Strategi 5 Quick Wins Dongkrak Pendapatan Garuda US$ 4,2 Miliar

Garuda Indonesia

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (IDX : GIAA) membukukan pendapatan operasional sebesar US$ 4,2 miliar selama 2017 atau meningkat 8,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar US$ 3,9 miliar.

Pertumbuhan kinerja operasional ini diklaim sebagai hasil dari penerapan strategi “5 Quick Wins” yang dijalankan manajemen sejak kuartal II tahun 2017. Pahala N. Mansury, Direktur Utama Garuda Indonesia, mengatakan, tren pertumbuhan pendapatan operasional tersebut salah satunya ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional pada lini layanan penerbangan tidak berjadwal dan pendapatan lainnya (pendapatan di luar bisnis penerbangan & subsidiaries revenue).

"Penerbangan tidak berjadwal yang meningkat sebesar 56,9% atau menjadi sebesar US$ 301,5 juta. Lalu pada sektor pendapatan lainnya turut meningkat sebesar 20,9% dengan pembukuan pendapatan sebesar US$ 473,8 juta," ujar Pahala. Selain itu,  Garuda  mencatatkan tingkat keterisian penumpang (seat load factor) sebesar 74,7% dengan tingkat ketepatan (On Time Performance - OTP) sebesar 86,4%.

Sepanjang tahun 2017, Garuda  juga menekan catatan kerugian dari Kuartal I/2017 dari rugi sebesar US$ 99,1 juta berkurang menjadi rugi sebesar US$ 38,9 pada Kuartal II/2017. Kemudian, perusahaan berhasil membukukan laba bersih  US$ 61,9 juta pada Kuartal III/2017, angka tersebut naik 216,1 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada semester II/2017, Garuda  membukukan laba bersih hingga US$ 70,4 juta yang merupakan hasil akumulasi laba bersih di kuartal III/2017 sebesar US$ 61,9 juta dan laba bersih di kuartal IV/2017 mencapai US$8,5 juta. "Capaian positif tersebut tentunya juga sejalan dengan upaya perusahaan dalam menekan catatan kerugian (net loss) hingga menjadi rugi US$ 67,6 juta pada kinerja full year 2017 atau berkurang cukup signifikan dari tekanan kerugian di semester I/2017," jelas Pahala.

Adapun perhitungan catatan kerugian tersebut di luar perhitungan biaya extraordinary items yang terdiri dari tax amnesty dan denda sebesar UU$145,8 juta yang merupakan long term policy manajemen dalam menyehatkan kondisi finansial perusahaan secara jangka panjang. Pahala menjelaskan, partisipasi pada program tax amnesty tersebut merupakan komitmen perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan pajak yang tertunda sampai dengan tahun 2015 lalu.

"Dengan demikian bila ditambahkan dengan biaya tax amnesty dan denda pengadilan, maka total kerugian  yang dibukukan Garuda Indonesia pada tahun kinerja 2017 adalah US$ 213.4 juta," paparnya.

Sepanjang tahun 2017, Garuda Indonesia Group berhasil mengangkut sebanyak 36.2 juta penumpang yang terdiri dari 24 juta penumpang Garuda  sebagai main brand dan 12,3 juta penumpang Citilink. Jumlah tersebut meningkat 3,5% dibandingkan tahun 2016 sebesar 35 juta penumpang. Selama tahun 2017, Garuda  juga turut mencatatkan peningkatan tren pertumbuhan trafik penumpang internasional sebesar 8,1%. Garuda Indonesia melalui anak usaha Citilink berhasil mencatatkan pertumbuhan penumpang sebesar 10,8%

Lebih lanjut Pahala mengungkapkan, dalam rangka memperkuat kinerja keuangan dan operasional perusahaan secara berkelanjutan, Garuda Indonesia Group bersama jajaran anak perusahaan di awal tahun 2018 mencanangkan strategi bisnis jangka panjang bertajuk Garuda Indonesia Group (Sky Beyond 3.5) —yang akan menjadi value-driven aviation group dengan pencapaian target valuation group sebesar US$3,5 miliar tahun 2020.

Saat ini Garuda Indonesia Group mengoperasikan total 202 pesawat, dengan rata-rata usia pesawat 5 tahun. Maskapai Garuda  mengoperasikan sebanyak 144 pesawat, sedangka  Citilink mengoperasikan  58 pesawat.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)