Adji Watono, Passion-nya Ingin Menjadi Orang Kaya

Aloysius Adji Watono, Founder dan CEO Dwi Sapta Group, memulai bisnisnya di bidang fotografi, setelah itu desain grafis, lalu sablon, kemudian baru mulai advertising. Dari advertising, dia membuka production house, dan terus berkembang hingga kini. Di setiap bidang usaha yang ditekuni, Adji selalu berusaha menjadi yang terbaik. Dengan bekal itulah, ia mampu menggaet perusahaan-perushaan besar menjadi kliennya, dan membuatnya sukses. Kunci utamanya adalah membuat kliennya menjadi kaya, baru kemudian Adji mendapat 'cipratan' kekayaan. Bagaimana lika-liku Adji membangun imperium bisnis Dwi Sapta Group? Dia menuturkannya kepada Ria Efriani Pratiwi:

Aji Watono

Bisa diceritakan bagaimana milestone dalam perjalanan Anda menuju sukses?

Seperti dalam buku Advertising That Sells, milestone (kesuksesan) saya terbagi atas tiga tahap, 10 tahun pertama, 10 tahun kedua, dan 10 tahun ketiga (karena usia Dwi Sapta sudah 33 tahun pada 2014 ini). Pada 10 tahun pertama masih berat, masih miskin atau belum sukses. Jadi di 10 tahun pertama ini (masa) perjuangan ya. 10 tahun kedua merupakan masa pertengahan atau roda mulai sedang berputar. Dan di 10 (tahun) terakhir itu memang roda berputar dengan benar. Kenapa bisa begitu? Karena pada saat ini sudah punya pengalaman dan networking yang benar, punya uang, kepintaran, dan sebagainya. Jadi setelah punya itu semua, baru bisa (dibilang sukses). Kalau orang miskin bisa langsung jadi kaya ya impossible.

Jadi bagaimana sebenarnya usaha Anda sampai bisa menjadi sukses dan kaya seperti sekarang?

Usahanya terus kerja keras dari kecil sampai jadi kaya. Berusaha dengan habis-habisan, pantang menyerah, berkomitmen, serta bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Jadi apa yang dikatakan harus dijalankan, do more, action more. Jadi jangan cuma think big, dream big, tapi action-nya harus bigger. Ya, kira-kira begitu, jadi tidak langsung bisa jadi kaya mendadak. Jadi (menjadi kaya dan sukses) itu tidak segampang membalikkan telapak tangan. Memang benar-benar berat.

Di sini saya punya keyakinan diri (believe) dan mimpi (dream) yang besar. Dari kecil, saya sudah diajari orang tua saya (soal itu), tapi saya orangnya tidak mau diajari, karena saya orangnya berbeda. Selalu, kalau orang lain ke utara, saya ke selatan. Saya merasa sesuatu itu mesti mempunyai diferensiasi yang jelas. Kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, dan fokus terus terhadap apa yang dikerjakan.

Dulu apakah Anda langsung mendirikan perusahaan advertising?

Saya pertama membuka usaha fotografi, setelah itu desain grafis, lalu sablon, kemudian baru mulai advertising. Dari advertising, saya membuka production house, setelah itu macam-macam lah. Jadi saya selalu menciptakan inovasi dan perubahan for a better life and future, serta menjadi the best dalam hal apapun yang saya kerjakan. Misalkan pun jadi tukang sapu atau tukang foto sekali pun, always be the best, jangan tanggung-tanggung. Juga, harus menjadi yang terbaik dalam hal yang disukai, karena untuk jadi sukses, orang itu harus punya passion, love, dan commitment. Passion itu harus jadi yang pertama, ‘what do you like?’, kedua love your job, dan ketiga mesti ada commitment for that job, baru dia bisa sukses. Jadi, untuk bisa sukses itu tidak mudah. Saya ini dalam sehari bisa rapat beberapa kali, termasuk kalau ada wawancara seperti ini, tapi saya jalani saja itu semua seperti air mengalir.

Jadi passion Anda memang di bidang advertising ya?

Passion saya ingin jadi orang kaya saja. Hahaha.. Mau jadi orang sukses, tidak usah neko-neko. Walaupun dulu nenek saya sudah mengajari (misal) untuk makan harus membagi telur untuk 10 orang, tapi (sebenarnya) saya tidak mau, (saya berpikir) “Aduh, kapan saya kayanya ini. Ga mau saya dikasih cuma soto pakai suwiran ayam. Walaupun ditambah telur, lumayan. Tapi enggak maulah saya begitu dari kecil juga”.

