Dino Bramanto: Bisnis Digital Akan Menjadi Salah Satu Backbone Kalbe

 

Sebuah hasil riset yang dilakukan Microsoft dengan perusahaan riset pasar independen pada 2016 menyebutkan, masih kurang dari separuh perusahaan (44%) di Asia Tenggara yang telah memiliki strategi digital.

Di Indonesia, `49% pengambil keputusan menyatakan mereka ingin mulai menerapkan strategi digital. Salah satu perusahaan yang sudah mulai menerapkan strategi digital adalah PT Kalbe Farma Tbk. Bahkan, diklaim Dino Bramanto, Direktur TI Korporat PT Kalbe Farma, kelompok usaha yang membidangi consumer healthy ini telah mulai melakukan transformasi digital pada paruh awal tahun 2000-an.

Seperti apa strategi digital yang dilakukan Kalbe? Berikut ini petikan wawancara Wartawan SWA, A. Mohammad B.S. & Aulia Dhetira, dengan Dino Bramanto.

Apa alasan Kalbe meluncurkan strategi digital, dan seperti apa cakupannya?

Ada baiknya kita menyamakan pengertian dan persepsi. Secara umum istilah digital ada banyak. Selama saya mengikuti seminar, terminologi yang sering digunakan adalah transformasi digital. Pengertiannya berlaku atau relevan untuk perusahaan yang tadinya bisnis konvensional, jual produk melalui distributor, dan reseller untuk mencapai ke konsumen. Bisnis prosesnya menggunakan pola lama. Kalbe sudah 50 tahun dan memang menggunakan cara-cara tradisional. Prinsipal kami banyak, ada Kalbe Farma, Kalbe Nutrisi, divisi consumer health, medical device, dll. Jual produk melalui PT Enseval Putera Megatrading Tbk. sebagai distributor utama, yang juga anak usaha kami.

Dari Enseval, didistribusikan ke 52 gerai di seluruh Indonesia dan luar negeri. Mereka yang menjual ke peritel, entah itu toko, apotek, gerai modern, hypermart, dll. Toko-toko itulah yang menjual ke end user. Jadi, Kalbe tidak berhubungan langsung dengan end user atau pemakai.

Kalau berbicara soal transformasi digital, pengertiannya yaitu bisnis yang menggunakan teknologi sebagai enabler-nya. Sebelum transformasi digital, kami juga menggunakan digital untuk perusahaan, tetapi model bisnis masih tradisional. Ttransformasi digital berarti menggunakan cara baru dengan teknologi informasi dan digital. Berbeda dengan Gojek atau startup lain yang dari awal berbisnis modelnya sudah digital.

Kalbe mulai merintis bisnis digital sekitar awal tahun 2000-an, dan mulai menggunakan sistem ini di tahun 2011. Kami melundurkan Kalbestore.com. Ini cikal bakalnya. Kami mulai menjual produk-produk Kalbe yang bisa dijual bebas (bukan obat-obatan) seperti produk nutrisi, yang bisa dibeli melalui Internet. Di sini kami mulai melakukan kontak secara langsung dengan end user. Sebelumnya, kami belum pernah melakukan touch dengan end user. Biasanya touch dengan end user dilakukan dengan gerai, hypermart, toko kelontong, dsb. Kami tidak tahu pembeli akhirnya siapa, sebelum muncul Kalbestore.

Apa target pembuatan strategi digital itu?

Sejak saat itu kami masuk ke dunia digital dengan media sosial, CRM, dan segala macam. Namun, saat itu harus diakui posisi Kalbestore masih hanya sebagai pelengkap atau komplemen. Sepanjang 2011 kami melihat perubahan, terutama dengan adanya revolusi teknologi. Manajemen dan pimpinan melihat bahwa sebetulnya Kalbe harus sudah bisa melihat transformasi digital idak hanya sebagai komplemen, tetapi menjadi suatu transformasi itu sendiri. Melakukan trnasformasi terhadap model bisnis agar mendukung bisnis kami ke depannya.

