Konsumsi Morfin Untuk Pengobatan di Indonesia Masih Rendah

Mada Shinta Dewi, Country Manager PT Mundipharma Healthcare Indonesia dan Chief Representative Officer Mundipharma Laboratories GmbH Mada Shinta Dewi, Country Manager PT Mundipharma Healthcare Indonesia dan Chief Representative Officer Mundipharma Laboratories GmbH

Siapa yang tidak mengenal obat antiseptik Betadine. Bisa dipastikan disetiap rumah ada terutama Betadine untuk luka. Tapi tidak setiap orang mengetahui perusahaan pemilik merek ini. Di Indonesia justru lebih dikenal PT Mahakam Beta Farma, perusahaan yang mendapat ijin memproduksi obat itu di Indonesia. Adalah Mudifarma AG, perusahaan dari Swiss yang sudah lebih 60 tahun memperkenalkan Betadine dan menjadi penguasa pasar obat antiseptik di dunia.

Melihat besarnya pasar Indonesia, Mundipharma memutuskan mendirikan kantor representatifnya di sini sejak awal tahun ini. Sedangkan kantor regional Mundipharma Laboratories GmbH di Singapura. Dengan dibukanya kantor perwakilan di Indonesia, Mudipharma berupaya untuk lebih dikenal lebih luas lagi dan memberikan edukasi lebit tepat tentang obat penghilang rasa nyeri. Bukan sekadar produsen Betadine, yang sudah sangat dikenal dalam pengobatan luka kecil dan luka gores , sakit tenggorokan, infeksi kewanitaan dan untuk menghentikan masalah kecil agar tidak meningkat menjadi masalah besar.

Mada Shinta Dewi, Country Manager PT Mundipharma Healthcare Indonesia dan Chief Representative Officer Mundipharma Laboratories GmbH Indonesia menerima SWA Online dalam wawacara khusus di kantornya di Generali Tower beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut Mada juga menunjukkan sebagai perusahaan farmasi, ‘gaya’ berkantor Mundipharma berbeda dengan perusahaan farmasi umumnya. “Kami ingin menjadi Google-nya industri farmasi,” ujar Mada. Maka itu menurut wanita kelahiran Semarang, 27 September 1972 ini suasana kantor sangat terbuka, casual dan tidak resmi, namun sangat serius mencapai target-target perusahaan.

Wanita yang sudah 18 tahun di industri farmasi ini bergabung dengan Mundipharma sejak November 2014. Mada mengawali karir di industri farmasi dari bawah, sebagai medical representative di Pfizer Indonesia. Berikut wawancara SWA Online dengan lulusan Biologi Lingkungan, Universitas Satyawacana Salatiga:

Bagaimana industri farmasi di Indonesia? Benarkah belakangan makin berat? Perjalanan Anda cukup panjang di industri farmasi,  tolong diceritakan juga perjalanan karier Anda!

Industri farmasi itu industri yang dibutuhkan masyarakat dalam turun menjaga kesehatan. Banyak orang melihat saya ‘terjebak’ di industri ini, tapi saya pikir tidak, justru ini berkah. Saya mengawali karier di Pfizer, dari bawah, hingga detik ini sudah 18 tahun, saya bersyukur ada di industri ini. Ini industri yang menyenangkan, jika kita bisa get the feel in this industry akan selalu menarik bagaimanapun sulitnya. Yang namanya kesehatan, tidak akan ada matinya, bukan soal menyembuhkan orang sakit tapi bagaimana mempertahankan orang sehat itu selalu ada yang baru. Selalu relevan membicarakan kesehatan dari bayi hingga manula.

Orang selalu berpikir setelah saya di posisi ini, saya mengawali karier dari manajer. Tidak, saya bangga dari bawah, karena ketika kita berada di posisi puncak, karena kita dari bawah, you know the feel. Maka pada saat membuat kebijakan, aktifitas atau program, kita punya sensitifitas tinggi. Demikian juga sebaliknya, karena kita pernah di lapangan, akan sulit sekali mereka yang dilapangan untuk ‘ngakalin’. Tidak bisa dengan mudah anak yang di lapangan bilang, itu tidak bisa dilakukan.

Bagaimana posisi Mundipharma di industri farmasi? Bagaimana kekuatan perusahaan ini?

