Handaka Santosa: Permintaan Mal Tinggi di Ibukota

Handaka Santosa Handaka Santosa

Handaka Santosa, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), berujar, kebutuhan akan pusat perbelanjaan di Jakarta itu tinggi. “Tapi yang saya lihat, kita musti tajam menganalisa (bahwa) sekarang banyak orang yang antri untuk masuk ke mal. Anda coba interview retail-retail itu, (mereka) mau masuk ke mal (tapi) nggak ada tempat. Tempatnya itu habis,” terang Handaka kepada SWA Online, di sela-sela acara halal-bihalal di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (14/8/2013).

Hingga kini, pembangunan pusat perbelanjaan masih terhalang kebijakan Pemerintah DKI Jakarta, yang menerapkan moratorium, atau penghentian sementara, izin pembangunan pusat perbelanjaan di ibukota Indonesia. Kebijakan tersebut dikeluarkan pada tahun 2011. Hal ini disayangkan oleh pihak APPBI karena pembangunan pusat perbelanjaan baru menjadi minim.

“Sebetulnya sampai akhir tahun ini yang tambah itu cuma Mal Ciputra World yang ada di Jalan Prof.Dr.Satrio, sama yang lalu dibuka di Kemang. Untuk yang baru di tahun 2013 ini sudah nggak ada,” imbuhnya.

“Kami sendiri berharap bukan ada moratorium mal. Itu kan sampai sekarang keputusannya nggak ada. Dibuka atau ditutupnya (moratorium) ini kan cuma rumor saja,” lanjut CEO Senayan City ini.

Tapi kebijakan itu keluar karena dipandang jumlah pusat perbelanjaan sudah banyak?

Nah, sekarang yang disebut oversupply itu yang mana, karena buktinya kebutuhan akan space di dalam mal itu masih banyak. Kalau kebutuhannya banyak, tidak ada tempat, tentu yang antri banyak. Ini kan hukum ekonomi. Suplainya tidak ada tambahan, permintaan bertambah, tentu yang ada harga sewa akan tinggi. Ini kasihan buat retailer. Ini serius.

Tentu, semua tergantung lampu hijau dari pemerintah juga. Karena dengan dibangun mal tentu akan membuat kapasitas belanja turis lebih banyak lagi. Kedua, peritel bisa dapat tempat.

Bukankah pusat perbelanjaan yang sudah ada bisa memperluas bangunannya sebagai salah satu solusi untuk menambah ruang bagi peritel?

Kalau kayak Pondok Indah Mal itu ada perluasan, bisa, ya oke. Kalau nggak punya tanah seperti Senayan City, yang di sebelahnya tidak ada tanah, bagaimana? Jadi, maksud saya dengan adanya penambahan mal yang dibangun tentu juga akan mengurangi kemacetan. Sekarang kan kemacetan bukan karena mal, tetapi karena infrastrukturnya. Buktinya, pusat perbelanjaan Tanah Abang begitu dirapikan jadi lancar.

Berapa jumlah pusat perbelanjaan sekarang ini?

Pusat perbelanjaan kelas atas itu ada Pacific Place, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Grand Indonesia, dan Senayan City. Cuma ada lima. Kelas menengah itu seperti Central Park, Pondok Indah Mal. Jadi, total kalau di seluruh Indonesia ada 240 pusat perbelanjaan, kalau di Jakarta ada 75 pusat perbelanjaan. Itu terdiri dari mal dan trade center, seperti ITC. Porsinya setengah-setengah antara mal dan trade center.

Ke depan, trennya seperti apa?

Sekarang dari segi pembangunan, trennya beda, yaitu lebih ke arah mal. Kenapa? Karena mal itu, ketika Anda masuk, Anda hanya sewa tempat. Pengarahannya bagus. Kalau trade center, Anda masuk, Anda beli kios. Zoning di trade center pun kurang rapi dibandingkan mal.

Apakah bakal ada kenaikan harga sewa tempat di mal?

Belum sementara ini. Nggak tahu kalau tahun depan. Cuma, pusat belanja ini agak berat di operasionalnya saat ini karena ada kenaikan tarif listrik, yang per tiga bulan itu.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)