Pekan Perdana 2016, Pasar Obligasi Diprediksi Menguat

Pada pekan terakhir di tahun 2015 pasar obligasi bergerak di zona merah. Pergerakan laju pasar obligasi tidak kunjung membaik seiring dengan berkurangnya aktivitas perdagangan dan laju Rupiah yang masih cenderung melemah hingga akhir perdagangan. Aksi jua dan cenderung wait & see serta mengamankan posisi yang terjadi sepanjang pekan kemarin.

Maraknya aksi jual tentu membuat laju pasar obligasi cenderung berada di zona merahnya. Pelemahan pun marak melanda mayoritas seri obligasi. Sebagai gambaran obligasi dengan dengan rating AA dimana di pekan sebelumnya yield di kisaran 11,30%-11,35% untuk tenor 9-10 tahun namun, di pekan kemarin pergerakan obligas korporasi rating AA untuk tenor 9-10 tahun yield nya naik menjadi 11,35%-11,38%

Dari sisi makroekonomi, laju pasar obligasi kali ini lebih banyak dipengaruhi kondisi di dalam negeri di mana pelaku pasar lebih memilih mengamankan posisi jelang libur panjang. Maraknya aksi jual yang masih terjadi sepanjang pekan kemarin terlihat merupakan kelanjutan dari pelemahan di pekan sebelumnya. Pelemahan yang terjadi di pekan kemarin tampaknya lebih tinggi dari pekan sebelumnya. Laju yield tercatat lebih tinggi dari sebelumnya dimana kenaikan rata-rata yang terbesar diraih oleh obligasi tenor menengah (5-7 tahun).

Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan rata-rata yield 3,75 bps; tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan yield sekitar 5,61 bps; dan tenor panjang (8-30 tahun) mengalami kenaikan yield 3,38 bps. Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo ±4 tahun cenderung turun harganya hingga -18,76 bps. Sementara dengan FR0071 yang memiliki jatuh tempo ±14 tahun juga turun harganya hingga -64,33 bps.

obligasi
Laju US$ yang kembali berbalik naik terhadap sejumlah mata uang lainnya a.l GBP, JPY, CHF, CNY, dan beberapa mata uang lainnya tidak membuat laju Rupiah melemah di awal pekan kemarin namun, justru berbalik naik meski tipis. Penguatan Rupiah lebih dikarenakan adanya faktor teknikal untuk memanfaatkan kenaikan lanjutan sebelumnya meskipun tidak sepenuhnya didukung oleh sentimen yang ada.

Imbas kembali melemahnya laju harga minyak seperti diperkirakan sebelumnya membuat laju US$ dapat mengambil kesempatan untuk kembali melanjutkan kenaikan terhadap sejumlah mata uang lainnya a.l GBP, JPY, CHF, CNY, dan beberapa mata uang lainnya. Laju Rupiah yang sebelumnya dapat bertahan dari potensi pelemahan, akhirnya tidak kuat menahan dominasi US$ dan berakhir dengan pelemahan.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mendapatkan sentimen negatif di mana offshore rates untuk Yuan mengalami penurunan sehingga membuat laju US$ menguat. Sementara itu, penguatan US$ dapat dibatasi dengan menguatnya Crown Swedia dengan sentimen adanya harapan positif akan ekonomi Swedia yang menunjukkan perbaikan.

Di akhir tahun, melemahnya EUR, NZD, JPY, dan INR yang juga diikuti dengan kembali melemahnya harga minyak mentah dunia turut berimbas negatif pada laju Rupiah. Laju Rupiah sepanjang pekan kemarin tercatat melemah. Laju Rupiah mampu bertahan di atas target support Rp 14.125 hingga 13.635 (kurs tengah BI).

Di pekan kemarin, Pemerintah tidak melakukan Lelang Surat Utang Negara maupun Lelang Surat Berharga Syariah Negara. Akan tetapi, hanya melakukan mengeluarkan hasil transaksi private placement pada Obligasi Negara seri FR0070.

Analis NH Korindo Securities, Reza Priyambada, mengatakan, pada pekan ini (4-8 Januari 2016) laju perdagangan obligasi diprediksi menguat setelah mengalami pelemahan dalam beberapa minggu terakhir karena adanya libur panjang. Kemungkinan laju harga obligasi dapat bergerak naik dengan rentang pergerakan di kisaran ±35 hingga 85 bps. “Asumsinya aktivitas telah kembali normal, maka laju pasar obligasi memiliki peluang untuk kembali mengalami kenaikan,” ujarnya

Di pekan depan, Pemerintah akan kembali melakukan Lelang Surat Utang Negara maupun Lelang Surat Berharga Syariah Negara dimana merupakan perdana di tahun 2016 ini. Adapun lelang tersebut diperuntukkan untuk lelang Surat Utang Negara dalam mata uang Rupiah yang akan dilakukan oleh Pemerintah pada hari Selasa, 5 Januari 2016. Jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp12 triliun dengan jumlah target maksimal yang dimenangkan sebesar Rp18 triliun untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2016. Adapun seri-seri yang akan dilelang sebagai berikut:

a. Seri SPN12160401 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo 1 April 2016;
b. Seri SPN12170106 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo 6 Januari 2017;
c. Seri FR0053 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,250% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Juli 2021;
d. Seri FR0056 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada tanggal 15 September 2026; dan
e. Seri FR0072 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,250% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Mei 2036. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)