Mundipharma adalah perusahaan yang sangat unik. Karena portofolio produknya sangat dibutuhkan Indonesia. Mundipharma dikenal sebagai pemimpin pasar di pain management. Di dunia, Mundipharma selalu menjadi sponsor utama dalam International Congress Study of Pain atau World Congress of Pain. Bicara soal pain management, Mundipharma memang pemimpin pasar dunia. Di Amerika perusahaannya dikenal dengan Purdue Pharma. Pemiliknya sama, Mortimer D. Sackler, kami bukan perusahaan go public, jadi private own company. Di luar US memang digunakan nama Mundipharma.

Bicara pain management, terutama bicara tentang penggunaan strong opioid, morfin dalam bagian cancer pain management di Indonesia masih butuh banyak sekali improvement. Tidak jauh-jauh, kasus yang terjadi di paman saya, yang menderita kanker, sebagian besar komplain utamanya adalah nyeri yang hebat. Untuk mendapatkan obat penghilang nyeri yang sesuai dengan yang dibutuhkan pasien kanker sulit sekali. Melihta data WHO, Indonesia termasuk dalam negara yang kecukupan penggunaan morfinnya sangat rendah. Penggunaan morfin di sini adalah untuk pengobatan, yang penggunaannya diijinkan Departemen Kesehatan. Indonesia dalam penggunaan morfin untuk pengobatan menurut WHO masuk dalam kategori virtually none, hampir tidak terdeteksi.

Bandingkan konsumsi morfin Indonesia dengan Malaysia, data 2007  konsumsi di sana sudah mencapai 84 gram per kapita, Indonesia hanya 24 gram. Ini menunjukkan Indonesia memiliki problem serius di pain management. Setiap tahun angka konsumsinya mestinya naik terus. Seingat saya waktu saya keluar dari Johnson&Johnjon pada 2013 konsumsinya sudah 840 gram per kapita, tahun berikutnya sekitar 1000an gram lebih.

Berarti itu potensi pasar? Artinya ini peluang buat industri farmasi yang memiliki rangkaian obat untuk pain management

Bukan begitu melihatnya. Orang selalu berpikir pelaku di industri farmasi, kami berjualan diatas penderitaan orang lain. Salah cara berpikir seperti itu, kami datang membantu, karena kami bukan penyebab penyakitnya. Kalau orang lebih konsern pada kesehatan, tidak butuh pengobatan. Bicara angka itu, yes benar itu peluang. Pertanyaannya, untuk bisa menangkap peluang itu, bukan berarti kita keluar lalu jualan, bukan itu.

Menurut saya bekerja itu ibadah, konsep sukses di industri farmasi bukan jualan, tapi edukasi. Bagaimana kita edukasi dengan semua yang terkait. Tapi juga bukan Mundipharma semua yang mengerjakan, tapi kolaboratif dengan pemerintah, karena ini tanggung jawab pemerintah untuk melakukan edukasi menyeluruh. Kita bertanggunjawab edukasi orang terutama yang belum paham. Bahwa orang dengan kanker hingga akhir hidupnya walau dalam pengobatan tidak boleh dibiarkan mengalami nyeri, karena ini merupakan basic human right. Bebas dari nyeri adalah salah satu hak asasi manusia. Jadi tidak boleh membiarkan pasien meninggal dalam kesakitan, baik itu dokter maupun keluarga pasien. Jika ini dipahami dengan benar, ini akan berdampak pada semua produk pain management, yang termasuk dalam kategori narkotik akan mendapat benefitnya. Tapi kembali saya tegaskan, kami mengedukasi ini supaya kami bisa jualan semata, bukan.

Apa yang dilakukan Mundipharma untuk meningkatkan kesadaran hak pasien untuk tidak merasa sakit selama pengobatan, terutama para pasien kanker?

Tentu saja kami edukasi ke dokter, juga engage ke yayasan pasien penderita kanker. Pasien dan keluarga pasien harus tahu bahwa tidak merasa sakit selama pengobatan adalah hak mereka.

Apa saja sebenarnya produk-produk Mundipharma yang ada di Indonesia?

Untuk produk konsumer yang ada di pasaran hanya Betadine, selebihnya etikal. Mundipharma ini sangat menarik. Dua core bisnis Mundipharma sangat dekat dengan bangsa Indonesia. Satu masalah cancer pain kita masih banyak PR-nya (pekerjaan rumah). Kita perlu lakukan sesuatu di sini. Kedua Betadine, ini obat antiseptik. Nomor satu di Indonesia.