Dari kecil, saya sudah punya cita-cita “I want to be the best and rich”. Walaupun dulu belum kaya pun, gaya dan mind set saya sudah seperti orang kaya saja, hahaha.. Think and dream saya (dari kecil) sudah mau kaya dan sukses, tapi ini juga harus ditunjukkan dengan tindakan. Sehingga berpikirnya harus ten step ahead; orang lain belum berpikir tentang 10 tahun yang akan datang, saya sudah berpikir soal itu. Misalnya, saya sekarang punya 60 mobil. Percaya tidak? Mana ada perusahaan advertising lain yang punya mobil sebanyak itu. Ini tujuannya untuk melayani klien dengan lebih baik lagi. Karena kita harus melayani klien dengan hati. Prinsip kita “make the client and the brand success first, baru Dwi Sapta dan Adji Watono bisa sukses dan kaya”. Kalau kita tidak meng-kayakan orang lain dulu, mana mungkin kita sendiri bisa kaya.

Kalau mau kaya, buat kaya dulu dong bosnya, baru gajinya bisa naik. Lalu, kerjakan sesuatu yang bos kamu tidak mau kerjakan, baru kamu akan dapat gaji lebih atau bonus kan. Sebenarnya gampang. Tapi tidak semua orang mau mengerjakan itu. Kalau saya dari kecil, mind set-nya sudah ingin membuat orang lain kaya terlebih dulu. Saya harus membuat orang lain senang dulu, baru dia akan terus mempekerjakan saya. Jadi dalam hal apapun saya sudah begitu. Saya mau mengerjakan pekerjaan orang lain, walaupun kerjaan saya jadi dobel. Saya tidak minta apa-apa lho, tapi tetap saya kerjakan. Saya mau seperti itu, karena saya sudah berpikir ke depan bahwa dengan bekerja begitu, saya akan terus dipekerjakan dan dikasih uang oleh bos saya, sehingga (lama-lama) saya bisa kaya juga kan. Bos saya itu akan cerita kepada orang-orang lain lagi soal (kualitas) pekerjaan saya. Dia akan merekomendasikan saya kepada mereka, sehingga mereka pun mau mempekerjakan saya juga.

Jadi, Adji “dimanfaatkan” (bos-bos zaman dulu) tidak apa-apa. Adji senang banget, dan ini supaya orang tergantung saya dong, (kalau sekarang) namanya lock in customer. Kita malah ingin dimanfaatkan. Tujuannya supaya dia (klien) terikat pada kita untuk jangka panjang. Kalau sama orang lain, si klien harus brief lagi, tapi kalau sama saya, saya bisa bilang “Tenang saja, Bos. Pasti akan jadi”.

Waktu miskin saja saya sudah berpikir begitu, apalagi sekarang sudah sukses. Jadi berpikirnya everything for clients, dan everything for others. Kalau kamu didatangi klien dan diminta mengerjakan iklannya itu biasa, tapi yang luar biasa adalah jika tidak diminta tapi kamu kerjakan. Baru itu mind set orang sukses, karena mana ada orang yang mau bekerja seperti itu. Client’s success is our success. Kami memakai prinsip QCDS (dalam pelayanan terhadap klien), yaitu Quality must be good, Cost serendah mungkin, Delivery time secepat mungkin, dan Service excellence. Makanya kami sekarang memegang 18 brand yang sudah jadi market leader. Sekarang dalam Dwi Sapta Group ada 10 perusahaan, sementara dulu saya hanya punya 1 perusahaan fotografi saja. Ya, bisa begini, karena terus berinovasi dan berubah, serta punya diferensiasi. Selalu patokannya QCDS saja.Kami selalu melihat peluang, terus belajar, dan lain-lain.

Makanya orang kaya tambah kaya, orang miskin, maaf saja, tambah miskin. Karena mereka tidak berpikir untuk jangka panjang atau masa depannya. Mereka pasti berpikir makan saja susah, dan berpikir untuk hari itu saja. Jadi harus juga bergaul dengan orang kaya dan sukses, supaya tambah pintar, kaya dan sukses. Jangan bergaul dengan orang miskin, maka akan jadi miskin juga. Jadi bodoh tambah bodoh. Orang yang miskin itu negative thinking terus, jadi tidak akan maju-maju.

