CEO Bio Farma: Kami Produksi Miliaran Dosis Vaksin Tiap Tahun

Maraknya peredaraan vaksin palsu cukup mencengangkan. Pasalnya, Indonesia sendiri merupakan salah satu negara pengekspor vaksin yang namanya diperhitungkan di kancah internasional. Keberadaan perusahaan pelat merah Bio Farma telah lama menjadi oase di Tanah Air, telah lama menjadi andalan  pemerintah dalam menyiapkan generasi yang sehat dan bebas dari penyakit menular.

Lalu bagaimana sebenarnya kiprah Bio Farma selama ini. Untuk membahas hal tersebut, SWA Online berkesempatan langsung melakukan sesi taya jawab dengan Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Iskandar. Berikut petikan wawancaranya:

Apakah ada vaksin produk Bi ofarma yang ikut dipalsukan?  Jika ya mohon dijelaskan vaksin apa saja yang ikut dipalsukan?

Dari hasil pemeriksaan di Laboratorium Bio Farma dan BPOM, vaksin Bio Farma tidak ada yang dipalsukan.

Sekarang ini sedang gencar dilaksanakan program vaksin ulang di beberapa wilayah oleh Pemerintah dan semua pihak terkait. Apa saja program dan peran Biofarma dalam hal ini supaya program ini dapat berjalan efektif?

Kami menyediakan dan menjaga ketersediaan pasokan vaksin untuk program vaksin ulang, yaitu vaksin Hepatitis B, DTP (Difteri,Tetanus, Pertusis) dan Vaksin Polio sesuai dengan program pemerintah, sehingga masyarakat tidak khawatir lagi karena putra putrinya telah terproteksi, program ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan data dan laporan dari masyarakat

Ke depan, supaya pemalsuan vaksin dapat dicegah, menurut saran Bio Farma, SOP apa yang sebaiknya dibuat?

Sebagai langkah antisipasi dan evaluasi agar tidak terjadi lagi peredaran vaksin palsu, setiap fasilitas layanan kesehatan dan pusat imunisasi baik Pemerintah maupun swasta, agar memiliki prosedur dan fasilitas pengelolaan dan pengendalian limbah Vaksin / wadah bekas vaksin yang digunakan atau vaksin yang kadaluwarsa.

Apa saja yang sudah dan akan dilakukan Bio Farma untuk dapat terus meningkatkan kualitas vaksinnya?

Untuk menjamin kualitas vaksin, menerapkan proses pengujian yang ketat melalui badan POM dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) , meningkatkan kapabilitas SDM bidang pengujian mutu serta bersinergi dengan stakeholder lainnya baik dalam maupun luar negeri.

Apa riset-riset yang sekarang sedang dan akan dilakukan Biofarma, supaya Biofarma dapat terus menjadi salah satu yang terdepan sebagai produsen vaksin kaliber dunia? Bagaimana pula dengan kesiapan tenaga-tenaga perisetnya?

Saat ini selain riset untuk produk vaksin seperti Rotavirus (vaksin untuk mencegah diare), Tifoid (untuk mencegah penyakit tifus, Pneumococus (untuk mencegah penyakit radang paru-paru) serta vaksin-vaksin generasi baru yang masih dalam pipeline riset, kami juga sudah mulai masuk untuk pengembangan produk Lifescience (produk biologi di luar dari vaksin seperti) seperti Monoclonal antibodi, diagnostik kit, dan produk lainnya.

Pada Desember 2015, kami dengan Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersinergi untuk mengembangkan pembuatan Erythropoietin (EPO) generasi kedua. Kerja sama tersebut ditandai dengan penyerahan Research Cell Bank dari LIPI ke Bio Farma di Bandung, pada 28 Desember 2015. Bio Farma akan melanjutkan riset tentang karakter Erythropoietin (EPO) yang memakan waktu 6 bulan. Uji lainnya adalah seperti mencobanya pada pasien yang bersedia sesuai dengan standar industri kesehatan. Mudah-mudahan dalam waktu empat tahun mendatang sudah siap menjadi produk untuk membantu terapi pasien cuci darah, kemoterapi, dan anemia. Pembuatan EPO tersebut penting untuk pengobatan pasien anemia berat akibat gagal ginjal kronis dan kemoterapi. Saat ini Indonesia masih Impor, setelah temuan ini kami berhadap menjadi mandiri diproduksi Bio Farma.

Pada tahun 2016 ini, tepatnya 27 Juni 2016, kami juga melakukan sinergi dengan PMI untuk pengelolaan blood produk – pengelolaan plasma darah menjadi produk Globulin dan Albumin, yaitu produk untuk pemulihan dan kekebalan tubuh paska operasi. Blood Product ini pengembangannya lebih sederhana dibandingkan vaksin, sehingga kami memiliki kapasitas dan kapabilitas.

vImage.php

Apa kerugian Bio Farma dengan kasus beredarnya vaksin palsu?