Hanya saja pemahaman antiseptik di sini masih kurang tepat. Masyarakat menganggap Betadine obat luka. Yang benar, Betadine digunakan pada luka agar tidak terjadi infeksi, yang menyebabkan luka lebih parah. Sama dengan produk Betadine untuk obat kumur, sakit tenggorokan sebagian besar karena kuman. Dengan cara berkumur di tenggorokan atau gargling bisa mengurangi dan mencegah sakit tenggorokan. Sayangnya orang tidak mau melakukan karena warna dan bau Betadine obat kumur. Jadi perlu edukasi lagi, bicara soal antiseptik, Povidone-Iodine (PVP-I) –bahan dasar Betadine-- masih yang paling bagus. PVP-I adalah yang direkomendasikan WHO untuk obat antiseptik. Dengan batas negara makin tipis, orang makin sering traveling, maka penggunaan antiseptik dalam keseharian ini perlu ditingkatkan untuk mencegah perpindahan penyakit dari satu negara ke negara lain.

Dalam kepemimpinan Anda, apa yang dilakukan untuk membesarkan Mundipharma di Indonesia?

Pertama, menggandeng pemerintah sebagai partner sangat penting. Dalam upaya mencegah infeksi yang berkelanjutan, demikian juga dalam hal pain management. Melakukan public partnership dengan pemerintah adalah hal kritikal yang memang harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran ini. Kedua, menggandeng medical association atau asosiasi kedokteran. Pada akhirnya, yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah adalah medical doctor. Ketiga, menggandeng komunitas, apakah itu pasien, keluarga pasien dan komunitas umum. Strategi ini kami lakukan ketiga stakeholders ini untuk dua produk kami baik yang etikal maupun consumer. Walaupun dengan langkah berbeda, tidak mungkin kami edukasi pasien dulu, dokternya belum, untuk yang pain management. Pada pasien kanker peranan keluarga ini sangat penting.

Sebenarnya pain management, hampir semua perusahaan farmasi punya, paracetamol itu masuknya analgesic. Bicara soal pain management, khusus untuk obat yang berbasis narkotic analgesic, hanya sedikit pemainnya di sini. Untuk di Indonesia, pemerintah hanya memberikan ijin pada PT Kimia Farma Tbk. Jadi di Indonesia, kami masuk melalui Kimia Farma, lisensi produk kami ke mereka. Jadi aturan untuk peredaran narkotika untuk pengobatan di Indonesia, hanya boleh dilakukan oleh BUMN itu. Kimia Farma yang memegang lisensi untuk memproduksi, mendistribusi dan mengimpor obat berbahan dasar narkotik. Ini kan obat yang rawan untuk disalahgunakan, jika diberikan kebanyak perusahaan akan sulit mengontrolnya, jadi obat ini masuk dalam sigle window policy.

Tapi proses edukasinya kami tetap bertanggung jawab. Sebab product owner-nya Mundipharma, ekspertis kami mengenai obatnya, bekerjanya bagaimana dan efeknya yang paham benar kami. Kami bertanggung jawab jika ada kejadian yang merugikan dari obat ini. Tugas kami disini hand in hand dengan Kimia Farma.

Apa tantangan dalam meningkatkan awareness tentang pentingnya pain management bagi pasien, terutama mereka yang sakit keras?

Masih banyak pasien dan keluarganya yang masih salah persepsi dengan medical abuse narkotik. Ada beberapa keluarga pasien yang begitu tahu obatnya berbahan dasar heroin, langsung menolak. Padahal pasien tidak terbayang sakitnya, terutama setelah kemoterapi. Dengan kondisi rendah pemahaman di sini tentang hal ini, Mudipharma punya unique opportunity. Harapan kami dengan edukasi yang kami mulai dorong sekarang ini, kesadaran pasien terbangun, rasa sakit pasien bisa ditekan, ini menjadi dampak positif yang permanen dalam jangka panjang.

Bagaimana perkembangan omset perusahaan setelah membuka kantor di sini?