Saya sendiri (karena selalu positive thinking), misalkan kalau ada janji rapat, dan terjadi banjir 1 meter, saya akan (ke kantor) pakai Panther, kalau tidak bisa pakai Fortuner, lalu kalau itu juga tidak bisa masuk saya akan pakai truk. Bahkan saya sudah memodifikasi knalpot motor Honda Tiger yang juga saya punya menjadi tinggi, sehingga kalau ada banjir atau apa bisa saya pakai. Ini saya lakukan, tanpa terus membuat excuses.

Jadi, 10 perusahaan tersebut yang terdiri atas 5 PT, 2 PT rugi pada tahun 2013. Tapi secara keseluruhan kita tetap tumbuh 22% (secara grup). Kalau misalnya kita hitung-hitungan, perusahaan ini rugi, itu rugi, lah klien kita akan berpikir, masa untuk digital hitung-hitungan, mau bikin website, Twitter, You Tube, dan Facebook juga hitung-hitungan. Tidak ada perusahaan yang membuat itu semua tidak rugi, pasti rugi, tapi ini kan investasi untuk 5 tahun ke depan.

Berani tidak orang melakukan, misalnya untuk buat brand activation, dan (mengaktifkan/mengelola) social media (perusahannya). Perusahaan saya sudah rugi 5 tahun di sini (brand activation), ini tidak main-main. Baru tahun ini saja brand activation kami untung, omsetnya Rp 18 miliar dari sebelumnya Rp 7 miliar. Hahaha.. Memang enak jadi orang kaya? Kita tetap bisa rugi juga. Kita tidak berpikir rugi berapa, tapi berpikir end result-nya berapa. Kita buat 10 perusahaan untuk mendukung IMC, jadi klien cukup saja hanya bawa uang ke sini, semua kita yang kerjakan. Ini juga kan mind set saya dari kecil.

AjiWatono2

Bagaimana dengan tantangan atau rintangan menuju kesuksesan yang pernah Anda alami? Bagaimana jika waktu dulu ada orang-orang yang meremehkan atau memandang mimpi Anda dengan sebelah mata?

Tidak apa-apa (kalau ada orang yang meremehkan), justru itu tantangan untuk meyakinkan mereka. Sekarang saja masih susah meyakinkan orang lain (soal kesuksesan saya), apalagi dulu waktu saya (masih) miskin. Karena mimpi itu harus dijalankan dan dikerjakan dengan teladan serta contoh (kepada orang lain). Kalau kamu percaya atas apa yang kamu kerjakan dan pikirkan, kamu pasti akan berhasil meraihnya.

Sebenarnya, karena keinginan saya sudah ingin menjadi kaya dan sukses (dari dulu), maka tidak ada tantangannya. Karena tantangan itu kan selalu ada, dan saya harus bisa membuat itu menjadi kenyataan dong. Bukan hanya sekadar diatasi, tapi bagaimana membuat tantangan itu menjadi jalan untuk sukses. Contohnya bagaimana membuat sebuah perusahaan advertising yang (punya) full of services (Integrated Marketing Communication/IMC), walaupun tadinya tidak bisa membuat yang seperti itu. Itu kan anti klimaks dari desain grafis, sablon, dan fotografi. Orang lain pasti berpikir bahwa (saya) ini orang gila nih, mengerti advertising saja juga tidak, tapi (waktu dulu mau) membuat perusahaan advertising. Walaupun gila, tapi ini adalah opportunity, karena pada saat itu televisi mulai ada (di Indonesia). Kalau tidak berani seperti itu, kamu hanya mainnya di print ad, below the line. Kapan kayanya kalau hanya dari sablon saja?

Bagaimana caranya waktu itu mendapatkan klien pertama?

Tidak usah dipikirkan untuk itu (mendapatkan klien pertama). Yang penting kamu punya hati yang bagus, melayani sepenuh hati, customized, cinta pekerjaan, berbaik hati, dan senyum terus all the time. Sore-sore begini saja, walaupun capai, tapi saya tetap senyum. Jadi yang penting bagaimana membuat tantangan menjadi sebuah kesuksesan, tanpa diminta orang lain ataupun klien. Ini yang bisa membuat seseorang sukses. Also, we have to make difference in everything that we do.

Berarti memang Anda sudah membuat tujuan-tujuan atau goals pribadi untuk beberapa tahun ke depan?

