Warga Desa Bisa Berinvestasi Saham

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menggandeng PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI)  meneken nota kerja sama program Desa Nabung Saham.

Tujuan program Desa Nabung Saham untuk mengenalkan investasi di pasar modal, khususnya kepada masyarakat desa. Ruang lingkup program Desa Nabung Saham ini adalah melakukan kegiatan literasi dan inklusi pasar modal, khususnya di wilayah desa dan penyediaan fasilitas pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) dalam rangka mempermudah masyarakat untuk membuka rekening investasi pasar modal. Selain itu, melalui kerja sama ini diharapkan akan ada peningkatan terhadap kegiatan transaksi investor serta pemanfaatan layanan produk dan jasa perbankan lainnya.

Menanggapi panandatanganan Desa Nabung Saham, Direktur Utama KSEI, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, penandatangan nota kesepahaman program Desa Nabung Saham merupakan salah satu terobosan KSEI bersama dengan BEI dan BRI.

Dengan adanya program ini, kegiatan literasi dan inklusi pasar modal dapat dilakukan lebih luas dan tersebar tidak hanya di perkotaan namun hingga pedesaan. Menurut Friderica, KSEI sebagai salah satu Self Regulatory Organizations (SRO) memiliki tugas utama mengembangkan infrastruktur penyimpanan dan penyelesaian di pasar modal Indonesia.

Dalam upaya pengembangan infrastruktur tersebut, KSEI terus menggandeng berbagai pihak untuk turut terlibat di dalamnya.  “Hal ini sejalan dengan pengembangan AKSes Financial Hub KSEI yang ingin merangkul jaringan Perbankan untuk lebih memperluas jaringan pasar modal Indonesia,” tambah Friderica di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Jum'at lalu.

Friderica Widyasari Dewi, Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia. (Foto : Dokumen)

Hari Siaga Amijarso, Sekretaris Perusahaan BRI, menyatakan, kerja sama ini merupakan salah satu langkah strategis BRI untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. “Khususnya pasar modal, di pedesaan melalui unit-unit kerja BRI yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Hari.

Hingga akhir triwulan II tahun 2017, BRI memiliki lebih dari 54 juta rekening simpanan mikro, dengan total simpanan lebih dari Rp 217 triliun.  Hal ini, merupakan potensi yang luar biasa untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh BRI meningkatkan keikutsertaan masyarakat desa dalam menabung saham. Selain itu, BRI memiliki 467 Kantor Cabang, 609 Kantor Cabang Pembantu, 989 Kantor Kas, 5.380 BRI Unit, dan 2,553 Teras BRI yang terhubung real time online.

Hari menambahkan, BRI optimistis akan mampu memberikan layanan pendukung dunia pasar modal yang optimal, sehingga diharapkan dapat menjangkau masyarakat Indonesia secara lebih banyak dan lebih luas untuk berinvestasi di Pasar Modal. “Khususnya dukungan dalam hal penyediaan fasilitas pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) bagi masyarakat yang akan berinvestasi di pasar modal serta pemanfaatan layanan produk dan jasa perbankan lainnya,” jelas Hari.

Adapun program dan kegiatan yang akan dilaksanakan pasca-penandatangan nota kesepahaman ini antara lain melakukan mengadakan audiensi kepada pejabat dan aparat desa atau kecamatan terkait, forum calon investor yang digelar secara marathon dengan melibatkan aparat desa serta melaksanakan workshop dan forum investor.

Sinergi Infrastruktur

Nota kesepahaman ini menyinergikan kekuatan daya dukung dan infrastruktur yang dimiliki oleh masing-masing pihak, yang terdiri dari 26 Kantor Perwakilan BEI, jaringan perbankan BRI yang terdiri dari 476 Kantor Cabang, 603 Kantor Cabang Pembantu, 983 Kantor Kas,5.360 BRI Unit, dan 3.179 Teras BRI serta Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) KSEI yang terhubung dengan 108 Perusahaan Efek, 20 Bank Kustodian, 70 Manajer Investasi, dan 14 Bank Administrator RDN.

Program ini juga sejalan dengan tujuan menambah jumlah investor, meningkatkan jumlah investor aktif, mengembangkan layanan tabungan dan RDN untuk pasar modal melalui sistem perbankan yang dimiliki oleh BRI, serta mengintegrasikan infrastruktur pasar modal dan perbankan untuk kemudahan akses masyarakat berinvestasi. Selain itu, program ini berusaha mengedukasi (literasi) masyarakat mengenai produk-produk turunan yang ada di pasar uang sekaligus memperkuat penetrasi inklusi keuangan masyarakat pedesaan untuk melek investasi.

Kerjasama antara BEI, KSEI dan BRI berangkat dari latar belakang perlunya pemerataan akses ekonomi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing dalam negeri. Kemudahan akses tersebut perlu dilakukan hingga ke tingkat desa untuk memperkecil kesenjangan antar daerah dan menyejahterakan masyarakat Indonesia. Data Potensi Desa yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2014 mencatat ada 82.190 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa yang terdiri dari 73.709 desa, 8.412 kelurahan dan 69 Unit Pemukiman Transmigrasi. Data BPS juga mencatat Indonesia memiliki 7.074 kecamatan dan 511 kabupaten atau kota.

Meski demikian, data BPS per Maret 2017 mencatat dari jumlah penduduk miskin di Indonesia yang berjumlah sekitar 27,77 juta orang, 61,57% diantaranya merupakan penduduk desa. Sedangkan sisanya merupakan penduduk kota. Artinya perlu suatu upaya untuk menyejahterakan masyarakat desa agar disparitas potensi pendapatan ekonominya tidak terlalu jauh dengan masyarakat kota.    Salah satu cara untuk  lebih menyejahterakan masyarakat adalah dengan mengenalkan masyarakat kepada investasi. Sebab investasi merupakan faktor penting dalam memacu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi suatu negara.

Dalam ekonomi makro, investasi merupakan salah satu komponen yang berkorelasi positif dengan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Jika investasi naik, maka PDB cenderung naik dan begitu pula sebaliknya.  Selain itu, investasi dapat menjadi alternatif untuk mewujudkan rencana keuangan jangka panjang. Melalui investasi, setiap orang dapat melawan laju inflasi yang tidak bisa dilakukan hanya dengan menyimpan uang di tabungan. Berinvestasi akan memberikan hasil lebih tinggi dibanding tabungan bank yang sejalan dengan risikonya. Namun, para investor dapat meminimalisir risiko investasi dengan berinvestasi dalam jangka menengah dan jangka panjang. Beberapa produk di pasar modal seperti saham, Surat Berharga Negara (SBN), obligasi korporasi, Reksa Dana dan berbagai produk derivatif lainnya dapat menjadi pilihan bagi investor.

Beberapa program lanjutan yang direncanakan akan dilaksanakan pasca penandatanganan nota kesepahaman ini adalah program Masyarakat Nabung Saham di Kabupaten Lombok Tengah dan tengah dilakukan penjajakan untuk program yang sama untuk beberapa desa dan kabupaten lainnya di berbagai wilayah di Indonesia. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)