Ambisi Qasir Jadi Ekosistem Terlengkap untuk Usaha Mikro

Rachmat Anggara Co-Founder dan CMO Qasir, Michael Williem, CEO Qasir, dan Moh. Novan Adrian, Co-Founder dan CTO Qasir. (Foto: Prio/SWA).

Berfokus pada pemilik usaha warung kelontong, kios dan toko dari beragam jenis bisnis, PT Solusi Teknologi Niaga (Qasir) menyediakan platform Point of Sales (POS) yang bisa diakses secara gratis maupun berbayar. Perusahaan yang dirintis pertama kali oleh Novan Adrian dan Rachmat Anggara ini telah mengawali sepak terjangnya sejak 2015.

Bersama dengan Michael Williem, Qasir saat ini telah memiliki 230 ribu pengguna yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Adapun basis pengguna terbesar berada di Jabodetabek, Malang, Surabaya, Bali, dan Yogyakarta. Sementara itu, tercatat sejak awal tahun ini, transaksi yang terekam di dalam sistem Qasir mencapai Rp 76 miliar setiap minggunya.

Hal itu terungkap dari wawancara SWA dengan Michael Williem, CEO Qasir, terkait perjalanan bisnis dan rencana pada 2020. Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan mulai menggarap bisnis POS?
Qasir didirikan pada 2015, ketika itu sifatnya masih software development house. Kami punya klien yang kebetulan dia adalah salah satu retail chain di Malaysia dan produknya waktu itu POS. Setelah selesai proyeknya, kami melihat bahwa jika aplikasi ini bisa dibagikan ke UMKM di Indonesia, akan sangat berarti. Akhirnya, kami mulai membuat versi POS kami sendiri dengan pembelajaran yang sudah kami lakukan disana. Lalu kami mulai sebarkan aplikasi yang gratis pada April 2017.

Kenapa kami mulai bisnis ini? Karena kami percaya bahwa pencatatan transaksi adalah tantangan utama dalam masalah inklusi finansial. Masalah inklusi finansial tidak sebatas pada apakah mereka punya rekening atau tidak, tetapi bisa tidaknya mereka mendapatkan akses ke produk finansial (pinjaman dsb) ya asalnya dari pencatatan baik itu dari POS atau mutasi rekening bank.

Untuk itu kami mulai dengan POS, tetapi di 2018 kami coba reverse engineering. Sebab, usaha mikro belum tentu memakai POS walaupun gratis. Mereka tahu itu dibutuhkan tapi usaha-usaha ini yang ownernya buka sendiri, belanja sendiri, melayani sendiri, menutup toko sendiri sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk mencatat. Akhirnya kami coba reverse engineering, jika kami tidak bisa mendapatkan data penjualannya, bagaimana jika kami bisa mendapat data pembeliannya.

Jadi September 2018, kami mengadakan belanja grosir. Awalnya hanya di Jakarta Selatan, sekarang sudah di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Denpasar. Sejak kami menyediakan fitur belanja grosir, kami ingin tahu warung A ini pembeliannya berapa, logikanya jika mereka membeli 5 dus aqua gelas setiap minggunya berarti mereka menjual 5 dus tiap minggu. Dari data itu, akhirnya kami bisa share list merchant yang kira-kira layak mendapatkan approval untuk mendapat pinjaman. Akhirnya mereka mendapat pinjaman dengan jauh lebih affordable bunga dan marginnya.

Siapa segmen pasarnya?
Usaha mikro dan kecil. Kami melihat apabila komposisi UMKM di Indonesia dibandingkan dengan negara yang sudah berkembang itu ada perbedaan proporsi. Proporsi di negara berkembang lain usaha mikro itu sekitar 91%, sedangkan usaha kecil bisa sampai 5-6%. Di Indonesia, 98,7% adalah usaha mikro. Jadi kami memiliki teori bahwa jika kami bisa membantu usaha mikro menjadi usaha kecil maka Indonesia akan lebih baik. 

Bagaimana model bisnisnya?
Tidak hanya aplikasi, Qasir adalah ekosistem. Artinya, di dalam medium kami banyak sekali produk-produk di dalamnya. Contohnya belanja grosir, pembayaran digital, pendanaan, dan masih banyak lagi yang akan kami kembangkan di tahun ini.

