CEO Alfamart: 2016 Melanjutkan Konsolidasi Internal

Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh tantangan, terutama bagi para pelaku retail. Hal ini dikarenakan turunnya daya beli masyarakat. Namun menghadapi tahun 2016 sekaligus tahun Monyet Api, PT Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) merasa lebih optimis. Apa yang menyebabkan Alfamar merasa lebih optimis? Serta bagaimana cara Alfamart untuk menghadapi persaingan bisnis di tahun 2016? Berikut wawancara SWA Online dengan Direktur Utama Alfaria Trijaya Tbk, Hans Prawira:

Alfamart-Hans

Menghadapi kemelut ekonomi yang dirasakan di 2015, sebagai pelaku bisnis retail dampak apa yang Anda rasakan?

Perlambatan ekonomi yang terjadi tahun 2015 ditandai antara lain dengan penurunan daya beli konsumen. Di satu sisi, rendahnya harga dan permintaan komoditas dan hasil tambang telah menyebabkan industri yang menyerap banyak tenaga kerja ini mengalami tantangan yang luar biasa.

Banyak perusahaan di sektor ini dan sektor penunjangnya tidak mampu bertahan dan banyak pekerja kehilangan pekerjannya atau penurunan penghasilannya. Di sisi lain, melemahnya Rupiah terhadap US$ telah menyebabkan kenaikan harga pokok barang-barang konsumsi dari produsen. Kondisi ini tentunya menyebabkan konsumen lebih cermat dalam berbelanja.

Beberapa kategori, khususnya yang bukan merupakan kebutuhan utama (seperti skincare, soft drink, dll) mengalami penurunan volume yang cukup signifikan. Dalam beberapa kategori, terjadi pula perubahan pola belanja konsumen yang beralih pada kemasan yang lebih kecil atau brand yang lebih murah.

Melihat perkembangan yang terjadi di tahun 2015, menurut Anda bagaimana peluang bisnis di sektor retail di tahun 2016? 

Kami melihat tahun 2016 merupakan tahun yang masih penuh dengan tantangan, namun di sisi lain kami juga optimis melihat cukup banyak peluang di tengah tantangan yang ada. Kuncinya adalah bagaimana kami bisa lebih mengerti apa yang menjadi kebutuhan konsumen dan selalu relevan dengan kebutuhan konsumen.

Tantangan terbesar yang mungkin kita hadapi tahun 2016 ini adalah kondisi makro ekonomi yang sepertinya masih melambat dan seberapa Rupiah masih akan terdepresiasi terhadap US$. Kalau pelemahan Rupiah terus terjadi, tentunya produsen juga terpaksa harus menaikkan kembali harga pokok barang dan tentunya akan semakin menurunkan daya beli konsumen.

Harga komoditas dan hasil tambang pun sepertinya belum menunjukkan adanya indikasi meningkat karena permintaannya pun relatif belum akan tumbuh. Dalam kondisi ini, kita berharap percepatan penyerapan anggaran belanja pemerintah, terutama di sektor infrastruktur yang menyerap tenaga kerja cukup besar, bisa membantu perbaikan daya beli konsumen.

Dalam situasi ini, kami berusaha untuk melakukan konsolidasi internal. Yaitu, bagaimana kami bisa lebih mengerti konsumen dengan menggunakan big data analytics. Di Alfamart, kami melayani dan berinteraksi dengan lebih dari 3 juta konsumen setiap harinya. Dengan melakukan analisa data dan pola belanja konsumen, kami berharap bisa menjadi lebih relevan dan bisa sungguh menjadi bagian dari keseharian konsumen.

Hal lain yang juga merupakan bagian dari konsolidasi internal adalah dengan terus menerus memperbaiki proses bisnis internal kami untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha. Peranan teknologi dan digital menjadi krusial dalam upaya perbaikan proses bisnis ini.

Bagaimana kesiapan Anda di era MEA ini?

MEA memungkinkan aliran barang dan tenaga kerja menjadi lebih bebas masuk antarnegara. Tentunya kondisi ini mengharuskan kita meningkatkan daya saing dan kemampuan SDM kita.

Dalam industri retail, kemampuan kita mengenal karakteristik pasar lokal dan mengenal konsumen menjadi hal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen.

Kami percaya ini adalah modal yang sangat penting dalam bersaing dengan perusahaan lain dalam lingkup ASEAN. Kemampuan dan produktivitas SDM terutama dalam mengerti dan melayani konsumen tentunya juga menjadi sangat krusial dalam bisnis ritel. Selain itu kami juga terus menerus melakukan penyempurnaan sistem operasi yang terintegrasi dalam Supply Chain Management bisnis kami, mulai dari PoS di toko sampai replacement barang dari gudang kami maupun dari pemasok.

Saat ini Alfamart juga telah hadir di pasar Filipina, bekerja sama dengan retailer setempat. Kami terus melihat peluang untuk bisa hadir di wilayah lain dalam kawasan.

Adakah usulan Anda untuk pemerintah, guna mendorong perputaran bisnis, terutama di sektor retail Indonesia agar berputar lebih kencang?

Harapan kami tentunya Pemerintah dapat mempercepat penyerapan anggaran belanja, terutama terkait dengan sektor infrastruktur. Perbaikan dan pembangunan infrastruktur juga penting untuk menekan disparitas harga di pasar, khususnya wilayah luar pulau Jawa karena tingginya biaya pengiriman barang ke wilayah-wilayah ini.

Pemerintah juga kami harapkan untuk menghilangkan dikotomi pasar modern dan pasar tradisional yang seringkali dipermasalahkan, karena sebenarnya keduanya dapat saling bersinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kehadiran pasar modern sebenarnya merupakan asset nasional yang juga dapat membantu pemerintah dalam pendistribusian barang dan pengendalian harga.

Bagi Alfamart, kami juga merasa penting untuk bisa tumbuh bersama dengan pedagang tradisional dan bahkan kami melakukan beberapa inisiatif pemberdayaan UKM retail sekitar toko dengan menyalurkan barang dengan harga sangat bersaing, memberikan pelatihan dan pendampingan usaha ritel, antara lain terkait product trend, dan manajemen ritel sederhana. Pada akhirnya, kami berharap konsumen pada umumnya yang akan diuntungkan dengan mendapatkan barang terbaik dengan harga dan pelayanan terbaik.

Apa target Anda di tahun 2016?

Tahun 2016 merupakan tahun konsolidasi bagi kami di Alfamart yaitu dengan berusaha lebih mengenal dan mengerti kebutuhan konsumen yang terus berubah, dan di sisi lain dengan meningkatkan proses bisnis internal untuk produktivitas dan efisiensi. Kami juga terus melanjutkan proses transformasi bisnis kami, yang tidak hanya berperan sebagai toko ritel penyedia kebutuhan pokok dan sehari-hari konsumen, tetapi juga dengan memanfaatkan jaringan toko kami yang berjumlah lebih dari 11.000 sebagai toko komunitas yang menjadi bagian dari keseharian konsumen, melalui penyediaan jasa-jasa lainnya, baik jasa pembayaran utilitas, cicilan pembiayaan, jasa keuangan, dll. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)