Valuasi Saham BNI Cenderung Murah | SWA.co.id

Valuasi Saham BNI Cenderung Murah

Gejolak eksternal relatif tidak berpengaruh terhadap industri perbankan. Investor diprediksi analis pasar modal masih memburu saham-saham perbankan yang ditopang potensi pertumbuhan kinerja bisnis perbankan. “Saya mengamati pertumbuhan industri perbankan akan lebih baik di tahun ini,” kata Satrio Utomo, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia dalam diskusi “Emiten Berbicara Industri” di Jakarta, Kamis petang (2/1). Satrio mengemukakan, pertumbuhan ekonomi domestik di tahun ini akan menopang saham perbankan. Pemulihan ekonomi terus dibenahi pemerintah demi mengerek perekonomian dan dunia bisnis nasional.

Setidaknya, hal itu  terefleksi dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga awal Februari ini. IHSG pada 2012 masih bertengger di kisaran 4.000 poin, saat ini IHSG telah menyentuh level 5.200. Itu artinya, investasi saham di pasar modal menguntungkan. ”Dan, saham-saham perbankan masih sangat menarik untuk dimiliki investor,” imbuhnya. Sejumlah saham perbankan layak dikoleksi investor, terutama bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan (ketiga dari kanan) dan pengamat pasar modal Satrio Utomo (kedua dari kanan) di Jakarta, Kamis (2/2/2017).

Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), misalnya, dinilai Satrio cukup menarik karena dari sisi price to earning ratio (PER) masih berada di kisaran 8 kali. Itu menunjukkan saham perusahaan ini relatif murah dibandingkan saham bank berkapitalisasi besar lainnya. ”Kalau saham perbankan lain PER-nya sudah di atas 15 kali, jelas mahal,” ungkap Satrio. Berdasar data perdagangan Kamis 2 Februari 2017, saham BNI ditutup di kisaran Rp 6.025, naik 75 poin atau tumbuh 1,3% dibandingkan perdagangan Rabu. Sepanjang perdagangan, saham perusahaan ini ditransaksikan sebanyak 433,103 lot senilai Rp 260,55 miliar dengan nilai kapitalisasi pasar sejumlah Rp 111,23 triliun.

BNI pada kuartal III/2016 mencatat laba bersih Rp 7,72 triliun. Tumbuh 28,7% dibanding periode sama 2015 di kisaran Rp 5,99 triliun. Laba bersih ditopang penyaluran kredit tumbuh stabil. Selain itu, juga ditopang pendapatan bunga bersih  Rp 21,87 triliun, naik 15 % dari Rp 19,02 triliun. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan Desember 2016 di kisaran Rp 4.401,9 triliun alias terangkat 7,8% dibandingkan Desember 2015.

Tingkatkan Investor Aktif

Investor pemula, menurut Satrio, berpeluang menambah koleksinya di saham perbankan seiring dengan program “Yuk Nabung Saham” yang memudahkan pemodal berinvestasi di pasar saham. Bermodalkan Rp 100 ribu, seorang investor bisa membeli saham. Terkait hal ini, Nicky Hogan, Direktur Pengembangan Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), mengemukakan, pihaknya aktif melakukan kampanye dan edukasi kepada investor dan calon investor. BEI berharap penambahan investor baru di tahun ini sebanyak 100 ribu investor dan meningkatkan jumlah investor yang aktif bertransaksi di perdagangan saham.

Investor yang aktif pada saat ini hanya 1/3 dari jumlah total sebanyak 530 ribu investor. Jumlah itu sekitar 180 ribu investor yang setiap hari aktif melakukan transaksi. “Dengan berbagai program Yuk Nabung Saham, kami menargetkan investor aktif bisa mencapai 250 ribu,” ujar Nicky. Kampanye ke masyarakat tidak hanya bersifat edukasi tapi juga inklusi yang mendorong mereka untuk menjadi investor aktif. Program Yuk Nabung Saham dilaksanakan BEI sejak akhir tahun 2015. Sepanjang tahun 2016 jumlah investor baru tercatat sebanyak 100 ribu, jauh lebih tinggi dibanding penambahan jumlah investor baru beberapa tahun sebelumnya. “Kampanye aktif dilakukan melalui Sekolah Pasar Modal yang bekerjasama dengan 20 Anggota Bursa. Yang menarik investor baru kebanyakan berusia 20-40 tahun yang memang aktif melakukan transaksi harian,” tambahnya. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
JCM Gandeng Alfamidi Mengurangi Emisi Karbon

Indonesia dan Jepang mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM). Kerjasama yang sudah dikembangkan selama...

Close