Alwin Arifin: Nanti, Bahan Baku Terigu Tidak Impor, tetapi Cari dari Lokal

Setelah sukses mengembangkan Grup Daniprisma, Alwin Arifin diserahi tanggung jawab mengelola dan mengembangkan Sriboga Ratu Raya. Kini, di tangan anak kedua Bustanil Arifin ini Grup Sriboga semakin menggurita.

Sriboga fokus pada bisnis tepung terigu, makanan dan distribusi. Induk usahanya di bawah PT Sriboga Ratu Raya. Perusahaan yang dinakhodai Alwin ini membawahkan beberapa anak usaha, yaitu PT Sriboga Flour Mill (bisnis tepung terigu), PT Sari Melati Kencana (Pizza Hut), PT Sriboga Bakeries Integra (bisnis roti), PT UD Sumber Rezeki (distribusi tepung terigu), PT Ratu Sima Internasional (roti pita), PT Sriboga Marugame Indonesia (Marugame), juga masuk ke bisnis pendidikan, melalui sekolah bisnis IPMI.

Secara keseluruhan, Grup Sriboga merupakan penyumbang terbesar pendapatan kelompok bisnis keluarga itu. Bagaimana Alwin mengembangkan Sriboga hingga beranak-pinak dan besar seperti sekarang? Berikut ini petikan wawancara wartawan SWA Sri Niken Handayani dengan Alwin.

Alwin Arifin, CEO Grup Sriboga (foto: Priyo Santoso) Alwin Arifin, CEO Grup Sriboga (foto: Priyo Santoso)

Sejauh ini, bagaimana perkembangan bisnis Grup Sriboga?

Pada 1998, kami mendirikan pabrik terigu di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Lalu tahun 2002, kami mendirikan PT Usaha Dagang Sumber Rejeki untuk mendistribusikan terigu. Memasuki tahun 2004, Sriboga mulai merambah bisnis restoran dengan memiliki waralaba Pizza Hut. Tahun 2012, di bawah PT Sriboga Flour Mill, merilis PT Sriboga Bakeri Integra dan PT Sriboga Marugame Indonesia. Pada 2013, Sriboga Raturaya melakukan kerja sama investasi dengan Mitsubishi Corporation. Dan di tahun 2014 kami mendirikan PT Ratu Sima Internasional, merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi roti pita di Indonesia.

Model bisnisnya lebih ke B2B atau B2C?

Kami lebih ke business to business, dan saat ini baru merambah business to customer. Konsumen kami yang paling besar dan lama ada tiga pilar. Ada Sauron Bakery, pabrik terbesar kedua di Indonesia, 20% produksi kami sudah diambil sama mereka. Kedua, Nissin Biskuit di Semarang juga pakai punya kami. Dan, beberapa toko roti brand terkenal juga pakai tepung dari kami.

Namun, kami pun sudah meluncurkan produk baru bernama Easy Mix pada Desember 2015. Easy Mix merupakan bumbu serbaguna instan. Kelebihannya, tidak memakai MSG. Easy Mix sudah dijual di beberapa supermarket, tetapi memang belum kami lakukan promosi besar-besaran. Easy Mix terdiri dari dua macam, ada yang khusus tempura, ada juga yang khusus kue-kue. Saat ini Easy Mix sudah dipakai oleh beberapa resto. Ritel di terigu memang kami sudah masuk, tetapi tujuannya hanya untuk branding dan awaraness. Impor gandumnya dari Australia, Kanada, Rusia dan Ukrania.

Dari jumlah produksi, berapa jumlah yang dikonsumsi untuk Grup?

Untuk terigunya hanya 10%. Ke depan tetap akan business to business yang besar, sedangkan business to consumer akan menjadi pelengkap saja.

Apa sih kekuatan yang dimiliki Sriboga Raturaya?

Kekuatan kami adalah membuat spesifik terigu, dan manajemen untuk resto.

Bagaimana gambaran pertumbuhan bisnis Sriboga?

Tahun 2015, total omset mencapai Rp 5,1 triliun. Kontribusi terbesar dari Sriboga Flour Mill. Kalau dari logistik masih kecil kontribusinya, sedangkan Pizza Hut bisa mencapai Rp 2,5 triliun kontribusinya. Pangsa pasar untuk terigu sendiri saat ini sebesar 7%.

(foto: Wisnu Tri Raharjo) (foto: Wisnu Tri Raharjo)

Saat ini berapa jumlah cabang Pizza Hut, PHD dan Marugame?

Saat ini Pizza Hut sudah memiliki 330 cabang, yang terdiri dari 100 cabang PHD yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Tahun 2016, akan ada penambahan lagi 30 cabang yang terdiri 20 PHD dan 10 Pizza Hut. Marugame Udon sudah ada 30 cabang. Tahun ini rencananya akan tambah lima cabang lagi.

Tentang PHD, awalnya kami sudah mendengar bahwa Domino akan masuk ke Indonesia. Di luar sana Domino lebih unggul dibandingkan Pizza Hut. Maka sebelum Domino masuk waktu itu, kami langsung membuka banyak PHD.

Berapa investasinya?

Satu resto Pizza Hut membutuhkan sekitar Rp 3 miliar, sama juga dengan Marugame. Itu hanya untuk fisik, belum termasuk sewa. Karena kalau sewa, tergantung pada lokasinya.

Mengapa tertarik terjun ke resto?

