Arka Gabungkan Production House dan Market Research

Arka Creative Studio mengaku sebagai perusahaan pertama yang menggabungkan bisnis rumah produksi dan riset pasar.

Perusahaan ini secara resmi diperkanalkan pada September 2017, yang di nakhodai oleh Anshar Safri. Sejak 6 bulan kehadirannya, kini Arka telah memiliki 10 klien yang berasal dari sektor pemerintahan, perusahaan Jepang, dan start up. Berikut wawancara SWA Online dengan Anshar Safri, CEO Arka Creative Studio.

Apa bisnis utama yang ditekuni Arka Creative Studio?

Kami menyebutnya sebagai hybrid company, main service kami ada di audio visual, tapi menggunakan riset kualitatif. Jika production house (PH) lain ketika mendapatkan order langsung membuat visualnya, kalau kami setelah mendapat order dari klien, membuat terlebih dahulu riset kualitatifnya. Jadi, kami tidak memberikan hasil produk saja, tapi kami juga memberikan suggestion kepada tim marketing. Baik dari target, penempatan iklan, dan strategi pemasaraannya seperti apa atau insight  kepada klien.

Sudah berapa klien yang ditangani oleh Arka?

Ada 10 klien, klien pertama kami adalah Yayasan Sang Timur. Saat itu mereka membuat acara untuk performance anak jalanan. Kami bantu mereka untuk membuat video promosinya. Kemudian kami juga mendapatkan proyek dari PT Waskita Realty untuk membuat video ulang tahun mereka. Baru-baru ini kami mengerjakan video milik Kemenko bidang Kemaritiman RI untuk acara Sail Sabang 2018. Kemudian ada Shopee, kami mengerjakan produksi. Selain itu, kini kami telah bekerja sama untuk 5 tahun ke depan dengan perusahaan asal Jepang, Digital Logic untuk membuat animasinya. Secara garis besar target klien kami adalah pemerintah, perusahaan Jepang, dan start up.

Mengapa mengincar pasar dari perusahaan Jepang?

Sebenarnya saya bikin terlebih dahulu, baru kami melihat adanya kebutuhan perusahaan Jepang itu apa. Kami melihat adanya celah yang bisa dikomunikasikan dari perusahaan Jepang ini. Bisa dibilang timing pas. Kami melihat ada tiga masalah terbesar perusahaan Jepang di Indonesia , yakni human resource, market knowledge, dan business partner. Nah, kami melihat Arka bisa menjembatani hal itu.

Berapa modal awalnya?

Sekitar Rp400 juta untuk operational, misalnya untuk bahan-bahan promosi digital. Kemudian untuk membuat video yang dipesan oleh klien, nah dari uang kapital itu diputar.

Berapa biaya untuk pengerjaan sebuah proyek?

Minimal Rp150 juta full service dari riset sampai marketing. Pengerjaan sendiri memakan waktu 1-2 bulan, tergantung dari konsep. Kalau banyak menggunakan visual effect itu membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.  Paling lama adalah pengerjaan untuk editing. Untuk after sales, kami menyediakan bertahap hingga hasilnya sesuai dengan permintaan. Untuk risetnya sendiri memakan waktu 2-3 hari.

Tantangan terbesar dalam bisisn start up adalah SDM, bagaimana Anda menghadapinya?

Secara SDM mungkin kapasitas kami belum sesuai dengan standar, namun kami memiliki fondasi yang kuat. Mereka pintar, hanya kurang berpengalaman. Makanya kami memiliki program internal yang berbentuk sharing, yang dilakukan setiap seminggu 2 kali. Di sana kami saling sharing mengenai ilmu-ilmu yang menjadi background kami, maupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bisnis. Harapannya, dari sini dapat menyamakan visi dan menambah referensi untuk meningkatkan kreativitas.

Berapa jumlah karyawan Arka?

Ada 20 orang freelance dan 6 orang full time. Karyawan banyak freelance, karena kami adalah perusahaan baru, turn over belum terlihat dan untuk efisiensi. Sebab, sekarang kami masih mengerjakannya per proyekct. Selain itu, kami juga melihat kcederungan anak muda sekarang yang tidak mau diikat.

Apa target tahun 2018?

Tahun ini kami ingin memperkuat internal kami terlebih dahulu, memperkuat sistem. Hal yang paling banyak missed dari perusahan baru adalah perhitungn finansialnya. Kami ingin bagaimana finansial sistem  bisa dilihat secara online melalui sistem dan terhitung secara real time dan akurat.

Selain itu, aktivitas di industri kreatif adalah pada malam hari, jika mau mengikuti mereka, maka tidak akan terkontrol. Makanya, saya menciptakan sistem daily report yang digunakan setiap hari, catatan harian anak-anak. Sistem ini juga dapat membantu untuk menghitung Key Performance Index di akhir bulan nanti. Jadi, kami bisa mengukur kualitas dan kuantitas performa anak-anak. Penguatan internal nantinya juga akan memengaruhi produktivitas kami, jika dulu kami mendapatkan 4 proyek sudah agak kesulitan, nah bagaimana di tahun ini kami mendapat banyak projek dan mampu mengerjakan dengan lancar.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!