Dalam keadaan normal, sebagian masyarakat memilih untuk tidak memvaksin anaknya dengan berbagai pertimbangan dan alasan, seperti aspek ketakutan terhadap zat dalam vaksin dan isu bersinggungan dengan barang haram. Dengan ditemukannya kasus pemalsuan vaksin, , menambah keraguan orang tua untuk memvaksinasi anaknya, sehingga menurunkan kesadaran tentang pentingnya vaksin. Sehingga ini menjadi kendala untuk pencapaian program imunisasi nasional, akan berdampak terhadap capaian Indonesia untuk vaksinasi dibandingkan dengan negara lain.

Kalau tak salah, sebagian besar yang dipalsukan adalah vaksin impor.  Harga vaksin impor tentunya lebih mahal dibandingkan vaksin produk nasional (Biofarma) sehingga orang tergiur membuat vaksin impor palsu.  Berapakah perbandingan harga vaksin impor dengan vaksin Bio Farma untuk jenis vaksin yang sama?  Kenapa harga vaksin impor jauh lebih mahal?  Apakah kualitasnya memang lebih bagus?

Dari hasil pemeriksaan Bareskrim, vaksin yang dipalsukan memang berasal dari vaksin impor. Perbedaan harga antara vaksin palsu dengan vaksin Bio Farma, disebabkan oleh proses distribusi yang lebih panjang dan rumit di vaksin impor sehingga harga vaksin impor lebih mahal dibandingkan dengan vaksin lokal. Dari segi kuliatas baik vaksin Bio Farma maupun vaksin impor, memiliki kualitas yang sama, karena baik Bio Farma maupun produsen vaksin impor, menggunakan standar yang sama yaitu standar yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Ada yang bilang vaksin impor lebih praktis karena menggabungkan beberapa vaksin (bisa 5 vaksin) ke dalam satu formula sehingga lebih praktis dalam melakukan vaksinasi.  Ada juga yang mengatakan pemberian vaksin impor tidak akan menimbulkan efek panas tubuh.  Nah, apa komentar Anda terkait dengan persepsi seperti itu?

Bio Farma juga memiliki vaksin yang terdiri dari 5 antigen (pentavalen), yang terdiri dari (Difteri – Tetanus, Pertusis, Hepatitis B dan Haemophylus Influenza Type B) sehigga dalam pemberian vaksin, ibu dan balita tidak perlu bolak balik ke Puskesmas untuk melakukan vaksinasi.

Penyebab tidak terjadi efek panas pada vaksin impor, disebabkan ada beberapa komponen bakteri pertusis yang dihilangkan dari formulasi vaksin kombinasi, biasanya komponen dari vaksin DTP terutama vaksin Pertusisnya, (dikenal denga nama : acellular pertusis (aP). Namun, kasus di negara maju, setelah dewasa, ada kemungkinan akan terserang penyakit tersebut.

Sedangkan vaksin yang menyebabkan sedikit demam sesaat setelah pemberian, menggunakan teknologi, seluruh komponen bakteri (whole cell) yang telah dilemahkan, diformulasikan dengan komponen vaksin lainnya. Vaksin ini dikenal dengan nama whole Pertusis (wP). Dan vaksin yang menyebabkan demam sesaat setelah pemberian, kemungkinan pasien terjangkit penyakit pertusis saat dewasa lebih kecil dibandingkan dengan pasien yang menerima vaksin sebagian cell, Sebenarnya ini kami kembalikan pada pilihan masyarakat, karena tujuan nya memang sama – sama  untuk mencegah terjangkit penyakit.

Ada berapa jenis vaksin yang diproduksi Bio Farma?  Berapa jenis vaksin Biofarma yang telah memenuhi standar dunia (WHO)?  Vaksin apa saja yang telah memenuhi standar dunia?  Diekspor ke mana saja?

Vaksin produksi Bio Farma yang digunakan untuk Program Imunisasi Nasional adalah :

1. Vaksin Pentabio (DTP-HB-Hib)
2. Vaksin Jerap DT (Pencegahan Penyakit Tetanus dan Difteri)
3. Vaksin Jerap Td (Pencegahan Penyakit Tetanus dan Difteri)* diberikan saat imunisasi ulangan / Bulan Imuniasi Anak Sekolah (BIAS), anak SD kelas 3. Vaksin ini sama degan vaksin DT (Difteri Tetanus) tetapi komponen Difterinya lebih sedikit.
4. Vaksin Campak Kering
5. Vaskin Poliomyelitis Oral (Polio) Type 1 & 3
6. Vaksin Hepatitis B
7. Vaksin BCG (Pencegahan Tuberkulosis / TBC)
8. Vaksin Bio TT

Selain itu, vaksin lain untuk dewasa di luar dari program seperti vaksin Influenza (Flubio), Hepatitis B untuk dewasa, juga kami menyediakan vaksin lain seperti vaksin Meningitis untuk jamaah haji dan umrah.

