CEO Infinix: Kami Targetkan Penjualan 1 Juta Unit

Pasar smartphone Indonesia kedatangan pemain baru yakni Infinix Mobility. Sebelumnya, perusahaan asal Hong Kong ini memiliki nama besar di beberapa negara seperti Nigeria, Mesir dan Perancis. Bahkan di Afrika, infinix berhasil menguasai 80 persen market share.

Foto 2_resized_3

Berada di bawah bendera Transsion, grup ini sudah lama melihat bahwa Indonesia adalah pasar yang potensial. Meski tergolong pemain baru, per Juni-Desember 2015 Infinix berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 150.000 unit. Benjamin Jiang, CEO Infinix Mobility mengatakan, optimis terhadap pertumbuhan Infinix di Indonesia. Ia berpendapat peluang dan potensi pasar di Indonesia sangat besar. Bahkan di tahun 2016 ia menargetkan penjualan hingga 1 juta unit. Berikut petikan wawancara SWA Online dengan Benjamin Jiang :

Apa yang membuat Anda optimis menggarap pasar di Indonesia? Bukankah sudah banyak pemain smartphone di sini?

Kami melihat peluang dan potensi yang sangat besar pada pasar Indonesia. Pertumbuhan pelanggan smartphone di Indonesia memang melampaui jumlah penduduk, tetapi penetrasinya hanya separuh dari total penduduk. Inilah yang kami lihat sebagai peluang emas. Populasi di Indonesia yang begitu besar mendorong kami memfokuskan Indonesia sebagai pasar utama di Indonesia dan juga Asia Tenggara (ASEAN). Selain itu, permintaan akan smartphone di Indonesia juga sangat tinggi.

Siapa segmen pasar yang dibidik?

Kami memiliki tiga tipe smartphone untuk berbagai level. Seri HOT untuk entry level, Seri NOTE untuk middle class, dan seri ZERO yang merupakan produk flagship Infinix. Untuk target pasar, Infinix menyasar segmen lower to middle, dimana mayoritas adalah konsumen laki-laki sebesar 70 persen dan perempuan sebesar 30 persen berusia 18-24 tahun.

Bagaimana strategi menggarap pasar di Indonesia?

Strategi kami dimulai dari target segmen konsumen, Infinix menargetkan emerging market, alias segmen menengah dan bawah. Strategi penjualan Infinix menempuh ‘jalur’ online untuk menghadirkan berbagai produk yang sebelumnya dijual namun tidak menutup kemungkinan untuk pasar Indonesia Infinix tetap akan menghadirkan produknya secara offline, tetapi tidak menjadi fokus utama penjualan. Infinix memiliki positioning sebagai e-commerce smartphone brand. Memiliki business model yang disebut factory to consumer, produk ini memanfaatkan channel online untuk mendekati konsumen sekaligus mencapai efisiensi dalam biaya dengan memotong saluran distribusi. Selain itu, jalur offline ditempuh dengan tujuan untuk memberikan tambahan akses bagi konsumen. Ada calon pengguna yang tetap ingin melihat produknya dulu sebelum membeli, nah konsumen yang seperti inilah yang ingin disasar dengan menghadirkan penjualan offline.

Apa keunggulan yang ditawarkan oleh Infinix?

Setiap produk lini Infinix memiliki ciri khas dan keunggulan masing – masing. Beberapa tipe smartphone seperti Infinix Zero, Note Series, dan Infinix Hot dijual dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta memiliki fungsi multimedia dan game. Namun secara umum, Infinix memiliki keunggulan dalam pabrik sendiri, tim R&D dan antarmuka software XUI yang dikembangkan khusus untuk Infinix. XUI adalah antar muka software Android yang dikembangkan oleh Infinix. XUI memiliki keunggulan desain flat yang simpel dan elegan serta penggunan memori yang efisien.

Sejauh ini, bagaimana respons pasar di Indonesia?

Kami hadir di Indonesia hampir selama 1 tahun mulai Juni 2015 lalu, dan kami sangat bangga akan pencapaian serta respons yang kami dapatkan dari hasil penjualan produk Infinix di Indonesia. Infinix sendiri telah menjadi salah satu dari top brand leading di Indonesia, dan ini menjadi salah satu kebanggaan kami. Dan tentu saja, kami juga berkomitmen akan terus memberikan pelayanan dan purna jual yang lebih baik di Indonesia.

Sudah berapa besar jumlah penjualannya?

Per Juni-Desember 2015 Infinix berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 150.000 unit

Tahun ini berapa target penjualan?

Di tahun 2016, perusahaan memiliki target 1 juta unit. Kami sedang melakukan survei untuk melirik penjualan offline sebesar 30 persen, mengembangkan fans base, dan investasi besar di produk dan fans.

Apa kendala atau tantangan menggarap pasar di Indonesia? Bagaimana menghadapi hal tersebut?

Salah satu tantangan dalam menggarap pasar di Indonesia adalah regulasi pemerintah terkait TKDN atau kandungan komponen lokal. Meski begitu, kami tetap akan mengikuti aturan yang diterapkan pemerintah Indonesia. Saat ini, Infinix bekerja sama dengan Haier untuk merakit ponsel-ponsel 4G Infinix di pabriknya di Cikarang, Jawa Barat. Selain itu, mengenai maraknya perdagangan ponsel black market di Indonesia yang mudah masuk dan memiliki harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan yang masuk secara resmi. untuk mengantisipasi penjualan produk BM tersebut, kami siap berkompetisi dan menawarkan pelayanan dan menghadirkan produk yang berkualitas untuk pelanggan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)