Strategi Investasi Saham Tatkala IHSG Membara

Pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Senin, 4 Januari 2021. (Tangkapan layar : Vicky Rachman/SWA)

Kinerja pasar saham cenderung terkontraksi lantaran Indeks Harga Saham Gabungan pada 2 Februari 2021 turun 0,39% dibandingkan penutupan perdagangan pada Senin di level 6.067 poin. Ellen May, analis dan praktisi investasi saham, berpendapat koreksi itu memicu peluang untuk investor yang berkarakter trader peluang untuk mendulang cuan. “Umumnya strategi yang digunakan adalah buy on weakness dengan tujuan membeli harga yang sudah rendah dan menjualnya kembali ketika naik harganya,” ujar Ellen dalam risetnya seperti dilansir SWA online di Jakarta, Selasa (2/2/2021).

Ellen menjabarkan strategi buy on weakness adalah strategi membeli saham di harga rendah untuk menagntisipasi pembalikan arah (reversal). Pembelian dilakukan ketika harga sudah mengalami kejatuhan beberapa hari dan signifikan. Penurunan harga tersebut juga diikuti tekanan jual yang sudah berkurang atau sudah oversold. Sehingga risiko lebih kecil ketika membeli saham di support.

Pendiri Ellen May Institute ini menilai momentum koreksi IHSG merupakan peluang untuk membeli saham dengan harga terdiskon. Namun, tidak semua saham bisa dipilih. Diperlukan strategi yang pas agar pilihan saham memberikan return di kemudian hari yaitu value growth investing sebagai strategi mengakumulasi beli saham yang fundamental bagus dan bervaluasi murah. Biasanya kriteria ini bisa ditemukan pada saham-saham blue chip. :Anggaplah sebagai great sale saat pasar saham sedang turun seperti yang terjadi pada Maret 2020, membuat valuasi saham-saham ini menjadi murah atau di bawah nilai wajarnya,” ujar Ellen.

Valuasi bisa dinilai dari perbandingan dari harga pasar dan kualitas fundamental perusahaan tersebut. Jika harga pasar dibawah perform fundamental perusahaan, maka saham tersebut bisa disebut murah atau undervalued. Sebaliknya, jika harga pasar saham berada diatas performa fundamental saham, disebut sudah premium atau overvalued.

Untuk mengukur valuasi bisa menggunakan beberapa metode, seperti price to earnings ratio (PER), price to book value (PBV), PER to growth (PEG) dan RNAV. Sedangkan untuk mengukur kualitas perusahaan ada poin-poin penting yang harus diperhatikan yaitu model bisnis, manajemen dan kinerja keuangan.Pilihlah perusahaan dengan model bisnis yang dipahami sehingga Anda tahu bagaimana perusahaan tersebut dapat menghasilkan pendapatan dan laba serta perusahaan memiliki pangsa pasar besar.

Contohnya, lanjut Ellen, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (IBP) memiliki produk makanan ringan dan mi instan yang sangat digemari oleh masyarakat baik di Indonesia maupun di mancanegara. Pangsa pasar IBCP kategori mie siap saji, Indomie, menguasaipasar mie siap saji sebesar 71% hingga 73% di pasar mie instant Indonesia. “Selain itu, untuk produk makanan ringan / snack, ICBP menguasai 45% pasar makanan ringan di Indonesia dengan produk unggulan seperti Chitato, Qtela, Lays, Doritos, Cheetos dan Trenz,” ungkapnya.

Kemudian investor direkomendasikan meninjau keunggulan kompetitif keunggulan dan kelemahan produk atau layanan dari produk dan jasa yang diberikan perusahaan serta mencermati risiko model bisnis model, karakter bisnis, hingga kinerja keuangan “Seringkali investor mendefinisikan valuasi sebagai sebuah harga. Padahal valuasi berbeda dengan harga. Price is what you pay and value is what you get,” ungkapnya. 

Strategi Value Investing

Valuasi adalah nilai wajar dari perusahaan tersebut, jika perusahaan tersebut dijual. Jadi valuasi saham erat kaitannya dengan nilai intrinsik alias nilai wajar dari sebuah saham. Sedangkan harga saham merupakan harga yang ditawarkan di pasar. Harga saham bisa lebih tinggi dari nilai wajar sebuah saham (overvalue), dan juga lebih rendah daripada nilai wajar saham (undervalue).

Dalam analisis valuasi saham, investor akan membandingkan nilai wajar (intrinsik) dengan harga pasar saham saat itu. Berikut ini adalah beberapa pedoman yang dapat digunakan :

a. Apabila nilai intrinsik  > harga pasar , maka saham tersebut dalam kondisi murah (undervalued), sehingga layak dibeli atau ditahan apabila saham tersebut sudah dimiliki.

b. Apabila nilai intrinsik < harga pasar, maka saham tersebut sudah mulai mahal (overvalued), sehingga baiknya investor mulai menjual untuk merealiasikan keuntungan.

c. Apabila nilai intrinsik  = harga pasar, maka saham tersebut dianggap menunjukka nilai yang wajar (fair) dan terkadang dianggap kurang menarik bagi investor.

Pendekatan investasi ini berfokus kepada pembelian saham perusahaan yang sahamnya tengah jeblok. Lebih sederhananya, membeli saham yang undervalued dilihat juga dari PBV ratio. Benjamin Graham menyebutnya sebagai Value Investing. Strategi investasi ini cukup sukses karena, pembelian saham sebuah emiten dilakukan saat sedang sangat murah secara keseluruhan.

Selain itu, menurut Jim Chanos Cigar Butt juga rawan value trap. Biasanya ciri-ciri saham yang value trap, bisa dilihat dari:

1.  Predictable, consistent cash flow

2. Defensive and/or defensible business

3.  Not dependent on superior management

4. Low/reasonable valuation

5. Margin of safety using many metrics

6. Reliable, transparent financial statements

Untuk value growth investing itu saham yang dipilih sudah mature di sektornya sehingga kinerja keuangannya sudah baik. “Hanya saja karena kejadian tertentu, harga sahamnya jatuh dan jadi undervalued alias diskon,” sebut Ellen. Perbedaan paling mencolok dari kedua strategi ini adalah pilihan sahamnya. Strategi value growth investing saham pilihannya adalah saham bluechips. Sedangkan saham cigar butt adalah saham lapis kedua atau bahkan lebih kecil lagi.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)