Kiki Rizki: Pengguna Mig33 di Indonesia Terbesar di Dunia

Di era smartphone yang tengah marak saat ini, berkembang pula berbagai macam aplikasi yang dapat digunakan oleh pengguna smartphone. Sebut saja aplikasi instant messenger. Banyak sekali aplikasi instant messenger yang bisa kita pakai. Tetapi, jauh sebelum smartphone berkembang, ada aplikasi instant messenger yang muncul di 2006. Mig 33 namanya.

image(2)Mungkin tidak semua orang familiar dengan aplikasi ini. Tetapi siapa sangka, pengguna aplikasi ini di Indonesia cukup besar. Tahun 2009, ketika Kiki Rizki ditunjuk sebagai Indonesia Country Manager Mig 33, ada 8 juta pengguna Mig 33. Lantas, bagaimana perkembangannya?

Kini, ada 35 juta pengguna Mig 33 di Tanah Air. Indonesia menjadi negara dengan jumlah terbesar dari sekitar 70 juta pengguna Mig 33 di seluruh dunia. Kiki  mengaku awalnya tidak percaya dengan jumlah pengguna yang banyak. Tetapi, pertemuannya dengan para pengguna Mig 33 yang begitu erat kekerabatannya merubah pandangan alumni California State University – Fresno ini. Mig 33 menjadi menarik di matanya. Mig 33 bukan sekadar aplikasi instant messenger baginya kemudian.

Seperti apa bisnis Mig33 dan bagaimana seorang yang sudah 20 tahun terjun di bidang marketing ini mengembangkan Mig33 dengan posisinya sebagai Indonesia Country Manager dan Head of Global PR ini dapat disimak pada laporan Rifatul Mahmudah berikut ini:

Apa yang membuat Anda semangat untuk bergabung dan menjadi Country Manager Mig 33?

Saya merasa tertantang dan akhirnya mau mencoba pengalaman ini. Saat itu tahun 2009 belum booming hal digital. Tetapi saya percaya Indonesia akan besar dalam hal digital. Animo masyarakat yang luas dan kekerabatan di antara para pengguna di Indonesia juga menjadi megnet tersendiri bagi saya.

Bagaimana animo masyarakat?

Sangat luas. Saya sendiri tidak percaya awalnya waktu tahun 2009 ada 8 juta pengguna. Padahal saat itu belum merchandise resmi.

Apa pencapaian selama kepemimpian Anda?

Tentu pertumbuhan penggunanya. Satu tahun belakangan ini, banyak instant messenger yang masuk ke Indonesia. Menurut saya, sebuah pencapaian ketika di tengah banyaknya kompetitor, Mig 33 bisa terus sustain dan ada pertumbuhan.

Apa yang Anda lakukan sehingga membuat Mig 33 bisa terus sustain?

Mig 33 memang dikembangkan di Australia, tetapi karena banyak penggunanya orang Indonesia, pengembangannya bisa disesuaikan. Orang Indonesia sangat entrepreneurial sekali. Kalau orang Indonesia bisa menggunakan platform apa pun untuk menghasilkan uang,mengapa kami tidak mengembangkan itu?

Kemudian yang kedua, orang Indonesia suka bicara. Platform apa pun akhirnya jadi tempat ngobrol. Di luar negeri, twitter untuk menyebarkan news, tetapi di Indonesia? Dulu twitter tidak punya thread conversation yang enak. Itu jadi opportunity bagi Mig 33. Kami mengambil banyak pelajaran dari berbagai social media. Ada yang bilang, ide itu tidak ada yang original, yang ada adalah kita belajar dari yang lain dan kita membuatnya unik. Salah satu yang kami pelajari adalah merchant. Kami menyadari tidak semua orang familiar dengan e-commerce. Apalagi penetrasi bank di Indonesia masih rendah.

imageModel bisnis merchant tadi seperti apa?

Jadi di Mig 33 ada yang namanya social currency. Social currency kami namanya Mig Credit. Mig Credit digunakan untuk pembelian aset virtual di Mig 33. Itu kami jual. Itu based on premium. Untuk berbayar ini kan pakai e-commerce. Untuk itu kami buka merchant system yang terbuka bagi yang bisa mengakses e-commerce. Tetapi tidak semuanya yang memiliki akun bank bisa. Jadi harus beli dalam jumlah minimum tertentu untuk menjadi merchant. Mereka beli US$100, mereka tidak langsung pakai, tetapi mereka menjualnya. Cara mereka jual pintar sekali. Mereka saling kontak, pesan, kemudian bertemu untuk melakukan pembayaran. Makanya banyak sekali kumpul yang mereka selenggarakan sendiri.

