Telkom Bakal Terbitkan MTN Rp 1,5 Triliun

Harry M. Zen, CFO Telkom (tengah) dan direksi di Investor Summit 2018. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Guna menata ulang profil (reprofiling) sebagian utang, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berencana menerbitkan Medium Term Notes (MTN) yang diharapkan perseroan bisa menghimpun dana senilai Rp 1,5 triliun. Penerbitan MTN ini sedang dalam tahap finalisasi dan persentase kuponnya diumumkan perseroan pada pekan depan. Dana yang dihimpun dari penerbitan MTN ini akan digunakan TLKM untuk pengembangan bisnis TLKM dan masuk dalam anggaran belanja modal (capital expenditure/capex).

Beban utang perseroan diharapkan lebih ringan dengan melakukan reprofilling utang serta meminimalisi tingkat risiko terhadap peningkatan suku bunga. “Reprofiling diperlukan untuk mengunci bunga menjadi tetap setidaknya selama dua hingga tiga tahun ke depan agar beban bunga tidak bertambah,” ujar Harry M. Zen, Direktur Keuangan Telkom di Investor Summit, Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta (29/8/2018).

Dia mengatakan penerbitan MTN sebagai suatu cara reprofiling sebagian utang dari sebelumnya utang yang profilnya bunga mengambang (floating) menjadi utang dengan bunga tetap (fixed) agar beban bunga tidak bertambah. Bank Indonesia (BI) pada 15 Agustus 2018  menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5% dari sebelumnya 5,25%. Pengamat ekonomi memperkirakan BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat ini. Melalui MTN, Telkom memutuskan untuk mengunci sebagian bunga menjadi bunga tetap selama dua hingga tiga tahun ke depan. “Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi tren perubahan tingkat suku bunga ke depan, di tengah tekanan kenaikan suku bunga dari Amerika Serikat yang dapat berdampak pada kenaikan tingkat suku bunga dalam negeri,” sebut Harry.

Adapun, Telkom optimis mampu meningkatkan kinerja pada semester II 2018. Penyelesaian pembangunan Infrastruktur sistem kabel laut serat optik internasional Indonesia Global Gateway (IGG), pengoperasian Satelit Merah Putih, pengembangan segmen bisnis seluler, fixed broadband, dan enterprise, serta reprofiling utang floating rate, merupakan beberapa hal yang diharapkan dapat mendorong kinerja Perseroan hingga akhir tahun ini.

IGG Cable System merupakan jaringan backbone serat optik bawah laut yang menyediakan koneksi langsung ke belahan dunia bagian barat melalui jaringan South East Asia–Middle East–West Europe 5 (SEA–ME–WE 5) sepanjang 20 ribu km dan ke bagian timur melalui jaringan South East Asia – United States (SEA – US) sepanjang 15 ribu km. Harry mengungkapkan hingga akhir Juni 2018, progres pembangunan IGG telah mencapai sepanjang 5.300 km atau sekitar 96%. Sistem kabel laut ini diharapkan siap beroperasi pada kuartal III 2018. Adanya IGG Cable System ini memberikan keunggulan kompetitif bagi Telkom melalui pengembangan rute ekspres menuju Eropa (SEA – ME – WE 5), Amerika Serikat (SEA – US) dan seamless connectivity di wilayah Timur dan Barat Indonesia (Express Super Core). “Keberadaan IGG Cable System selain memberikan keuntungan teknis berupa kapasitas, kehandalan dan latensi yang rendah, juga mendukung pengembangan bisnis broadband di Indonesia dan menangkap potensi pertumbuhan bisnis di kawasan,” ungkap Harry.

Selain itu, Telkom baru saja menyelesaikan peluncuran Satelit Merah Putih pada 7 Agustus lalu, dan telah berada di orbit 108 derajat Bujur Timur. Satelit yang membawa 60 transponder aktif dengan jangkauan Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan ini, sedang menjalani In Orbit Test. Kehadiran Satelit Merah Putih menambah kapasitas transponder satelit milik Telkom, sehingga diharapkan dapat mengurangi kesenjangan digital di Indonesia (digital divide) dan memperkuat bisnis internasional serta berdaya saing global. “Satelit Merah Putih akan ready for service pada minggu ketiga September 2018,” ujar Harry.

Dinamika Industri

Seiring meningkatnya dinamika industri telekomunikasi, khususnya pada segmen bisnis seluler, Telkom berupaya menciptakan industri seluler yang sehat dengan menerapkan berbagai strategi marketing dan pricing untuk memonetisasi data, serta terus konsisten melaksanakan pembangunan infrastraktur. Telkom berkomitmen terus menyesuaikan perkembangan tren konsumen di Indonesia yang sudah beralih dari layanan tradisional voice dan SMS menuju data, ditandai dengan pertumbuhan konsumsi data yang semakin meningkat dan tingginya permintaan pelanggan terhadap layanan data yang berkualitas. Dengan demikian, Telkom optimis mampu memperkuat kinerja bisnis mobile data di semester II/2018.

Pada segmen bisnis fixed-broadband dengan produk IndiHome, hingga akhir Agustus 2018, Telkom mencatatkan pertumbuhan impresif lantaran jumlah total pelanggan IndiHome mencapai lebih dari 4,5 juta atau bertambah 1,5 juta pelanggan sejak awal 2018. “Pertumbuhan jumlah pelanggan yang masif sejalan dengan peningkatan kualitas layanan kami, di antaranya dengan penguatan network, memperkaya konten, menawarkan beragam minipack menarik, serta terus melakukan improvement pada layanan purna jual. Hal ini juga merupakan upaya Telkom untuk terus menjaga excellent customer experience,” tambah Harry.

Sementara itu, untuk segmen bisnis enterprise, Telkom optimistis bisa menjaga pertumbuhan pendapatan yang kuat, sebagaimana tercatat di Semester I/2018 yang tumbuh 19,5% dibanding tahun sebelumnya. Dengan meningkatnya tren digitalisasi di berbagai korporasi, UKM, dan instansi pemerintah, kebutuhan solusi information & communication technology (ICT) juga akan meningkat. “Ini menjadi peluang bisnis yang besar bagi Telkom untuk terus menumbuhkan segmen bisnis enterprise,” lanjut Harry. Harga saham TLKM pada perdagangan Rabu ditutup stagnan di level Rp 3.580 dari perdagangan sehari sebelumnya.

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)