CEO CIMB Niaga Optimistis Pertumbuhan Bisnis 2013

Direktur Utama CIMB Niaga, Arwin Rasyid.

Rasa optimistis meliputi sebagian besar CEO perusahaan besar di Indonesia, tak terkecuali bagi Direktur Utama Bank CIMB Niaga, Arwin Rasyid. Menurutnya, semakin kuatnya daya konsumsi masyarakat dan tingginya arus investasi menjadi dua faktor penting pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2013. CIMB Niaga juga tanggap akan karakter pasar Indonesia yang didominasi masyarakat kelas menengah Gen-Y. CIMB Niaga berencana menyediakan layanan yang menawarkan solusi bagi nasabahnya. Berikut petikan wawancara Arwin Rasyid dengan reporter SWA Rangga Wiraspati:

1. Bagaimana anda melihat situasi bisnis tahun 2013? Apakah akan semakin baik? Apa faktor-faktor yang mendorongnya?

Kalau kita lihat struktur ekonomi Indonesia, mesin penggerak pertumbuhan masih didominasi oleh faktor konsumsi masyarakat, yang mana akan semakin kuat seiring dengan perkembangan pendapatan per kapita. Sebagai catatan, pendapatan per kapita penduduk Indonesia selama 5 tahun terakhir telah meningkat 2 kali lipat menjadi US$3,511 saat ini. Pemerintah juga tak luput dalam memberikan stimulus melalui keringanan pajak pendapatan serta kenaikan upah minimum di berbagai daerah. Kebijakan yang akan efektif pada tahun 2013 ini tentunya ditujukan agar semakin banyak lapisan masyarakat memiliki daya beli memadai, serta dirancang terutama bagi golongan yang mempunyai karakter untuk membelanjakan kelebihan pendapatannya.

Mesin penggerak ekonomi lainnya muncul beberapa tahun belakangan dalam bentuk investasi. Bermula dari arus modal asing yang masuk ke instrumen keuangan Indonesia (pasar uang, saham, obligasi) pada tahun 2004, lalu diikuti dengan investasi langsung ke sektor riil 6 tahun setelahnya. Hal ini bahkan telah berhasil memicu keberanian investor domestik untuk turut menambah penanaman modal langsung sejak tahun 2011. Dengan demikian basis ekonomi dalam bentuk kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja pun terus bertambah.

Hal senada dinyatakan oleh Bank Indonesia yang menaikkan target pertumbuhan tahunan kredit dari 22% - 24% pada tahun 2012 menjadi 22% - 26%. Didukung oleh kesinambungan berbagai kebijakan moneter untuk memperbaiki tingkat efisiensi perbankan serta menekan tingkat suku bunga, bank sentral terus berupaya memperdalam penetrasi ke sektor produktif tanpa mengesampingkan kualitas aset. Kami pun memandang optimis kondisi bisnis tahun 2013 minimal akan sama dengan tahun sebelumnya, bahkan sangat berpotensi untuk melampaui.

2. Apa pula yang menurut Anda menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi/bisnis di tahun 2013? Bagaimana usulan solusi dari Anda?

Tantangan terbesar ekonomi Indonesia tahun depan masih merupakan imbas dari krisis global yang bermuara di Amerika Serikat tahun 2007 – 2008 serta efek ”domino”nya ke Eropa dan Asia Timur belakangan ini. Sebagai negara yang memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Indonesia, perlambatan di Cina dan Jepang membawa risiko terhadap arus investasi dan perdagangan Indonesia. Sedangkan kedua hal ini akan mempengaruhi pergerakan fundamental Rupiah, yang akhirnya memberikan kekhawatiran terhadap persepsi investor asing ketika menanamkan modal di aset berharga domestik. Skenario yang pernah terjadi di pertengahan tahun 2012.

Bila risiko tersebut menjadi kenyataan, Bank Indonesia masih akan mengutamakan penggunaan kebijakan makroprudensial di luar suku bunga acuan. Di sini potensi untuk menaikkan suku bunga pasar bertenor pendek atau pun Fasilitas BI (FasBI) dalam instrumen operasi pasar terbuka (OPT) bisa terjadi. Peluang pelemahan Rupiah menuju ekuilibrium baru pun terbuka lebar. Arah kebijakan moneter akan bersifat ”soft tightening” dengan obyektif untuk menahan laju konsumsi, terutama atas barang impor. Hanya jika diperlukan, maka bank sentral akan mengoptimalisasi suku bunga acuan dengan proyeksi kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%.

Selain perdagangan barang, terdapat satu isu dalam transaksi berjalan yang juga memerlukan fokus perhatian regulator, yakni jasa pengangkutan untuk produk ekspor. Berdasarkan data empiris Neraca Pembayaran Indonesia selama 7 tahun terakhir, rerata nilai ekspor per kuartal sebesar US$6,8 miliar lebih tinggi dibanding impor, sementara jasa pengangkutan untuk produk ekspor tersebut rata – rata US$1,5 miliar di bawah nilai jasa pengangkutan untuk impor. Secara implisit hal ini menunjukkan adanya kecenderungan eksportir dalam negeri yang lebih mengedapankan penggunaan jasa pelayaran asing, sebagai alat angkut utama. Di sisi lain, bila potensi jasa pelayaran domestik bisa dikembangkan, maka dampak positifnya terhadap struktur neraca pembayaran akan signifikan. Terutama pada saat kondisi ekonomi global pulih dan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia hidup kembali.