Kami memiliki visi 20-20. Awalnya, digital tidak dilihat sebagai penggerak utama. Di visi 20-20 (tahun 2020) yang sedang kami lakukan selama satu tahun terakhir (dan ke depannya akan lebih kencang lagi) bagaimana melihat bisnis digital bisa dilakukan dan menjadi salah satu tulang punggung. Contohnya, di luar negeri Kalbe sudah hadir di 10 negara, di Asia Tenggara utamanya, Afrika, dan segera di Timur Tengah. Dulu Kalbe Internasional awalnya tidak ada dan sekarang sudah menyumbang 5%. Kalbe Internasional tumbuh high doublé digit, sehingga bisa menjadi tulang punggung suatu saat nanti. Nah, sekarang kami sedang berusaha agar bisnis digital juga bisa menjadi tulang punggung.

Dino Bramanto, Direktur Corporate IT Kalbe Dino Bramanto, Direktur Corporate IT Kalbe

Apakah hanya mengandalkan Kalbestore atau ada program digital lain yang dilakukan Kalbe?

Sekarang kami sudah meluncurkan KlikApotek.com, tetapi belum dipublikasikan. Kami sedang mengakuisisi dokter dan apotek. Lalu, kami juga sudah mengakuisisi Klikdokter.com. Posisinya kalau Kalbestore kan kami memberikann kemudahan dan akses bagi end user untuk membeli produk bebas melalui inline dan di-deliver ke rumah. Klikdokter sifatnya advisery. Jadi, ada artikel mengenai kesehatan dan chatting online atau konsultasi, dan revenue-nya dari iklan. Ada jadwal chatting, ke depannya akan ada chatting personal. Sifatnya konsultasi di dunia medis. KlikApotek akan menjadi marketplace untuk transaksi obat bebas OTC (over the counter) produk ataupun obat resep. Marketplace untuk universe dokter dan apotek. Tidak terbatas hanya untuk produk Kalbe yang dijual, tetapi sifatnya masih soft launch.

Bagaimana menjadikan strategi digital ini sebagai bagian dari strategi bisnis?

Ini bagian dari transformasi digital yang kami lakukan, jadi digitalnya kami besarkan. Saat ini ada Klikdokter, Kalbestore dan KlikApotek. Yang lain juga ada. Misalnya, aplikasi Momy and Child untuk ibu-ibu. Aplikasi ini untuk ibu-ibu agar bisa mengecek kehamilan mereka secara rutin, yang biasa ke dokter sekarang bisa dilakukan di ponsel. Ada juga aplikasi Diabtes Solution Center. Ini khusus untuk penderita diabetes dan sudah tersedia di Google Playstore. Juga ada aplikasi Kalcare. Jadi, masing-masing ada aplikasinya. Ujung-ujungnya memang kami punya produk untuk setiap aplikasi tersebut. Tetapi, platform ini jadi tools untuk mengenali itu.

Ada berapa aplikasi yang sudah tersedia?

Saya berikan yang sudah masif, Kalcare juga ada cuma belum di-promote, yang tadi itu sifatnya inisiatif yang kami lakukan testing the market. Jadi, kami sadar tidak bisa hanya sebagai komplemen. Sekarang harus benar-benar fokus kalau mau bisnis digital menjadi tulang punggung, tidak boleh setengah-setengah lagi. Harapannya, bisnis ini bisa berkembang signifikan untuk menjadi salah satu tulang punggung di tahun 2020.

Kami melihat ponsel sudah tidak bisa lepas dari genggaman. Indonesia termasuk tinggi di tingkat penggunaan ponsel, ada yang bisa 150 kali mengecek ponsel dalam sehari. Rata-rata manusia memegang ponsel 3-4 jam sehari, dan Indonesia juga cukup tinggi. Bagaimana kami memanfaatkan fenomena perubahan ini agar bisa mendukung bisnis kami, esensinya di situ.