Karena, marginnya lebih besar daripada terigu. Kalau resto langsung berhubungan dengan konsumen. Kami memang ingin adanya integrasi dari ujung ke ujung, upstream dan downstream. Kalau saat ini perusahaan terigu terbesar di Indonesia telah bermain di mi dan roti, kami tidak akan mau masuk ke situ. Karena kalau bermain di bidang yang sama, kami akan mati. Karena itu, kami masuk dari terigu ke resto. Lagipula, resto yang kami kembangkan semua bahan bakunya dari terigu.

Apa lagi yang sedang dikembangkan oleh Sriboga?

Kami sedang membuat satu perusahaan media khusus untuk digital. Bentuknya online digital, yang akan digunakan untuk marketing online seluruh Grup. Rencananya akan diluncurkan akhir tahun ini. Selain itu, kami juga sedang membuat resto lokal, seperti resto Indonesia-Chinese.

Bagaimana dengan bisnis logistik?

Logistiknya PT Usaha Dagang Sumber Rezeki itu khusus untuk pendistribusian terigu, misalnya Pizza Hut mau ambil terigu bisa pakai itu. Tetapi, ini tidak hanya untuk internal, untuk eksternal juga.

Apa sih tantangan utama dalam bisnis terigu ini?

Sekarang di terigu ada tiga hal yang negatif. Pertama, rupiah selalu lemah terhadap dolar. Kedua, supply over demand, sekarang pabrik lebih banyak daripada demand-nya. Ketiga, ada persaingan tidak adil, persaingan antarpemain-besar. Kalau pemerintah tidak memperhatikan, nanti akan seperti mi instan, ada dua pemain besar yang bersaing dan mendominasi: Indofood dan Wings.

Saat ini persaingannya seperti apa?

Persaingannya semakin berat, ditambah kondisi ekonomi yang sedang jelek sehingga ada beberapa perusahaan yang diambil alih oleh perusahaan lain.

Tahun 2008-09 pertumbuhan bisnis terigu terlalu bagus, sehingga banyak yang tertarik investasi. Lalu, dua-tiga tahun baru selesai bikin pabrik, eh di tahun 2015 ekonominya turun. Jadi, kalau mereka mengeluarkan produk baru, kan harus memberikan diskon. Kalau tidak, ya tidak laku. Sementara yang ada, mereka terus menjaga pasar juga, sehingga harga semakin turun. Jadi, tahun 2015 berat. Saat ini, di Indonesia total ada 30 pabrik terigu. Ada 12 pemain baru.

Dampaknya terhadap Sriboga? Bagaimana menyiasatinya?

Bagi Sriboga sendiri, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena kami sudah punya konsumen sendiri dari tahun 1998. Mereka tidak pindah. Cuma, costumer yang baru-baru itu sangat mudah digoyang. Jadi, dari segi pasar kami tidak merasa berat.

Walaupun, tahun 2015 penjualan kami turun, tidak mencapai target. Kira-kira turunnya hampir mencapai 15%. Tahun 2015 kami targetkan 14 juta karung terigu, tetapi hanya dapat 12,5 juta karung (25 kg/karung).

Langkah yang diambil, kami melakukan efisiensi seperti mengurangi produksi, juga SDM. Saat ini jumlah karyawan sekitar 16 ribu orang.

Bagaimana pertumbuhan tahun ini?

Tahun ini kami optimistis akan naik 10%. Dulu kami merasa tidak perlu ekonomis, tetapi sekarang perlu karena kami butuh analis untuk proyeksi ke depan.

Tahun ini berapa proyeksi investasinya?

Tahun 2016 kami butuh Rp 500 miliar, di mana Rp 300 miliar untuk Sriboga Food Solution dan sisanya untuk resto.

Ke depan akan seperti apa model bisnis Sriboga?

Sekarang kami kan bahan bakunya impor, lalu dijual lokal. Ke depan kami akan balik: materialnya akan berasal dari lokal kemudian pendapatannya dari dolar. Jadi, bahan bakunya akan kami cari dari lokal, misalnya rumput laut yang memang asli dari Indonesia.

Anda kan generasi kedua keluarga Arifin. Bagaimana dengan generasi selanjutnya, apakah sudah disiapkan?

Saat ini, generasi ketiga ada 10 orang. Ada lima yang sudah lulus kuliah. Pertama, anaknya Bu Yani. Kedua, anaknya Emil kerja di CIMB, satu lagi jadi chef. Anak saya, satu senangnya film jadi kerja di MAP, yang kedua baru lulus dari teknologi pangan, satu lagi masih kuliah, dan yang terakhir masih SMA. Adapun anaknya Alex, yang satu masih kuliah di Jepang. Anak keduanya baru masuk kedokteran.

Rencananya, mereka kalau bisa tidak ikut gabung di sini. Biar mereka dengan profesi masing-masing, biar ini profesional yang pegang. Mereka jadi komisaris saja, biar tidak ribut.

Anda kan empat bersaudara. masing-masing pegang perusahaan apa?

Saya mengurus bisnis tepung terigu Sriboga Ratu Raya. Emil mengurus Daniprisma. Alex sekarang memegang Danitama, distribusi terigu. Selain itu, dia juga main di jagung, ketan, serta pabrik kayu dan karet di Medan.

Kakak saya, Yani, pegang sekolah Al Azhar di Lebak Bbulus. Adapun ibu saya sendiri pegang pesantren Darul Hikmah dan perkebunan di Sumbawa.

Apa kearifan dari orang tua?

Bapak berpesan, dalam perusahaan jangan sendiri-sendiri, setiap buat perusahaan harus berempat masuk di dalamnya. (AMBS)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)