IG Live-SWA Business Leader Talk: Strategi Sunpride di Era Digital Disruption

IG Live-SWA Business Leader Talk dengan COO PT Sewu Segar Nusantara, Cindyanto Kristian (bawah)

PT Sewu Segar Nusantara merupakan perusahaan Indonesia pertama yang melakukan branding untuk produk buah dengan merek Sunpride. Seperti kita ketahui selama ini produk buah lebih identik sebagai produk komoditas. Perusahaan yang pada Desember nanti berusia 25 tahun ini, mengembangkan bisnis secara berkelanjutan, bahkan di era distrupsi digital ini, mulai dari proses pemilihan benih, menanam hingga produk sampai ke konsumen, sudah menerapkan sistem yang terintegrasi. Jadi proses digitalisasi sudah diterapkan perusahaan dari dalam, mulai dari manajemen, pengelolaan kebun, distribusi, hingga pengelolaan limbah, bukan hanya di penjualannya saja.

IG Live-SWA Business Leader Talk pada Kamis (06/05/2020) mendapat kesempatan mengajak Cindyanto Kristian COO PT Sewu Segar Nusantara, untuk bisa berbincang bersama melalui platform Instagram SWA Media Inc. Berikut petikannya:

Mohon diceritakan bagaimana Sunpride bisa menjadi pelopor buah bermerek berkualitas di Indonesia, sehingga dikenal bukan saja di pasar domestik maupun global?

Kami bangga memiliki merek Sunpride. Kami telah membangun merek buah mulai dari pasar Indonesia. Untuk diketahui perusahaan kami sudah 25 tahun pada bulan Desember nanti. Kami ingin masyarakat memahami dengan branding buah, bukan sekadar buah, tapi juga ingin memperkenalkan Sundpride sebagai buah berkualitas. Banyak yang mengira waktu awal membangun Sunpride, ini merek buah impor. Padahal kebun kami di Lampung, bukan saja bisa dinikmati pasar lokal, tapi juga ekspor. Ini membuktikan bahwa merek lokal, bisa menjadi kebanggaan kita. Sebab bukan hal gampang mengekspor buah-buahan, akhirnya berhasil membawa merek ini ke luar negeri.

Seperti kita ketahui, dulu tidak ada buah bermerek, buah hanya sebagai produk komoditas. Bagaimana Sunpride meyakinkan pasar sehingga diterima sebagai buah bermerek?

Saya pikir sampai saat ini tantangan masih sama, kami masih berjuang agar buah bukan sekadar produk komoditas. Kalau kita lihat sekarang, makin banyak buah bermerek. Ini justru bagus, bahwa konsumen akan bisa melihat dengan merek-merek itu mana kualitas terbaik. Dari merek bisa terlihat siapa yang mengelola, kebun dari mana, bagaimana pengelolaannya. Dengan memberi merek Sunpride jadi konsekuensi logis, bahwa buah tersebut memiliki kualitas tertentu, memberikan jaminan kualitas, kesegaran dan keamanan pangannya. Kami bersama-sama tim membangun buah bermerek dengan jaminan kualitas tersebut. Kalau buah sekadar ditempel merek, tidak ada perbedaan dengan buah biasa tanpa merek, ini sama saja jadinya komoditas lagi.

Apa visi misi Sunpride sebagai buah bermerek?

Sebagai merek Indonesia, kami ingin menjadi kebanggaan dan tuan rumah di Indonesia, bisa ada di mana-mana. Buah-buahan Sunpride bukan saja bisa dirasakan di kota-kota, tapi juga ke berbagai daerah. Kami pun juga kembangkan agar Sunpride bisa makin luas juga dinikmati pasar di lebih banyak negara. Kami ingin menjadi tuan rumah yang baik.

Apa tantangan membangun buah bermerek?

Tantangan terbesar di industri buah-buahan, kalau sudah dipanen, tidak ada kata mundur, akan terus berjalan, terutama di umur buah akan terus bertambah. Maka itu supply chain harus efektif dan efisien, ini kuncinya, karena buah sangat sensitif dengan waktu dan suhu. Kami sangat memastikan kelancaran logistik. Kami membangun banyak cabang, kini ada 9 di kota besar, baik itu gudang maupun cool storage yang bisa menyimpan buah-buah kami agar tetap terjaga kualitasnya. Distribusi tiap cabang harus kami hitung waktunya agar kesegaran buah bisa diterima ke tangan konsumen dengan baik.

