Daniel Podiman: Express Group Harus Diwarnai dengan Inovasi Anak Muda

Sekarang ini, beragam armada taksi mewarnai jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya. Dari taksi yang menawarkan tarif bawah hingga kelas premium. Persaingan bisa jadi cukup ketat. Tapi, permintaan dari masyarakat sendiri masih besar. Dengan demikian, peluang bisnis taksi untuk tumbuh masih tinggi.

Salah satu pemain di industri taksi, Express Group, terus memperbesar bisnisnya. Menurut Daniel Podiman, Presiden Direktur Express Group, yang sudah bersama dengan Express sejak tahun 1989, perusahaan menambah jumlah armada regulernya sekitar 2.000 unit mobil setiap tahunnya. Ini menandakan bisnis taksi belumlah jenuh.

"Saya masuk Express tahun 1989. Expressnya belum ada. Baru ada izinnya. Waktu itu, saya belum ada posisi, belum ada jabatan. Tugas saya pokoknya bagaimana izin ini (diselesaikan) supaya (taksi) bisa jalan. Ya, saya dari awal berdirinya perusahaan. Kalau kepemilikan itu Rajawali (Corpora)," ujar Daniel kepada SWA Online, di Jakarta, pekan lalu.

daniel podiman expressLantas, mulai kapan Anda menjabat sebagai pucuk pimpinan di Express Group?

Saya menjabat sekitar tahun 1996 atau 1997. Saya sudah lama menjabat sebagai Presiden Direktur. Ini sedang mencari penggantinya. Harus yang muda-muda karena mereka lebih inovatif, lebih cepat, dan tangkas. Karena untuk memenangkan persaingan itu memerlukan anak-anak muda. Saya melihat anak-anak muda sekarang, semangatnya luar biasa.

Menurut Anda, apa perbedaan antara tahun 1996 dengan sekarang?

Seperti ini, saya melihatnya, menganalogikan seperti orang berjualan Bakmi GM. Usaha bakmi itu mulai dari gerobak, di mana pesanan datang satu-satu, dan dilayani satu-satu. Sekarang semakin banyak peminatnya, karena mungkin mienya enak, maka tidak mungkin lagi menggunakan tangan. Sekarang, mungkin bumbunya sudah disiapkan dulu dengan mesin, mienya diproses. Karena kalau pakai tangan mungkin tidak akan terlayani pelanggannya.

Saya melihat Express juga demikian. Kami sekarang dilengkapi dengan inovasi-inovasi baru, peralatan baru. Argonya secara elektronik, ada juga GPS, dan sebagainya. Kami mulai membenahi diri mengikuti kemajuan-kemajuan teknologi. Itu yang saya maksud dengan inovasi anak muda. Kalau umpamanya dipakai pikiran kami yang sudah zaman atau tahun segitu (lampau), tidak maju-maju Express ini. Akan ketinggalan terus. Orang sudah pakai GPS, kami masih pakai halo-halo terus.

Kalau seperti itu, orang-orang muda di manajemen Express akan diperbanyak?

Saya melihat sebagian harus tentunya, dan yang tua juga harus memberikan bimbingan. Untuk ke depan, kami musti mengadakan pembaharuan, renovasi terus. Organisasi harus terus ditinjau. Karena mau tidak mau, tuntutannya seperti itu. Kalau dulu kami bisa memberikan arahan tanpa membaca, sekarang kayaknya sudah tidak bisa lagi, musti membaca.

Bagaimana pandangan Anda terhadap bisnis taksi tahun depan?

Saya kira bisnis taksi masih tetap positif. Dan, kami berjalan sesuai dengan rencana-rencana kami. Saya pikir tidak ada hambatan meskipun tahun depan adalah tahun pemilu. Dari pengalaman penyelenggaraan pemilu-pemilu yang lalu, itu tidak begitu berpengaruh terhadap bisnis taksi. Kalau dulu banyak kampanye, sekarang tidak banyak lagi. Jadi, dengan target kami, kami berjalan seperti biasa.

Apa target di tahun depan?