Berapa jumlah produksi vaksin Bio Farma per tahunnya?  Berapa % yang diekspor?  Ke negara mana saja?  Berapa nilai ekspor selama 3 tahun terakhir?

Sekitar 2 miliar dosis per tahun

Kami memprioritaskan kebutuhan vaksin dalam negeri terlebih dahulu, karena kapasitas kami besar sehingga selain memenuhi Indonesia sisanya dapat memenuhi kebutuhan negara lain didunia, sekitar 40 % kebutuhan dalam negeri dan 60% kebutuhan global .

Nilai ekspor 3 tahun terakhir rata-rata Rp 1,6 triliun / tahun

Berapa persen pangsa pasar vaksin Bio Farma di pasar domestik?  Vaksin apa saja yang didistribusikan di pasar domestik?

Vaksin merupakan produk farmasi yang tidak dapat dijual bebas. Untuk kebutuhan vaksin dalam negeri, Bio Farma membagi dua saluran distribusi yaitu untuk sektor Pemerintah dan swasta. Untuk sektor pemerintah, vaksin dari Bio Farma langsung dikirimkan ke Dinas Kesehatan Provinsi. dari Dinas Kesehatan Provinsi akan disalurkan lagi oleh pihak Dinkes Provinsi ke Dinkes Kota / Kabupaten. Dari Dinkes Kota / Kabupaten, akan disalurkan ke Puskesmas / Posyandu kemudian diberikan kepada pasien.

Untuk sektor swasta, vaksin yang dari Bio Farma akan didistribusikan melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang sudah terdaftar di BPOM, dan setiap tahunnya selalu diadakan audit yang dilakukan oleh Bio Farma.

Siapa yang mendistribusikan vaksin Bio Farma di dalam negeri?  Bagaimana Bio Farma ikut berperan dalam mencegah pemalsuan vaksin ?

Standar ketat dalam proses produk vaksin agar terjaga otentik dan kualitasnya, sehingga orisinalitas produknya terjaga dan berstandar internasional. Distribusi vaksin pemerintah di dalam negeri, dipastikan keamanan diawali dengan pengiriman dari pabrik ke dinas provinsi kemudian ke dinas kabupaten sampai akhirnya ke kecamatan.

Sedangkan untuk swasta dari pabrik vaksin langsung dikirim ke gudang distributor, melalui distributor resmi yang secara periodik dilakukan audit agar selalu terjamin kualitas dan keamanan produknya. Dengan demikian, tidak akan ada kebocoran pengiriman vaksin.

Produk Biofarma dilengkapi dengan teknologi VVM (vaccine vial monitor) untuk mengetahui kualitas vaksin apabila terpapar suhu yang tidak semestinya akan berubah warna.

Kementerian Kesehatan menganjurkan untuk membeli vaksin di distributor resmi atau minta ke Dinkes. Para user khususnya tenaga kesehatan, dokter, bidan agar waspada jika menemukan produk yangg tidak jelas sumbernya. Untuk menjamin kualitas vaksin yang Asli Bio Farma memiliki 4 distributor resmi untuk sektor swasta, yakni:

1. PT Rajawali Nusindo
2. PT Indofarma Global Medika
3. PT Sagi Capri
4. PT Merapi
5. PT PPI (khusus untuk tender)

Kriteria pemilihan distributor :
- memenuhi aspek administrasi (legalitas, track record)
- memenuhi aspek teknis, cara distribusi obat yang baik (CDOB)
- memahami dan menerapkan cold chain system/ sistem rantai dingin - tata cara penyimpanan dan pendiatribusian vaksin
- setiap distributor dilakukan audit rutin

Berapa jumlah produsen vaksin dunia yang memenuhi standar WHO?  Bio Farma berada di peringkat berapa? 

Saat ini kurang dari 30 produsen vaksin dunia dari total 200 pabrik vaksin, Bio Farma memiliki portofolio produk yang lengkap dengan segmentasi untuk pasar negara berkembang dan negara Islam.

Apa keunggulan Bio Farma sebagai produsen vaksin?  Apa pula prestasi yang layak dibanggakan?

Produk berkualitas tinggi, aman, ampuh/ efektif (safety, quality & Efficacy) produk dalam negeri berstandar internasional dan menerapkan teknologi ramah lingkungan (green product). (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)