Sekarang eranya digital, semua produk ke arah sana. Kabarnya Sunpride juga makin aktif di dunia digital dan online. Mohon dijelaskan bagaimana selengkapnya strategi dan penetrasinya di dunia digital (online)? Kabarnya sudah hadir di banyak online market place?

Terkait go digital, kami mulai dari dalam dulu, terutama dalam hal proses di internal. Kami menerapkan proses digitalisasi semua proses bisnis perusahaan. Digitalisasi bukan sekadar wacana, karena produk kami sangat rentan oleh waktu dan suhu, maka itu dibutuhkan ketepatan data yang akurat, agar kami bisa menjaga kualitas buah yang kami tawarkan ke konsumen.

Targetnya menjaga buah agar tetap terjaga dengan baik melalui digitalisasi di internal. Kami bisa tracking secara real time melalui sistem ke mana saja buah kami dijual, buah kami ada di mana, dikirim ke mana, dari mana buah yang kami jual ke konsumen, kapan diterima konsumen, dan sebagainya, ini sesuai dengan standar global yang sudah kami terapkan yaitu bagian dari sertifikat Global Agriculture Practices (GAP) yang sudah kami miliki.

Walau Sunpride sudah ada di semua market place, kami tetap melibatkan kanal-kanal yang sudah ada, seperti para distributor, agar bisa membantu pengiriman produk, agar terbangun koneksi yang baik. Ini yang membedakan kami dengan perusahaan lain. Kami memiliki banyak distributor di banyak daerah. Pada saat kami go digital, memang kelihatannya seperti channel baru, tapi sebenarnya distributor tetap dilibatkan melayani pembelian buah Sunpride. Ini agar kami bisa memaksimalkan titik-titik delivery, jadi para distributor sangat membantu kami. Makanya kami punya program yaitu SUSI (Sunpride Siap), kami membangun command center, ini sistem yang membuat kami bisa mencari titik distributor terdekat ke pelanggan. Result yang kami dapatkan lebih dahsyat, kolaborasi dengan partner yang sudah ada ini mendukung tujuan kami agar buah Sunpride sampai ke tangan konsumen tetap segar.

Dalam memasarkan produk, Sunpride banyak melibatkan reseller, bisa dijelaskan?

Benar. Sejak tahun lalu kami kembangkan, Sunpride reseller. Mereka ini yang mencoba berbisnis buah. Ini cara kami agar buah Sunpride sedekat mungkin dengan konsumen kami. Sampai kini sudah ada 10 ribu reseller, di sekitar komplek perumahan, titik-titik keramaian, tempat berkumpul, pusat penjualan dan sebagainya. Reseller ini bekerja sama dengan distributor Sunpride untuk bisa mendapatkan buah. Distributor ini yang akan menyampaikan bagaimana SOP-nya menjual buah, mengambil buahnya, menjaga agar kualitas buah tetap baik, untuk detilnya untuk bisa menjadi reseller, ke Instagram Sunprideid.

Bagaimana strategi Sunpride di era pandemi Covid? Bagaimana kiatnya untuk bisa survive dan bisa melayani konsumen dengan baik? Apa saja inisiatif2-nya di tengah pandemi?

Saya pikir semua industri menghadapi tantangan sepanjang pandemi, pergerakan terbatas, pun harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Tantangan besar kami memang di logistik, membawa buah-buah kami ke pasar. Di sisi lain buah harus segera dipanen, tapi dengan tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat, namun harus bisa terdistribusi dengan baik. Tapi kami juga berupaya agar terus menjaga distribusi, ini demi menjaga masyarakat bisa mendapat pasokan buah terbaik. Seperti diketahui konsumsi buah yang baik akan bisa meningkatkan vitamin dalam tubuh sehingga bisa meningkatkan juga stamina yang sangat dibutuhkan kala pandemi virus corona ini.

Di tengah pandemi, kami jaga protokol kesehatan, jadi buah yang kami panen, hingga sampai ke tangan konsumen, itu kami jaga, tidak ada kompromi. Pekerja kami pastikan jalankan dengan baik, sehingga buah yang dikirim terjaga kebersihannya. Itulah mengapa kami sangat percaya pada food safety, ini penting dalam bisnis buah dan makanan, dengan kondisi pandemi, ini sangat membantu menjaga kepercayaan. Para petani dan yang mengelola distribusi buah kami menggunakan sarung tangan, keamanan buah kami jaga selalu. Namun setelah membeli konsumen harus mencuci dulu sebelum memakannya, sebab buah sudah dipajang di tempat umum.

