh beberapa faktor yaitu besarnya potensi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral global, sehingga dapat memicu iklim investasi yang positif, baik untuk pasar saham maupun pasar obligasi.

Dia juga menilai kondisi itu menjadi peluang untuk memilih strategi investasi yang lebih agresif. “IHSG akan didukung beberapa sektor yaitu perbankan, telekomunikasi, otomotif, dan sektor lain yang terkait barang konsumsi. Prediksi tersebut didasari valuasi fundamental rasio harga saham per laba (P/E ratio) sebesar 14-15 kali dan asumsi pertumbuhan dividen per saham (EPS growth) sebesar 10%-15%,” ujar Robert di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

IHSG di Tahun Pemilu

Prediksi pasar tersebut disampaikan Robert dalam acara Investor Network Summit 2023 bertema Building Sustainable Investment Strategy for Uncertain Times yang digelar hari ini, 28 November 2023.  Terkait dengan prediksi tersebut, dia menyarankan investor untuk mengalokasikan mayoritas portofolionya dalam bentuk saham (saham unggulan/blue chips, saham lapis dua, atau reksa dana indeks) sebesar 60% dan sisanya yaitu 40% pada instrumen obligasi pemerintah untuk paruh kedua 2024.

Pada kesempatan yang sama, Senior Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menilai tahun depan inflasi akan terkendali dan terbuka peluang terjadinya penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia, seiring dengan kemungkinan Bank Sentral AS yaitu The Fed menurunkan suku bunga acuannya. Dari sisi inflasi, kenaikan harga barang-barang tahun depan diprediksi 2,65%, lebih rendah dari perkiraan tahun ini 2,85%.

Dia mengamati kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga hingga 100 bps menjadi 4,5%. ”Kami juga memprediksi BI akan menurunkan suku bunga dengan besaran yang serupa, menjadi 5,0%. Kami juga optimistis pertumbuhan ekonomi tahun depan akan mencapai 5,12%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun ini yang diprediksi sebesar 4,88%,” tutur Rully.

Selain itu, Rully memprediksi kinerja neraca perdagangan Indonesia akan tetap mengalami surplus sepanjang tahun depan dan keseimbangan eksternal masih tetap terjaga sehingga memprediksi rupiah akan terapresiasi dengan rata-rata sepanjang tahun Rp 14.750  per dolar AS dan posisi akhir tahun Rp 14.535 per dolar AS.

Secara umum, di tengah kondisi ekonomi global yang melambat, dia menilai masih ada peluang ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi tahun depan dibandingkan dengan tahun ini. Perekonomian Indonesia tahun depan, lanjutnya, masih akan tetap didorong oleh aktivitas ekonomi domestik, dengan masih terjaganya inflasi dan konsumsi rumah tangga.

Dalam acara tersebut, turut hadir CEO Mirae Asset Tae Yong Shim, Presiden Direktur PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Julfi Hadi, Presiden Direktur PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), Aldo Artoko, dan Kepala Ekonoi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat.

Mereka menyampaikan bahwa sektor energi terbarukan akan semakin cepat tumbuh dan didukung dengan kondisi pasar yang semakin kondusif menyikapi semakin banyaknya pilihan emiten sektor tersebut di bursa saham.

Aldo Artoko, Presiden Direktur Arkora Hydro, mengatakan perusahaan masih memiliki rencana penambahan proyek pembangkit listrik tenaga air tahun depan. Pada kesempatan itu, Presiden Direktur Pertamina Geothermal Energy, Julfi Hadi, mengatakan perusahaan masih memiliki target menjadi pemimpin pasar sektor energi panas bumi di tingkat global mengingat sumber daya gas bumi yang melimpah di dalam negeri

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)