3. CIMB Niaga sendiri menargetkan pertumbuhan bisnis berapa persen? Apa pertimbangan mematok pertumbuhan bisnis sebesar itu? Dibandingkan dengan tahun 2012, apakah lebih tinggi atau lebih rendah?

CIMB Niaga mempunyai target pertumbuhan kredit sekitar 17 -18%, hampir sama dengan angka realisasi pertumbuhan kredit tahun sebelumnya. Angka pertumbuhan ini berada pada tingkat yang optimal baik dari segi peningkatan profitabilitas maupun pemenuhan kebutuhan modal yang dibutuhkan.

Pertimbangannya salah satunya adalah kondisi makro Indonesia yang cukup mendukung. Domestic Consumption yang kuat juga merupakan pertimbangan bagi bank, khususnya pada segmen retail. Bank mempunyai fokus khusus dalam hal retail, mengingat besarnya pasar di Indonesia, dimana ada strategi-strategi yang akan diterapkan, diharapkan akan dapat menunjang pertumbuhan dana murah dan kredit secara lebih berkelanjutan.

Perhitungan secara pertumbuhan,ekonomi pada tahun 2013 diestimasikan lebih kecil dari 2012, lebih banyak dipengaruhi oleh ancaman-ancaman ataupun perubahan yang disebutkan diatas. Namun hal tersebut tidak menghalangi bank untuk terus berinovasi dalam memberikan solusi bagi nasabah, karena justru dengan adanya ancaman-ancaman bisnis, akan muncul kesempatan dimana kreatifitas dalam penyelesaiannya/solusi akan menjadi nilai tambah utama. Selain itu tingginya persaingan industri juga secara tidak langsung memaksa bank untuk melakukan usaha- usaha yang game changing/breakthrough ideas.

4. Apa rencana bisnis yang diagendakan CIMB Niaga untuk mencapai pertumbuhan bisnis tersebut? Mengapa rencana bisnis ini yang dipilih?

Rencana bisnis yang akan dijalankan bank masih mengacu kepada strategi Six Pillars. Dimana salah satunya adalah pertumbuhan bisnis konsumer dan mikro, contohnya pada kartu kredit, kendaraan bermotor, dan lain-lain. Juga dengan pertumbuhan dana murah, bank akan berusaha meningkatkan dengan cara menyediakan layanan yang memberi solusi bagi nasabah kita. Salah satunya adalah dengan pengembangan Branchless Banking, dimana kita akan melakukan modernisasi channel electronic, dan lain-lain.

Rencana bisnis ini sesuai dengan karakter market Indonesia yang saat ini (dan akan datang) didominasi oleh Gen Y, dimana kemudahan (simple banking) menjadi perhatian. Artinya tidak perlu lagi ke kantor cabang untuk melakukan transaksi perbankan, cukup dengan menggunakan PC/Laptop atau bahkan dengan tablet ataupun smartphone.

Perbaikan-perbaikan secara proses internal juga sedang gencar dilakukan, baik dari proseskredit dan review, pengawasan fraud, dan infrastruktur IT yang akan mendukung perubahan-perubahan proses ke arah yang lebih baik. Tujuan akhir tentunya adalah meningkatkan kepuasan nasabah. Meskipun hal-hal tersebut tidak dapat langsung dirasakan oleh nasabah dalam jangka pendek, namun kami percaya bahwa perbaikan internal ini yang akan memberikan pertumbuhan bagi bank secara sehat dan berkelanjutan.

5. Seberapa besar belanja modalnya yang dialokasikan CIMB Niaga untuk tahun 2013? Rencananya untuk apa saja?

Total capex CIMB Niaga tahun 2013 sekitar Rp 1 triliun yang penggunaannya antara lain untuk:

- Pengembangan kantor cabang,

- Pengembangan e-banking

- Proyek peningkatan infrastruktur IT dan system

- Proyek peningkatan kualitas sistem pelaporan, dan sebagainya.

Pengembangan kantor cabang yang disebutkan sesuai dengan tema bank yaitu: Reaching out to You. Artinya,  bank ingin berada lebih dekat kepada nasabah, baik melalui pelayanan yang diberikan maupun kehadiran kantor cabang pada lokasi yang strategis. Bank saat ini juga mempunyai fokus untuk mengembangkan presence di daerah-daerah luar Jakarta, khususnya pada daerah-daerah yang dianalisa underpenetrated. Begitu juga dengan daerah-daerah yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat dari Jakarta.

Konsentrasi dalam menjalankan branchless banking juga menjadi perhatian khusus, dimana terefleksi dengan belanja CapEx CIMB Niaga, baik dengan penambahan ATM, CDM, SST, Merchants serta fasilitas e-banking lainnya. Selain itu, persiapan dan peningkatan infrastruktur sistem dan IT, sebagai landasan dalam mendukung kesiapan CIMB Niaga dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)