Sritex Tambah Pasar Ekspor dan Pertimbangkan Masuk Bisnis Ritel

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) akan memperluas pasar ekspornya ke lima negara yaitu Kamboja, Hong Kong, Spanyol, Perancis, dan Peru. Tahun depan,  Sritex menargetkan bisa memasok seragam militer ke Kamboja melalui kerja sama dengan perusahaan lokal di Kamboja. Iwan Kurniawan Lukminto, Wakil Presiden Direktur Sritex, mengatakan, pihaknya sedang menyelesaikan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) mendirikan perusahaan patungan antara Sritex dengan perusahaan asal Kamboja. “Target finalisasi secepatnya, semoga MoU-nya bisa selesai di tahun ini. Kami sudah bertemu beberapa kali dengan mereka,” kata Iwan Kurniawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (11/11).

Iwan Kurniawan Lukminto, Wakil Presiden Direktur Sirtex (kedua dari kanan). (Foto : Vicky Rachman/SWA) Iwan Kurniawan Lukminto, Wakil Presiden Direktur Sirtex (kedua dari kanan). (Foto : Vicky Rachman/SWA)

Perseroan menjajaki peluang mendirikan perusahaan patungan di Kamboja untuk memperluas pasar ekspor. Pada tahap awal, Sritex akan fokus memasok seragam militer ke pemerintah kamboja melalui perusahaan patungan tersebut.

Wawan, demikian sapaan Iwan Kurniawan, mengemukakan, apabila MoU sudah difinalisasi pihaknya akan memasok seragam militer di Kamboka pada tahun 2016. menargetkan "Tahun depan trading terlebih dahulu, kalau membuat pabrik di Kamboja kami masih mengkajinya karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan seperti tax holiday, lokasinya dan buruh," ucap Wawan.

Direktur Keuangan Sritex, Allan M Severino, menyebutkan perseroan bisa meraih penjualan senilai US$ 50 juta apabila target tersebut terealisasi di tahun depan. “Apabila kami bisa memasok seragam tentar dan polisi untuk kamboja, kontrak penjualannya bisa mencapai US$ 50 juta setiap tahun," ungkap Allan.

Dia menambahkan di tahun depan perseroan juga mengincar Perancis, Peru, Spanyol, dan Hong Kong adalah negara tujuan ekspor. Skema penjualan produk Sritex di negara itu tidak membentuk perusahaan patungan sehingga bisa langsung menjual produknya ke konsumen. "Selain Kamboja, yang paling dekat terealisasi adalah ekspor ke Hong Kong untuk seragam di salah satu instansi pemerintah,” tandasnya. Nilainya berkisar US$ 5 juta hingga US$ 10 juta.

Perusahaan berkode SRIL di papan bursa ini memasok seragam militer ke 30 negara di dunia, di antaranya Amerika, Rusia, Jerman, Inggris, Australia, Swedia, Belanda, Indonesia, Norwegia, Kuwai dan lain-lainnya. “Standar seragam militer kami sesuai standar internasional,” tegas Wawan.

Upaya Sritex menggemukkan bisnisnya melalui sederet aksi korporasi di pasar domestik. Caranya dengan masuk ke bisnis ritel dengan mengakuisisi perusahaan ritel. Wawan menimpali pihaknya mempertimbangkan masuk ke bisnis ritel dengan dua opsi. Pertama, lanjut Wawan, adalah mengakuisi perusahaan ritel yang memiliki gerai atau toko. Yang kedua perseroan membuat bisnis ritel sebagai lini bisnisnya. “Kedua opsi ini kami pertimbangkan dan keduanya dijalankan paralel agar tepat sasaran,” ungkap Wawan.

Pengkajian akuisisi ritel diharapkan bisa difinalisasi di tahun 2016 finalisasi. Tahun berikutnya terealisasi. “Tahun ini belum ada langkah untuk mengakuisisi perusahaan ritel. Ini adalah long term plan," tambah Allan. Alasan Sritex hendak masuk bisnis ritel itu agar laba perseroan tidak terbatas nilainya. “Kalau memproduksi saja, labanya paling maksimal tumbuh 30%, sedangkan bisnis ritel keuntungannya tidak terbatas,” papar Allan.

Anti Radiasi Nuklir

Lebih lanjut, Wawan mengatakan Sritex merupakan perusahaan tekstil satu-satunya di Asia yang memegang lisensi memproduksi seragam militer Jerman. Pencapaian ini menjadi keunggulan perseroan. Walau demikian, Sritex terus berinovasi memproduksi seragam militer berkualitas internasional. “Kami akan terus memperluas jaringan kami di seluruh dunia untuk meminimalisir dampak krisis ekonomi seperti yang pernah kami lalui di tahun 1998 dan 2008,” jelas Wawan.

Bagi Sritex, bisnis seragam militer memberikan keuntungan yang cukup besar dibandingkan produk fesyen. Sebab, seragam militer yang diproduksinya memberi nilai tambah sehingga nilai jualnya cukup tinggi di pasar internasional. Sritex, kata Iwan, melakukan inovasi dengan memproduksi seragam militer anti radiasi nuklir, anti infra merah, atau anti tusukan senjata tajam beserta perlengkapan pelindung terintegrasi semisal rompi anti peluru. "Marginnya lebih tinggi karena seragam kami inovatif seperti seragam anti radiasi nuklir,” kata Wawan.

Margin laba bersih perseroan pada kuartal III/2015 naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 7,2%. Pada periode tersebut, Sritex membukukan laba bersih sebesar US$ 38 juta dollar AS, atau naik 26,6% dari tahun lalu. Penjualan kotor naik 13,3%, menjadi US$ 475 juta dari US$ 419 juta. Saham SRIL pada perdagangan Rabu kemarin turun 1,7% dari hari sebelumnya di harga Rp 349. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)