Ada berapa merchant saat ini?

Total ada enam ribu. Tetapi dari 35 juta, masih kecil. Salah satu kisah suksesnya, ada yang revenue-nya US$60 ribu per bulan. Ada yang dapat US$ 100 ribu. Kita dapat melihat langsung dampak ke para merchant. Ada seorang merchant di Hongkong, seorang TKI. Sekarang sudah tidak jadi TKI lagi, dia pakai uangnya untuk sekolah di sana. Sekarang dia buka agency di Hongkong.

Berapa besar jumlah omsetnya?

Total di dunia tahun lalu, kami menjual sekitar 400 juta virtual gift. Lima puluh persennya dari Indonesia. Jumlah tersebut dikali rata-rata harga virtual gift Rp 300. Kalau bicara average revenue per user sekarang Rp 30 ribu per bulan. Lebih besar dari Telco. Average mereka sekitar Rp 25 ribu untuk ARPU-nya.

Tantangan dalam mengembangkan Mig33?

Yang menjadi tantangan adalah membaca insight dengan baik. Saya bisa dibilang pekerja di bidang digital, melihat di Amerika, China dan sebagainya, growthnya seperti apa. Diri kita harus pintar membuat rencana, agar tepat bagi konsumen kita. Contohnya, Mig 33 ini baru dua bulan lalu launching website. Selama ini Mig33 fokus ke feature phone, tetapi kemudian kami di-push dengan perkembangan smartphone. Akhirnya kami harus menemukan win-win solution. Untuk android, kami sudah ada tetapi masih beta. Sesegera mungkin kami akan launching versi android dan kami akan mempolish untuk smartphone lainnya.

Bicara mengenai jumlah pengguna yang sangat besar di Indonesia, berarti bisa dong kalau pengembangan Mig 33 ini inputnya berasal dari masyarakat Indonesia?

Oh, tentu bisa dan memang seperti itu. Kami memang membuka diskusi dengan pengguna. Karena kalau hanya mengira-ngira, kemudian jika harus memerhatikan riset, survei mana yang bisa tepat dengan pasar Indonesia? Kami baisanya mengcompile feedback dari para pengguna.

Rencana Mig33 ke depan?

Ke depan kami berupaya untuk memosisikan Mig33 menjadi sosial media bagi Asia di luar dari China. Karena kembali lagi, produk apapun hanya akan bisa berjalan apabila tepat bagi marketnya. Mig33 tidak tepat bagi China, pertama, karena we don’t have the language.

Jadi bukan hanya jadi instant messenger?

Tidak, karena memang kami bukan sekedar instant messenger. Ketida development awal tahun 2005 memang didesain untuk instant messenger. Tahun 2005 itu kan SMS masih mahal. Waktu itu dirasa SMS itu mahal dan tidak ada kepastian kapan bisa nyampai. Founder Mig33 kemudian berpikir bagaimana mengirimkan SMS dengan biaya lebih murah. Sama dengan di Indonesia dulu. Akhirnya mulai dibuat untuk chat one on one atau dalam satu grup. Itu tahun 2006 ketika launching. Setelah itu Mig33 didevelop agar lebih menyenangkan. Makanya kemudian bisa kirim mimic, kemudian dikembangkan fitur lain, seperti games. Karena itu sampai sekarang, Mig33 bisa dibilang perpaduan berbagai macam sosial media.

Kiki Mig33

Target pertumbuhan pengguna?

Kalau pertumbuhan pengguna itu challenging. Buat saya, yang lebih menantang adalah dari 35 juta tersebut, berapa yang bisa saya monetize, berapa banyak yang engage. Sebuah platform, kalau sedikit yang pakai, buat apa? Setiap hari saya menantang diri saya dan tim untuk meningkatkan daily active-nya. Artinya, orang tambah engage. Caranya, apa sih yang inspiring buat pengguna? Apakah konten, artis, game atau apa?

Dari 35 juta, berapa pengguna aktif?

Mig33 berhitung berdasarkan unique ID, misal, si A online pakai handphone, kemudian online lagi pakai laptop, itu tetap diitung satu. Unique user yang menggunakan, rata-rata 3-5 jutaan. Trennya sih naik.

Untuk aktifitas bisnisnya tadi apa ada lagi selain penjualan virtual asset? Ada rencana bisnis dalam bentuk lain?

Tunggu tanggal mainnya. Tetapi kami tentu mencoba aktifitas yang inspiring tetapi tidak terlalu jauh. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)