Pendapatan kami yang utama dari penjualan barang, kami mendapat margin. Lalu ketika terjadi pendanaan, kami mendapatkan revenue sharing dari mitra perusahaan tekfin. Dari digital payment contohnya dari discount rate nya, kami juga mendapat revenue sharing. Ke depannya akan ada fitur-fitur berbayar, tetapi fitur-fitur tersebut sudah kami pilih dan ditujukan pada bisnis yang sudah berkembang. Misalnya, fitur untuk nomor antrian. Jika suatu bisnis sudah membutuhkan nomor antrian, berarti bisnisnya sudah berjalan dan mereka mampu. Tapi Qasir sampai kapanpun akan tetap free secara POS nya, kami tidak ada rencana untuk menjadikan itu berbayar.

Apa yang membuat Qasir optimis dengan model bisnis seperti itu, padahal persaingan yang ada saat ini cukup ketat?
Kami melihatnya ini sebagai ekosistem, walaupun aplikasinya gratis bukan berarti tidak ada pendapatan yang masuk. Kami melihat pendapatan akan lumayan masif di 24 bulan setelah sekarang. Darisitu kami bisa memprediksi bahwa dalam waktu 24 bulan ke depan, kami sudah bisa mengcover cost operasional dan harapannya kami bisa mendapat keuntungan dari besarnya ekosistem ini. Jadi revenue strem yang multiple.

Catatannya adalah jika kita hanya melihat SaaS sebagai aplikasi berbayar, berdasarkan biaya berlangganan, maka murni pemasukan biasanya darisitu. Sementara Qasir is beyond dari POS. Masih banyak service-service lain yang akan kami kembangkan. POS adalah medium kami untuk sampai ke merchantnya, agar barrier of entry nya hilang dulu. Seiring berjalan, kami sudah punya back of data yang besar sekali, tipe bisnis seperti apa yang sudah bisa membayar fitur berbayar. Freemium disini bukan yang trial 30 hari gratis lalu berbayar, tetapi seterusnya gratis jika butuh tambahan kami juga sediakan yang berbayar.

Fitur yang sedang kami kembangkan contohnya pengelolaan bahan baku. Misalnya, kue satu kotak itu tepungnya berapa, cokelatnya berapa. Ketika kue ini dijual maka tertranslate ke dapur, oh berarti stoknya sudah berkurang sekian. Kenapa kami sediakan fitur-fitur ini? Karena salah satu cara agar UMKM mendapat keuntungan yang lebih besar adalah dengan memiliki inventory management yang lin, lin artinya pas-pasan, pas abis pas datang. Semakin mereka bisa sampai kesana, semakin bagus. Itulah mengapa supply chain management atau demand plan itu sangat penting. Inikan tidak diajarkan ke UMKM, makannya dibuat teknologi agar membantu mereka untuk menerapkan itu, tanpa mereka harus tahu intinya apa. Selama mereka disiplin memasukan transaksi, inventori, semuanya sudah dihitungkan.

Bagaiaman cakupan pasarnya?
Untuk POS cakupan pasar kami sudah seluruh Indonesia, paling banyak masih di pulau Jawa tapi Sumatera dan Kalimantan sudah mau menyusul. Untuk layanan grosir sudah ada di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Depasar. Harapannya dalam dua tahun ke depan akan berkembang secara sporadik. Bandung jadi ke seluruh Jawa Barat, Yogyakarta jadi seluruh Jawa Tengah, Malang ke seluruh Jawa Timur, dan Denpasar ke seluruh NTB.

Bagaimana peta persaingan di bisnis ini? Apa keunikan Qasir dibanding bisnis serupa?
Pasar UMKM di seluruh dunia besar sekali. Jadi saya bisa katakan bahwa pasar ini terlalu besar untuk  satu perusahaan bisa menguasai. Kami menganggap hadirnya persaingan itu menjadi saling menginspirasi. Segmennya juga cukup berbeda, ada yang khusus untuk bisnis makanan, untuk kecil dan menengah, untuk usaha berjaring. Kami menempatkan di mikro dan kecil. Di usaha kecil, kami percaya diri bahwa produk kami sudah cukup fit disana. Tapi, yang masih kami kembangkan adalah usaha kami di mikro. Bagaimana usaha mikro ini mengadopsi teknologi, tentunya kami harus beri tahu mereka keuntungan mengadopsi teknologi itu seperti apa. Kami masih ada di journey itu.