Kami sudah punya visi-misi (untuk Dwi Sapta) untuk 2011-2015. Ini belum habis, tapi harus sudah berpikir soal visi-misi untuk 2015-2020 dong. Core value-nya apa, dan ini mau dibawa ke mana (company goal-nya). Visi-misi ini harus dijalankan, tidak hanya sekadar ditempel saja seperti poster. Untuk menjadi sukses itu harus dari dalam hatinya sendiri, tidak bisa diajarkan. Kamu harus bisa merencanakan untuk sukses dalam 5 tahun, 10 tahun, dan seterusnya, baru kamu akan (benar-benar) bisa sukses dan kaya. Tapi kalau tidak berpikir begitu, ya tidak akan bisa (sukses).

Kalau untuk goals pribadi, saya (sebagai) creator future saja, yang orang lain belum bisa melihat, misalnya untuk 5 tahun ke depan mereka akan menjadi apa. Kalau saya sudah melihat dalam 5-10 tahun ke depan, Dwi Sapta mau menjadi apa, mau ke mana, dan omsetnya akan jadi berapa. Ini harus direncanakan. Untuk sampai ke titik ini ya harus belajar terus, baca buku, koran, majalah, nonton televisi. Saya punya 11 televisi di ruang kerja saya. Saya ingin belajar tentang program-program televisi, dan pada saat yang bersamaan saya juga bisa melihat iklan kompetitor saya, iklan saya sendiri, dan saya bisa menghitung uang saya juga kan dari sana. Teknologi itu harus diikuti. Kalau dulu tidak punya uang, ya gigit jari saja. Tapi sebenarnya yang harus dipikirkan itu adalah bagaimana akhirnya kita bisa membeli televisi yang sudah memakai teknologi terbaru tersebut.

Apakah Anda masih suka menyempatkan waktu untuk kontemplasi diri?

Tidak. Jangan melihat lagi ke belakang. Melihat Adji yang masih kere, tidak mau saya seperti itu. Yang sukses itu harus melihat orang lain lagi lebih sukses. Jangan bercermin diri sendiri, nanti akan minder. Lalu, saya pasti sudah berpikir untuk next-nya seperti apa. Lawannya bukan Top 10 lagi, tapi sudah Top 1, Top 2, dan Top 3. Ini mumet. Kalau dulu kita masih melawan Top 20, Top 15, gampang. Ini berat, tapi kalau kita berpikir (takut) akan melawan Dentsu misalnya, ya tidak akan maju. Ini Adji, bisa mengalahkan orang Jepang nomor satu, bagaimana caranya? Tidak usah dipikir caranya, cukup dilakukan secara kontinyu.

Dalam perjalanan menuju kesuksesan kan pasti ada masa down, bagaimana cara Anda menghadapi itu?

Orang kaya dan sukses tidak pernah berpikir down. Down itu merupakan starting untuk up lagi. Tidak ada up and down, wong roda itu berputar. Kita langsung berpikir untuk naik lagi, jadi tidak ada down terus. Yang ada up terus, karena kita selalu berpikir positif.

Bagaimana pintu kesuksesan Anda terbuka dulu, apakah melalui link dari bos-bos Anda dulu?

Memang harus dilakukan sustainable growth and networking. Kalau kamu mengerjakan sesuatu tanpa diminta, relationship-nya akan long term, dan word of mouth-nya akan jalan. Misalnya dari satu Astra, dari Astra Otopart, ke Astra Honda Motor, terus ke Astra Credit Company, dan seterusnya. Mereka kan ada 179 anak perusahaan. Jadi kami harus menjadi top of client’s mind. It’s not easy.

Bagaimana cara Anda menjaga relationship dengan para klien?

Untu menjaga relationship dengan klien, kami menerapkan persahabatan, networking, keintiman, kecocokan, kejujuran, saling percaya, keterbukaan, dan loyal.

Kemudian, harus dengarkan kebutuhan, keinginan, serta ekspektasi orang lain, walaupun dia cuma anak buahmu. Kita tidak mau anak buah yang sering negative thinking, dan complaint all the time, tapi kita mau orang yang loyal, mau menerima tantangan, selalu memberikan solusi, dan selalu positive thinking.

Jadi apa lagi yang mau dicapai Dwi Sapta ke depannya?

Dwi Sapta want to be the best and do the best in the field. Kalau sudah the best tidak ada ultimate lagi, karena akan selalu melakukan apapun yang diyakininya dengan cara yang terbaik. Sekarang do the best for everybody, sedangkan dulu cuma do the best for yourself. Care, Share, and Love. Care to our people and society.

Jadi kalau bisa diringkas, wisdom Anda untuk menuju kesuksesan?

Yaitu dengan kerja keras, pantang menyerah, berpikir positif, profesional, terus belajar untuk improvement yang kontinyu, dan punya tanggung jawab yang jelas. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)