Kemarin kami melakukannya masih dengan coba-coba. Sekarang kami memutuskan serius. Secara organisasi, kami akan membuat perusahaan yang secara khusus menangani bisnis digital Grup Kalbe. Anak usaha baru sedang dirintis dan tim TI akan terpisah dari tim TI yang biasa. Jadi, think and act like startup. Anak usaha ini sudah mulai dirintis tahun lalu. Nama perusahaannya PT Karsa Lintas Buana (KLB). Di laporan tahunan sudah keluar, KLB akan membawahkan semua inisiatif digital.

Kemunculan unit usaha baru ini sudah memiliki dampak ke bisnis Kalbe belum?

Kami mulai merintis pada 2011; persentase pertumbuhan revenue-nya setiap tahun lebih tinggi daripada yang lain. Namun, memang mulai dari kecil. Dilihat dari volume, masih kecil untuk total kami. Tahun lalu total kami Rp 17 triliun. Ini masih ratusan miliar-lah.

Apa tantangan bisnis terkait fenomena bisnis digital, dan bagaimana Kalbe mengatasinya?

Teknologi tidak menjadi tantangan utama karena bisa dibeli, dipelajari dan dicari. Bagi saya, tantangan selama ini adalah bagaimana menyamakan persepsi bahwa ini adalah sesuatu yang bisa menjadi tulang punggung dalam jangka panjang. Karena melihat di dalam manajemen, mereka kan bukan orang-orang muda. Saya juga termasuk generasi lama. Startup sekarang diisi oleh orang berusia 20-35 tahun, yang sejak lahir sudah paham gawai (gadget). Sementara saya dan teman-teman lain dulu belum mengenal gawai. Ada generation gap di sini, karena orang lama melihat dengan cara yang lama, dan bisnis masih tetap tumbuh. Namun, ada channel yang lain yang pasarnya anak-anak muda dan malas ke mal, hypermart, pasar, dll.

Kalbe-FarmaSaat ini secara total bisnis mungkin masih kecil, tetapi dalam 5-10 tahun lagi akan bergeser. Nah, menyamakan pendapat bahwa the market is changing, di mana ada pasar yang harus dilayani dengan cara yang berbeda, membutuhkan waktu. Kalbe juga anak perusahaannya ada sekitar 30, dan menyamakan ini butuh waktu. Ini tantangan nonteknis, untungnya dalam beberapa tahun terakhir semua sudah sepakat bagaimana dan semuanya lagi digodok. Karena, tidak ada strategi yang one size fit all. Gojek saja butuh watu lima tahun untuk bisa berkembang, mereka butuh waktu mencari model bisnis yang tepat. Inilah karakteristik atau nature bisnis ini.

Karena itu, kami melihat ini tidak bisa dilakukan dengan cara lama dan harus dilakukan dengan entitas, organisasi, dan pola pikir yang baru. Dan, yang lead juga anak muda (di tempat kami seperti itu). Orang TI yang kami hire adalah anak-anak muda yang pola pikirnya tidak enterprise. Secara bisnis dan sebagai perusahaan publik, kami memiliki kewajiban kepada stakeholder, mereka tentunya ingin return yang benar. Prinsip-prinsip konvensional kami di sini maunya think and act like startup.

Apakah PT Karsa Lintas Buana membawahkan semua bisnis digital Kalbe?

Mereka diposisikan sebagai arm-nya atau vehicle untuk mengoordinasikan, menyinergikan, dan menstrategikan bisnis digital related Grup Kalbe. Kan grup kami besar, ada sekitar 30 anak usaha: nutrisi, medical device, obat-obatan, logistik, riset, pengembangan, dll. Kalau jalan sendiri-sendiri, tentu sulit. Makanya, disinergikan.

KlikApotek, misalnya, sinergi dari karakter unit bisnis yang lain. Sinergi grup farmasi dan distribusi karena apotek gerainya distributor, lalu CRM kami juga sudah menjangkau direct ke end user. Nah, KLB yang menyinergikan itu. Kekuatan kami adalah end to end. Kami punya jarigan dokter, rumah sakit, apotek, gerai. Ini yang kami sinergikan melalui koordinasi di bawah KLB.