Jadi jika melihatnya hanya aplikasi, memang banyak yang mirip. Tapi fondasinya sangat berbeda. Qasir merupakan satu-satunya aplikasi yang gratis tanpa batas, adapun fitur berbayar untuk bisnis yang jauh lebih spesifik.  

Apa tantangan di bisnis ini baik internal maupun eksternal?
Kami selalu mencoba bagaimana usaha mikro ini mencatat transaksi. Sebab, tantangan terbesarnya adalah Indonesia ada ribuan pulau, etnis dan kulturnya berbeda, untuk masuk ke suatu daerah saja sangat sulit. Oleh sebab itu, tantangan dari eksternal adalah daerah-daerah Indonesia Timur yang belum banyak terekspos oleh teknologi, kami benar-benar harus punya present disana baru bisa maksimal.

Secara internal, lebih ke pembelajaran. Ketika kami merilis suatu fitur tertentu. Kami pelajari feedback-nya apa, dan kami kembangkan lagi. Dan tantangannya pasti akan balik lagi ke usaha mikro tersebut. Pertama, usaha mikro tidak bisa dikatakan hanya warung. Dari 60 juta usaha mikro yang ada hanya 3,5 juta yang warung. Sisanya, adalah jasa seperti tukang jahit. Bahkan dari definisi Kemenkop dan UMKM, petani dan nelayan itu adalah usaha mikro. Jadi sangat luas cakupannya.

Secara umum usaha mikro dan kecil itu punya 4 masalah. Pertama, lack of business skill. Pengetahuan dan kemampuan mereka untuk berbisinis masih sangat rendah. Banyak yang masih tidak bisa membedakan pedagang dan pengusaha, dan ini sebenarnya yang bisa membawa mereka menyebrang dari usaha mikro menjadi usaha kecil.

Kedua, akses ke teknologi. Ini yang membuat Qasir gratis, teknologi itu sudah terlihat tapi tidak affordable. Ketiga, pembiayaan dengan bunga terjangkau. Karena tidak ada pencatatan transaksi ya mereka tidak memiliki bukti sehingga perusahaan financial manapun tidak punya confidential level yang cukup untuk meminjamkan mereka. Hal ini yang membuat mereka pinjam ke koperasi dan terkadang koperasinya tidak benar, bunganya mahal sekali, dll.

Keempat, income gap. Contohnya, sebuah usaha berjaring jika mengambil Aqua untuk stok 10 toko, sedangkan warung hanya mengambil untuk 1 toko. Dari perbedaan volume saja harganya sudah berbeda. Belum lagi ketika mereknya Aqua ini membayar untuk taruh brand di dinding warungnya. Nah warung-warung kecil ini tidak memiliki knowledgenya untuk kesana yang membuat income gap ini semakin lama semakin besar.

Empat masalah ini yang akan kami telaah terus, apa yang bisa kami lakukan untuk bisa menyelesaikan empat masalah tersebut.

Bagaimana cara edukasi Qasir pada UMKM?
5.000 user pertama kami, kami masuk dari pasar ke pasar (door to door). Setelah berjalan, ketika itu 12.000 pengguna, mulai lebih banyak lewat mulut ke mulut. Jadi 80% pertumbuhan kami itu sangat organik. Memang tidak semua UMKM siap untuk pakai teknologi. Tapi kami tahu karakter-karakter UMKM yang siap mengadopsi itu seperti apa. Misalnya, sudah ada pergeseran regenerasi di mana anaknya yang sudah mengelola atau bisnisnya dimulai oleh anak-anak muda sehingga mereka memang terbiasa. Jadi dua tahun kebelakang kami sangat berfokus pada early apdopter, dari early adopter ini tersebarlah dari mulut ke mulut.