Masih sama, yakni penambahan armada sekitar 2 ribu unit taksi untuk taksi reguler. Setiap tahun itu, kami menambah sekitar 2 ribu lebih.

Saat ini, armada sudah ada berapa?

Saat ini, armada reguler sudah mencapai 10 ribu unit taksi, dengan jumlah pengemudi hampir 20 ribu orang. Sedangkan untuk taksi Tiara Express sudah ada sekitar 108 unit. Ini yang kami sebut taksi premium.

Bagaimana dengan rencana ekspansi bisnis?

Kami mencoba melihat potensi daerah, seperti, kemarin, kami melihat Sumatera Barat. Di sana, sekarang ini, banyak hotel-hotel dibangun. Kami mencoba melihat dan bertanya-tanya, dan ternyata Sumatera Barat sekarang mengarah sebagai daerah tujuan wisata. Provinsi itu coba menggantikan kota lain yang dulu mau menjadi daerah tujuan wisata ketiga di Indonesia, tetapi tidak begitu berhasil. Sekarang Sumatera Barat sedang berusaha supaya mereka bisa menjadi daerah tujuan wisata, setelah Bali dan Yogyakarta.

Jadi, dengan itu, potensi untuk pelayanan angkutan publik tentu meningkat. Dengan adanya wisatawan, tentu kebutuhan untuk angkutan pasti sangat besar, terutama di bandara-bandara, hotel-hotel, dan tempat wisata.

Kalau rencana ekspansi bisnis ke luar Indonesia?

Masih belum. Tapi ada beberapa penjajakan yang kami masih terbentur dengan aturan masing-masing negara. Setiap negara itu punya aturan masing-masing.

Negara mana yang paling diminati?

Yang paling dekat itu sebenarnya Malaysia. Negara itu dari segi budaya hampir sama, dan banyak juga orang-orang Indonesia yang bermukim di sana. Hanya mungkin masalah penyesuaian aturan saja. Kalau di Malaysia, kebanyakan izin itu perorangan. Jadi, seandainya bisa dibicarakan lebih lanjut, alangkah baiknya melalui institusi, melalui suatu PT atau apa, sehingga memudahkan operasi. Kalau individu itu agak sulit mengontrolnya.

Sejauh ini, kami penjajakan terus. Kami tetap ada komunikasi. Di negara-negara lain, di kawasan Asia Pasifik, kami juga sedang melihat di negara mana yang program kami bisa jalan. Tidak ada salahnya kami bisa bekerja sama.

Apa harapan Anda sebagai CEO Express Group di tahun depan?

Yang kami perhatikan sekarang ini masalah BBG (bahan bakar gas). Ini sangat menarik. Kemarin itu ada pernyataan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta bahwa pasokan BBM bersubsidi ke Jakarta mau dihapuskan. Mungkin dari teman-teman operator yang lain, minta pengecualian, khususnya untuk taksi reguler. Bagaimanapun juga angkutan umum kalau bisa disubsidi. Tapi dengan adanya BBG, masalah itu terpecahkan.

Dari pembicaraan kami dengan mitra, pengemudi, mereka ingin sekali kalau bisa menggunakan BBG. Bersih, praktis, dan murah. Kami melihat, pemerintah sudah mulai serius memasang infrastruktur BBG. SPBG mulai dibangun. Dengan ditopang juga oleh salah satu produsen mobil, di mana mereka juga akan memproduksi kendaraan yang sudah komplit dengan peralatan BBG, maka ini sejalan dengan program pemerintah.

Saya berharap, harapan saya sendiri, BBG itu bisa direalisasikan. Itu akan memberikan banyak manfaat yang positif, baik ke perusahaan, pengemudi, mitra, pemerintah, dan lingkungan. Itu kan juga penghematan, penggunaan BBM bersubsidi bisa berkurang. BBG pasti lebih murah. Di Thailand saja, angkutan umumnya mungkin sudah 80 persen pakai BBG. Penggunaan BBG juga bisa memicu mobil-mobil pribadi untuk menggunakannya. Kami berharap, satu atau dua tahun ke depan program ini bisa berjalan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)