Saat ini kami lebih banyak edukasi, belum jualan saat ini. Jadi kami masih nol jualannya untuk pain management. Dua tahun sebelum kami join, mereka masih struggle untuk buka company di sini. Harus ada pabriklah. Sedang kami produknya ada narkotik, kalau pun dibangun pabrik, kan harus Kimia Farma karena single window policy. Dan yang kedua Betadine, kami sudah terikat kontrak 35 tahun dengan Mahakam, kalau kami buat pabrik lagi di sini, putus dengan mereka, berapa ribu karyawan mereka mau dikemanakan? Kami sebagai local team di Mundipharma, mampu meyakinkan kantor regional, cara terbaik untuk bisa set up bisnis di sini adalah dengan gandeng perusahaan lokal. Dengan adanya MEA (masyarakat ekonomi asean), kerjasama multinasional dengan local company adalah sebuah pilihan win-win, keduanya. Mau tidak mau kita harus akui, Indonesia masih jauh dari segi teknologi ataupun knowledge di farmasi, dengan membuka diri kolaborasi, ini akan bisa mendorong akselerasi local industri farmasi.

Dalam kerjasama dengan Mahakam, arragementnya kami ubah sekarang. Dulu semua lisensi Betadine kami berikan ke Mahakam yang akan selesai pada 2019. Jadi sejak Februari 2016, kepemilikan mereknya kembali ke Mundipharma. Dengan kembalinya merek Betadine ke kami, membuat kami bisa menyatukan strategi merek itu dengan regional. Selama ini mereka jalan sendiri. Jadi kami bisa membuat aktifitas, projek dan inisiatif yang align dengan negar lain. Jadi selama 35 tahun Mahakam yang memegang lisensi produksi, pemasaran, distribusi dan brand management, kini brand management dan distribusi dipegang Mundipharma sejak Februari 2016. Hanya produksi yang masih dipegang Mahakam.

Mahakam sudah melakukan kerja terbaik selama puluhan tahun ini. Tapi ada beberapa hal yang harus kami up date. Dalam hal kampanye yang belum align selama ini dengan negara lain, packaging yang berbeda (sekarang disamakan), dan belum mencantumkan dalam produk maupun kampanyenya bahwa PVP-I adalah antiseptik yang direkomendasikan oleh WHO. Maka itu langkah pertama kami adalah rejuvinasi packaging Betadine, tahun depan semuanya akan berubah. Ini juga untuk memperkuat merek, agar konsumen tidak bingung, Betadine Indonesia dengan di luar negeri berbeda. Saat ini market share di Indonesia sekitar 90 persen untuk obat luka, tapi untuk obat kumur masih rendah 13 persen, juga yang femine hygiene.

Mundipharma sebenanrya punya 300 SKU yang sedang dikembangkan. Yang sudah ada dipasar di global ada 130 SKU. Tapi baru sedikit yang ada di Indonesia: sabun cair, obat luka, obat kumur dan obat daerah feminin. Tahun depan Mundipharma akan mendorong kampanye yang lebih tepat tentang pentingnya obat antiseptik dalam kehidupan kita. Contoh dalam masa haid disarankan untuk menggunakan Betadine Feminie Hygine untuk menekan risiko infeksi, pemahaman ini masih kurang di masyarakat.

Target ke depan apa?

Angka tentu target semua company ada, tapi saya tidak bisa sampaikan. Yang paling utama seperti saya sampaikan, lebih menekankan edukasi tentang pain management dan obat antiseptik lebih tepat lagi. Tapi sebagai leader di sini, saya punya target sumber daya manusia Indonesia di Mundipharma bisa mencapai posisi yang lebih tinggi, terutama bisa take a regional rules. Jumlah karyawan kami saat ini 30 orang, tahun depan targetnya bisa menjadi 100 orang. Yang paling penting dalam bisnis bukan sekadar angka pencapaian bisnis, tapi juga kita bisa meningkatkan skill capabilty talents agar sukses menjadi sukses tim. Saya berharap pengganti saya nanti adalah orang Indonesia lain. Maka itu saya menganggap medical representative adalah tulang punggung kami. Sayangnya persepsi reputasi posisi itu ‘kurang bagus’ dimata dokter. Maka itu sebutan di Mundipharma berbeda: health care specialist, product specialist, fokus kami bukan menjual tapi lebih sebagai akses provider pada informasi terutama untuk para dokter. Informasi yang dibutuhkan dokter. Untuk produk konsumer, seperti yang saya sampaikan edukasi, iklan, dan juga ke medical association. Target pertumbuhan bisnis, karena masih baru, tentu diatas industri, Pertumbuhan industri farmasi saat ini masih single digit, 8-9 persen.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)