Lalu paling banyak menggaet pengguna itu dari komunitas, karena door to door tidak seefektif ketika masuk komunitas. Semua UMKM yang mau naik kelas ikut komunitas, apapun yang disampaikan disitu itu lebih mudah ditangkap oleh mereka. Contohnya, kami bekerja sama lumayan intens dengan Rumah Kreasi BUMN. Hampir setiap minggu kami mengadakan event untuk mengedukasi UMKM tentang pentingnya pencatatan transaksi. Untuk edukasi ini, kami berkolaborasi dengan mitra seperti dari Grabfood, Martabak Orins, dll. Intinya bagaimana meningkatkan usaha mikro menjadi usaha kecil.

Potensi atau peluang apa saja yang akan ada di bisnis ini?
Kami selalu percaya POS akan menjadi mediumnya, di mana pencatatan transaksi itu yang paling dibutuhkan dari semua bisnis yang berjalan, baik yang lama maupun yang baru. Ke depannya akan banyak core baru. Dan apakah nanti perusahaan POS akan menjadi perusahaan pembayaran? Karena pada dasarnya mereka sudah mencatat, sudah bisa menerima pembayaran, tapi mereka belum memproses pembayaran. Jadi tantangan terbesarnya, karena bidang ini sangat teregulasi otomatis akan membutuhkan banyak waktu. Sekarang kami masih jadi agreratornya saja, tapi tidak menutup kemungkinan ke depan akan menjadi perusahaan pembayaran.

Lalu untuk supply chain, sekarang semua orang berlomba-lomba untuk menyediakan supply chain. Kami melihat supply chain itu tidak jauh dari cara lain untuk mencatat transaksi. Makannya kami tidak menyetok barang sendiri, kami kerja sama dengan mitra grosir yang ada. Kami sudah kerja sama dengan 25 mitra grosir. Kami akan menambah ratusan lagi tahun ini agar jauh lebih dekat dengan lokasi merchantnya. Jadi potensinya besar sekali, dari layanan grosir, pendanaan, penerimaan pembayaran, ke depannya mulai berevolusi siapa yang akan bisa meng-grab market lebih cepat dan lebih baik, pasti akan banyak inovasinya.

Bagaimana kinerja Qasir saat ini?
Saat ini secara keseluruhan ada 220 ribu pengguna, di mana 70 ribu nya adalah user aktif yang memang aktif sekali menggunakan Qasir. Dari 220 ribu pengguna, 30% ada di sektor F&B, 30% ritel seperti fashion and apparel, sisanya layanan jasa seperti barbershop, salon kuku, penjahit, pangkas rambut.

Rata-rata pertumbuhan user Qasir tiap bulan sebesar 15,7%. Sementara pertumbuhan transaksi yang tercatat jauh lebih besar dari itu yakni sekitar 20%. Jadi kami melihat antara yang bergabung dengan Qasir adalah usaha-usaha yang lebih besar, atau usaha yang bergabung dengan Qasir pelan-pelan bisnisnya jauh lebih besar.

Untuk belanja grosir, sudah ada 25 agen yang bergabung dengan Qasir yang menyuplai ke 15.000 UMKM di Jabodetabek, Bandung, Malang dan Denpasar. Dari tiap transaksi, Qasir mengutip margin 1% dari setiap produk yang disalurkan ke mitra Qasir.

Target dan rencana ke depan?
Kami ingin menjaga pertumbuhan 15% tersebut dan target tahun ini di 1,6 juta user, tahun depan sekitar 6 juta user. Kami juga sedang fokus untuk mengejar user aktif menjadi 40-50%.

Untuk belanja grosir, target kita Rp 10 miliar per bulan. Awal tahun ini sudah Rp 8 miliar per bulan. Setiap bulan ada kenaikan transaksi sekitar 17-18% di pembelanjaan grosir.

Kami juga setiap minggu merilis fitur baik itu kecil maupun besar, tapi yang pasti akan banyak fitu-fitur berbayar yang lebih spesifik ke bisnis tertentu (ini untuk F&B dan jasa). Sementara usaha ritel solusinya lebih banyak ke arah mikro, di mana pengembangang mikro ke depannya akan lebih banyak ke pembayaran yang lebih cepat misalnya. Jadi banyak fitur yang akan kami rilis, tapi fokusnya bagaimana menaikkan level usaha mikro menjadi usaha kecil.

Total karyawan?
180 orang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)