Strategi PALM Balikkan Kerugian Jadi Laba Hingga Melonjak 142%

Public Expose virtual PT Provident Agro Tbk.

Meski di tengah pandemi Covid-19, emiten perkebunan kelapa sawit, PT Provident Agro Tbk (PALM) membukukan pertumbuhan yang positif. Pada Semester I/2020 pendapatan perusahaan tercatat Rp 121,28 miliar. Angka ini naik 25% dari Rp 97,12 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun laba bersih melonjak 142% menjadi Rp 17,05 miliar.

Kinerja tersebut berhasil membalikkan posisi kerugian PALM pada tahun lalu. Sepanjang 2019, pendapatan PALM tercatat Rp 189,16 miliar atau menurun 58% dari tahun 2018 sebesar Rp 446,65 miliar.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan dari CPO dan Palm Kernel Oil (PKO) sehubungan dengan divestasi entitas anak pada tahun 2018. Begitu juga penurunan harga rata-rata penjualan CPO turut memengaruhi pendapatan, dari Rp 7.419/Kg pada tahun 2018 menjadi Rp 6.674/Kg pada tahun 2019.

Adapun harga rata-rata penjualan PKO pada tahun 2019 sebesar Rp 3.725/Kg pada tahun 2019, menurun dibandingkan tahun 2018 yaitu sebesar Rp 5.832/Kg. Berkurangnya jumlah kebun yang dimiliki Perseroan juga dinilai menjadi salah satu faktor menurunnya pendapatan.

Presiden Direktur Provident Agro, Tri Boewono menyampaikan, sepanjang 2019 perusahaan fokus menerapkan kebijakan efisiensi biaya operasional serta mengoptimalkan produksi perkebunan. Strategi ini merupakan upaya perseroan untuk mempertahankan kegiatan bisnis tetap optimis di tengah tantangan perekonomian global yang membuat harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menurun.

“Tahun 2019 merupakan tahun penuh tantangan dan berlanjut hingga saat ini. Menghadapi tantangan ini, manajamen akan tetap menjaga fundamental bisnis Perseroan tetap kompetitif. Efisiensi dan optimalisasi merupakan jawaban yang tepat agar terus memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham,” katanya dalam Public Expose yang dilakukan secara virtual, Kamis (30/07/2020).

Dari sisi produksi, hingga per Juni 2020, PALM mencatatkan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebanyak 50,662 ton, produksi CPO dan PKO masing-masing sebesar 14.529 ton serta 2.504 ton. Selain itu, Perseroan juga telah melakukan peremajaan pada luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) sekitar 1.131 hektare. Adapun luas lahan dengan tanaman menghasilkan mencapai 5.164 hektare.

“Kondisi perekonomian global menghadapi tekanan yang hebat akibat pandemi Covid-19, karena itu strategi efisiensi dan optimalisasi kami lanjutkan kembali," ujar Direktur Keuangan Provident Agro, Devin Antonio Ridwan.

Menurutnya, manajemen optimistis strategi ini akan membawa Provident Agro melewati masa krisis khususnya akibat pandemi Covid-19 dan tetap menjaga pertumbuhan bisnis yang positif.

Selain menjalankan kebijakan efisiensi dan optimalisasi produksi, Tri menambahkan, PALM terbuka dengan segala peluang bisnis usaha yang prospektif. Perseroan tentunya akan melakukan kajian yang komprehensif terhadap peluang-peluang bisnis tersebut untuk mengetahui seberapa besar potensinya dalam memberikan nilai tambah dan memperkuat fundamental Perseroan dalam jangka panjang.

"Manajemen selalu melihat kemungkinan potensi kebun yang ditawarkan di pasar, tapi tetap saja kami mengevaluasi apakah dengan keadaaan seperti sekarang, keterbatasan lahan di Indonesia, dan peraturannya. Jika memang layak dan dapat meningkatkan manfaat bagi shareholder maka kami akan berinvestasi," tutur Tri.

Ia menambahkan, Perseroan juga akan tetap menjalankan kebijakan efisiensi biaya operasional dan optimalisasi produksi perkebunan, serta mengoptimalkan peluang bisnis yang prospektif. Hingga akhir tahun, perseroan menargetkan volume produksi CPO sebesar 27.000 ton dan PK sebesar 5.000 ton.

Di sisi lain, sepanjang Semester I/2020, perseroan telah menyerap belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 9,75 miliar dari total yang dialokasikan untuk tahun ini sebesar Rp28 miliar. Sebagian besar alokasi capex perseroan pada tahun ini akan digunakan untuk perawatan tanaman belum dihasilkan dan prasarana kebun.

Perusahaan juga sepakat untuk mencadangkan anggaran sebesar Rp 28,93 miliar untuk pembelian kembali (buyback) sebanyak 110 juta saham atau 1,55% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan untuk jangka waktu 12 bulan secara bertahap sejak persetujuan dalam RUPS.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)