Tata Kelola Perusahaan yang Mengedepankan Keberlanjutan Harus Punya Aturan Baku

Lead Executive Director Stern Value Management Erik Stern

Menjawab tantangan keberlanjutan (sustainability) yang semakin digaungkan, baru-baru ini perusahaan ramai mengadopsi performance metrics ESG atau Environmental, Social, & Governance. Parameter ini mengacu kemampuan perusahaan untuk menjalankan tata kelola perusahaan sesuai etika, memperhatikan kelestarian lingkungan, dan mengedepankan kesejahteraan SDM.

Kendati demikian, menurut Lead Executive Director Stern Value Management Erik Stern, metriks ini belum memiliki standar yang baku. Belum ada skor yang standar untuk menentukan apakah sebuah perusahaan telah melaksanakan tata kelola sesuai ESG.  

“Karena tidak ada skor yang pasti, bagaimana kita bisa membandingkan antar industri? Misalnya di industri oil and gas atau tambang,” tuturnya dalam Webinar SWA bertajuk Winning Strategy to Boost Shareholder Value and How to Become Smart Investor  (14/10/2021).

Menurut Erik, kondisi ini cukup rumit. Perusahaan besar dengan sumberdaya yang berlimpah mungkin bisa mengadopsi metriks ini. Sebaliknya, perusahaan skala kecil sulit mengadopsinya. Untuk itu, Erik masih memandang performance metrics berdasarkan analisis EVA atau Economic Value Added masih lebih baik.

“Sejumlah perusahaan memang sudah mengadopsi alternatif pengukuran performance perusahaan. Namun, tidak ada yang lebih baik daripada mengukur Earning per Share (EPS) karena dapat digunakan juga oleh manajer dan karyawan secara sederhana dan komprehensif,” tambahnya.

Di sisi lain, praktisi pasar modal sekaligus Whitelist Implementer Information Security Management Services PT Industry Paman Ryan mengatakan, pandemi merupakan momen yang tepat untuk melihat tata kelola perusahaan sekaligus membantu investor mengkurasi perusahaan mana saja yang bisa memberi keuntungan dalam jangka panjang.

"Sebenarnya investor cukup suka dengan kejadian pandemi, karena dia bisa melakukan kurasi perusahaan-perusahaan mana yang bagus dan tidak bagus. Kondisi laporan keuangan yang tadinya sudah tidak terlalu bagus, kemudian benar-benar terbukti tidak bagus. Investor akan tahu seberapa agile perusahaan untuk menerima kondisi disrupsi saat ini," jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)