Strategi BCA Cetak Laba Bersih Rp6,1 Triliun

Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA (tengah) bersama Jajaran Direksi BCA

Sektor financial technology (fintech) sedang mendisrupsi industri perbankan. Namun, hal tersebut bukan ancaman bagi PT Bank Central Asia Tbk. (BCA). Menurut Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, fintech yang ada saat ini bukan merupakan kompetitor langsung bank.

“Gojek menawarkan jasa Gofood, Gosend, Gomassage, dan lain-lain, apakah itu berkompetisi langsung dengan bank? Tidak ada orang beli sate menggunakan ATM. Sebagian besar yang kita lihat (saat ini) adalah ekosistem pengganti uang tunai. Bukan direct competition bank,” tutur Jahja pada Paparan Kinerja BCA Triwulan I 2019 di Jakarta, (25/4/2019).

Ia menyampaikan, sejauh ini BCA telah mendekati sejumlah pemain fintech sebagai partner. Begitupun jasa pinjaman online yang menawarkan kredit lebih mudah persyaratannya, tapi BCA tidak masuk ke pasar tersebut.

Ya, BCA fokus pada bisnis utama layanan perbankan. Pernyataan Jahja tersebut sejalan dengan laporan kinerja BCA Q1 2019 yang laba bersihnya tumbuh 10,1 persen, mencapai Rp 6,1 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 5,5 triliun.

Sementara itu, pendapatan operasional bank (pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya) tumbuh 13,7 persen menjadi Rp 16,7 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sevesar Rp 14,7 triliun. Pendapatan bunga bersih BCA naik 11,2 persen menjadi Rp12,0 triliun dan pendapatan operasional lainnya naik 20,7 persen menjadi 4,7 triliun.

Jahja menjelaskan, BCA dan entitas anak mencatat pertumbuhan pendapatan operasional (top-line_ yang positif pada kinerja keuangan triwulan I 2019, ditopang oleh pertumbuhan kredit dan peningkatan fee-based income. Ada peningkatan jumlah transaksi sebesar 25,8 persen YoY, terutama didukung oleh pertumbuhan transaksi mobile banking dan internet.

Pada Triwulan I 2019, portofolio kredit BCA meningkat 13,2 persen YoY menjadi Rp 532 triliun, yang mana ditopang oleh pertumbuhan kredit usaha pada segmen korporaasi sebesar 15,8 persen YoY menjadi Rp 207,8 triliun dan komersial & UKM meningkat 14,7persen YoY menjadi Rp 184,7 triliun.

Bank mencatat laju pertumbuhan kredit investasi yang tinggi sebesar 20,3 persen YoY pada Maret 2019. Meskipun dihadapkan oleh rintangan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, kredit konsumer tumbuh 7,7 persen YoY menjadi Rp 139,7 triliun.

Pada segmen konsumer, KPR tumbuh 11,3 pesen YoY menjadi Rp 86,5 triliun dan KKB (termasuk entitas anak) meningkat 0,4 persen YoY menjadi Rp 48 triliun di triwulan I 2019. Pada periode yang sama, outstanding kartu kredit tumbuh 9,0 persen YoY menjadi Rp 12,9 triliun.

Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) berada pada level yang sehat dengan masing-masing sebesar 24,5 persen dan 81,0 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada dalam tingkat toleransi risiko yang masih dapat diterima pada level 1,5 persen. Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah (loan loss coverage) tercatat pada level yang memadai, yakni 171,4 persen.

“Secara konsisten, kami mencermati dinamika bisnis. Posisi permodalan yang kuat, kecukupan likuiditas, dan kualitas kredit yang sehat merupakan faktor utama bagi pertumbuhan bisnis ke depannya. Sejalan dengan kemajuan teknologi serta perubahan kebutuhan nasabah, BCA terus mengembangkan produk dan layanan dengan berfokus pada peningkatan customer experience dan kenyamanan nasabah,” ujar Jahja.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)