Di mana sentra-sentra perkebunan Sunpride di mana saja?

Sebagian besar di Lampung, namun ada juga di Blitar, tambahan kami juga kerja sama dengan banyak kelompok tani demi memasok buah Sunpride ke pasar dengan lebih baik. Kelompok tani yang kami gandeng ada di Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Kami punya cukup memiliki agronomi andal dalam perusahaan, karena sudah 25 tahun di industri buah-buahan. Para kelompok tani ini bukan sekadar untuk kami beli buahnya, tapi juga kami beri pendampingan, mengajarkan ilmu agronomi kami, cara menanam yang baik, berbagai best practice menanam dan mengelola buah dengan baik yang kami miliki agar kualitas mereka mendekati atau sama dengan Sunpride. Diharapkan dengan begitu mereka bisa naik kelas. Jadi selain dari kebun Sunpride sendiri, buah-buah kami dari para petani yang kami bina secara berkelanjutan.

Apa saja inovasi dan terobosan yang dilakukan Sunpride baik di bidang pelayanan, produk, hingga aspek-aspek bisnis lainnya?

Kami sudah menerapkan Global Agriculture Practices (GAP). Kalau masyarakat membeli buah Sunpride buahnya mulus-mulus kan, itu kami tidak ada rekayasa genetika, kami jaga residu pestisida ditekan sampai sangat kecil bahkan sampai nihil. Keamanan makanan kami jaga, mulai dari menanam, membungkus satu-satu,  memanen dengan hati-hati. Nanas kami satu per satu kami pakai baju, agar tidak terkena sunburn, juga pisang-pisang kami bungkus agar tidak terjadi gesekan dan benturan. Ini membuat pisang kami tidak menghitam. Karena ada ribuan pekerja yang mengelola buah-buah kami, mereka menjaga dengan baik, hingga distribusi ke pasar dan supermarket, tetap terjaga tetap baik walau dikirim ke lokasi jauh. Buah Sunpride kami pastikan dan jaga aman dimakan siapa pun.

Kami menerapkan cara bercocok tanam yang benar, dengan tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang tidak baik buat buahnya. Kami cari cara alami, cara yang tidak merusak alam. Jadi dalam kondisi apa pun, bahkan dalam kondisi kekeringan, kami punya irigasi sendiri, karena kami terapkan GAP, kebun bisa dikelola dengan baik. Di Lampung, kebun kami cukup besar, kami kelola kapan menanam pisang dan kapan menanam nenas Kami harus taat menjalankan GAP itu. Kami berupaya tidak menghasilkan limbah tidak baik. Kami juga punya peternakan sapi, dengan Sunpride sebagai produsen nanas pengalengan terbesar di dunia, kulit dan buah-buah sisa, itu menjadi pakan ternak sapi kami. Kotoran sapi kami kelola menjadi pupuk kompos. Air yang kami gunakan pun dikelola, berputar hingga ke irigasi. Kami pastikan, apa pun yang kami tanam tidak merusak tanah. Karena bisnis kami sangat bergantung dengan kondisi tanah yang baik.

Apa strategi agar Sunpide agar terus berkembang dan menjadi pilihan utama masyarakat. Apakah jenis buah akan ditambah? Apa target Sunpride ke depan?

Saat ini selain pisang, yang sudah dikenal luas, kami juga sebenarnya sudah punya banyak buah lain yang ada di pasar. Nanas kami dijamin tidak gatal saat dimakan dan sangat manis, dikenal dengan Nanas Honi, lalu ada jambu kristal yang bijinya sedikit, lemon, pepaya, juga salak, serta melon, dan masih banyak lagi. Tentunya untuk pelanggan kami ingin meningkatkan secara kuantitas maupun varietas buah yang kami bawa ke pasar ke depannya. Kami ingin terus berkontribusi dalam membantu asupan nutrisi agar menjaga kesehatan tubuh. Kami sedang menjalankan Sunpride Super Point, yang mengajak makan buah, tetap sehat, dapat hadiah, dengan terus membeli buah kami.

Kami sedang menggencarkan kampanye: Think before you pick. Ini kampanye mengajak masyarakat agar bisa mendapat asupan nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tapi pilih buah terbaik, yang kualitasnya berstandar global seperti yang sudah Sunpride lakukan yang telah menerapkan GAP.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)