Lalu, selevel apa unit bisnis ini?

Masih rintisan, dan baru dibuat tahun lalu. Tetapi, sebentar lagi beranak tiga, karena akan membawahkan unit pusat panggilan,  yaitu CRM yang akan menjadi pusat servis seluruh grup. Mirip seperti Astraworld. Ada PT KHD untuk home delivery, dan yang ketiga lagi diproses. Semuanya di bawah KLB. Dan, pada 2020 akan menjadi salah satu tulang punggung kami.

Apakah Kalbe juga akan membuat anak usaha di luar bidang kesehatan?

Visi-misi kami sudah jelas, yaitu di bidang kesehatan dan terkait di sana. Bahwa kesehatan di-deliver dengan teknologi itu sudah pasti. Jadi, kami akan konsisten di sini. Klikdokter, misalnya, kan berkaitan dengan kesehatan karena memberikan advisory di bidang kesehatan. Kalbestore juga menjual produk kesehatan, apotek juga bidang kesehatan. Aplikasi juga kesehatan. Di luar itu, saya rasa tidak akan, karena core-nya kesehatan.

Sekarang keuntunganya sudah mencapai berapa?

Saya tidak bisa menyebutkan angka. Bisnis kami dari sisi digital kini sudah miliaran, dalam hal penghasilan besar. Untung? Ya untung. Pendekatan kami bukan startup company ya: bakar uang. Kalau kami, supaya tetap bisa tumbuh bagus dan bisa menjadi bisnis yang menguntungkan. Namun kami melihat kalau biasa saja, tumbuh bisa tetapi menjadi tulang punggung akan membutuhkan waktu yang lama.

Bagaimana perencanaan dan alokasi bujet untuk strategi digital ini?

Ini masih dalam proses. Jadi, angkanya belum final. Kalau totalnya, saya tidak punya data. Kalaupun ada, kami tidak boleh disclose. Esensinya, kami akan fokus dan akan melakukan investasi di sini, baik dari sisi orang, pemasaran, maupun teknologi untuk melakukan transformasi. Prosesnya masih akan berjalan dan final di Agustus.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan strategi digital ini?

Ada direct dan indirect. Secara direct tentu menjadikan salah satu tulang punggung. Artinya, diukur dari revenue dan profit. Namun, pada saat yang bersamaan kami juga tahu bahwa dunia digital memungkinkan kami mendapatkan data dan informasi mengenai konsumen. Bagaimana kami memanfaatkan keduanya. Apakah itu pattern atau behaviour konsumen dan apa pun itu, bisa menjadi satu aset yang kami bisa manfaatkan untuk bisnis konvensional kami (big data). Apakah itu penyebaran konsumen, penderita diabets, dll., dengan data ini kami bisa membuat sesuatu yang khusus untuk demografi tertentu. Tingkat usia konsumen, ini yang indirect yang ingin kami dapatkan juga. Big data ini yang bisa kami gunakan untuk mengembangkan dan memperkaya bisnis kami.

Sampai saat ini big data itu sudah digunakan?

Belum. Namun, menjadi salah satu bagian dari blueprint yang akan kami kembangkan karena saat ini masih terpecah-pecah. Nah, nanti kalau semua sudah terfokus di bawah KLB, baru akan dikembangkan.

Apa target dan rencana ke depan?

Rencana strategisnya: kami sudah memetakan area-area yang possible bagi kami untuk masuk itu di mana. Namun, saat ini yang sudah ada yang kami masuki. Klikdokter akan kami push terus. Kalbestore akan kami fokus kembangkan dan besarkan. Klikapotek khusus marketplace dan untuk obat-obatan akan kami besarkan. Ini yang kami utamakan dulu. Selain itu, ada beberapa rencana lain, tetapi masih kami disclose dulu. (AMBS)

Reportase: Aulia Dhetira

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)