Suntik Dana US$ 40 Juta di Halodoc dan Sayurbox, Astra Ingin Tetap Relevan

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) hari ini selain memaparkan kinerja keuangannya, PT Astra International Tbk (Astra) mengukuhkan komitmennya di kancah bisnis untuk tetap relevan dengan perkembangan saat ini. Setelah tahun 2018 Astra menyuntikan dana di Go-Jek, tahun ini juga injeksi dana US$ 40 juta di Sayurbox dan Halodoc.

Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra International, mengungkapkan bahwa langkah Astra menanamkan dana di startup digital adalah agar perusahaan tetap relevan dengan perkembangan bisnis saat ini. Pihaknya menilai Sayurbox dan Halodoc mewakili kondisi saat ini serta memiliki kesamaan visi dan misi dengan Astra. Seperti halnya langkah Astra di Go-Jek, investasi di startup digital adalah salah satu langkah dalam upaya mendorong percepatan transformasi digital di dalam perusahaan.

Halodoc misalnya, lanjut Djony, sebagai platform kesehatan yang menjawab kebutuhan layanan kesehatan saat ini, terutama mengatasi ketimpangan layanan kesehatan di Indonesia. Kemudian Sayurbox, juga memiliki nafas yang sama, melalui teknologi menjawab tantangan pemasaran dan penjualan produk pertanian di Indonesia, yang kini bukan saja menjual sayur dan buah tapi juga berbagai produk segar.

Djony juga mengungkapkan bahwa selama ini perushaaan telah melakukan berbagai langkah transformasi digital, baik organik dengan melakukan modernisasi internal, maupun in organic. Salah satu langkah in organic adalah dengan melakukan investasi di startup seperti Go-Jek, Sayurbox dan Halodoc. “Diharapkan langkah ini membuat Astra tetap tumbuh berkelanjutan dan tetap relevan dengan perkembangan bisnis saat ini,” terangnya.

Asal tahu saja, Astra menyuntikan investasi sebesar US$ 5 juta di Sayurbox pada bulan Maret dan US$ 35 juta di Halodoc pada bulan April tahun 2021. Di dua startup ini, Grup Astra merupakan investor utama pada funding rounds baru.

Grup Astra sendiri, pada laporan keuangan di Kuartal I/2021 mencatat laba bersih Rp 3,728 triliun, turun 22% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,810 triliun. Sedangkan pendapatan bersihnya turun 4% atau Rp 54,002 triliun year on year.

Menurut Djony, penurunan tersebut sebenarnya lebih rendah dibanding penurunan kuartal pertama tahun lalu, karena masih di awal pandemi. Namun, ia mengelak bahwa langkah Astra masuk ke startup digital bukan ingin menutup turunnya bisnis mereka di manufaktur. Dia menegaskan langkah tersebut karena Astra melihat bisnis startup merupakan masa depan dan agar Astra tetap relevan. “Dalam melakukan investasi Astra tidak pernah berpikir jangka pendek, tapi lebih ke long term. Begitu juga investasi kami di startup ini, jadi belum ke sana (menutup turunnya bisnis manufaktur),” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)