Strategi BNI Jaga Kinerja di Tengah Pandemi

Upaya BNI menghimpun DPK dilakukan dengan menjadikan dana murah sebagai prioritas

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI melewati paruh pertama tahun 2020, yang penuh tantangan akibat pandemi Covid–19, perlambatan kinerja ekonomi Indonesia dan global secara bersamaan, dengan capaian yang cukup baik dan melampaui perkiraan sebelumnya. Berbagai indikator kinerja menunjukkan pertumbuhan.

Total aset BNI tumbuh 4,4% year on year (yoy) dari Rp 843,21 triliun pada Semester I/2019 menjadi Rp 880,12 triliun pada periode yang sama tahun ini. Laju pertumbuhan aset ini relatif sama dengan tahun 2019, yang tumbuh sebesar 4,6% yoy. Pertumbuhan ini dilakukan sejalan dengan strategi BNI yang sangat selektif dalam melakukan ekspansi saat pandemi Covid–19 yang sudah mulai mewabah sejak awal tahun 2020.

Pertumbuhan aset tersebut terutama ditopang oleh dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 11,3% yoy, dari Rp 595,07 triliun pada paruh pertama tahun 2019 menjadi Rp 662,38 triliun pada paruh pertama 2020. Pertumbuhan DPK tersebut lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan DPK di industri per Juni 2020 yang tumbuh 7,9% yoy.
Upaya menghimpun DPK dilakukan dengan menjadikan dana murah (CASA) sebagai prioritas utama, yang untuk memperbaiki cost of fund ke depan.

Sampai dengan Semester I/2020, cost of fund menjadi 2,9% membaik 30 basis point (bps) dibandingkan posisi yang sama tahun 2019 sebesar 3,2%. Membaiknya cost of fund ini mendorong penurunan beban bunga di Semester I/2020 sebesar -5,6% yoy, sehingga di tengah kondisi bisnis yang menantang akibat pandemi ini, BNI dapat menjaga NIM di level 4,5%.

"Kami juga melakukan langkah-langkah disiplin biaya dengan melakukan efisiensi pemakaian beban operasional, di mana pertumbuhannya dapat ditekan hingga -0,3% yoy. Penghematan tersebut dilakukan terutama dengan mengendalikan biaya-biaya variable yang disebabkan adanya penyesuaian operasional dan proses bisnis pada masa pandemi," ujar Direktur Layanan dan Jaringan BNI, Adi Sulistyowati dalam siaran pers di Jakarta (18/8/2020).

Pada saat perekonomian terkontraksi 5,23% yoy sepanjang Semester I/2020, BNI tetap menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik, pertumbuhan selektif dan terukur. Hal ini ditunjukkan dengan kredit yang tumbuh 5,0% yoy, dari Rp 549,23 triliun pada SemesterI/2019 menjadi Rp 576,78 triliun pada Semester I/2020 atau BNI telah menyalurkan kredit Rp27,5 triliun.

Pertumbuhan ini sejalan dengan program pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, sehingga ekspansi kredit didukung dengan kebijakan stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah, di antaranya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 tentang penempatan dana pemerintah di Bank Umum, serta PMK Nomor 71 dan 98 tentang Tata Cara Penjaminan Pemerintah kepada pelaku usaha dalam rangka pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)