Liem Tjhing Tiong: Industri Kulit Tidak Akan Pernah Mati

Industri kulit itu tidak akan pernah mati! Demikian pandangan Liem Tjhing Tiong, Direktur Utama PT Karunia Catur Perkasa (KCP), perusahaan yang bergerak di industri kulit yang berlokasi di Malang. Permintaan akan selalu ada mengingat produk yang berbahan baku kulit terus diminati, misalnya saja sepatu dan tas. Akan tetapi, fakta di lapangan, yang disayangkan oleh Liem adalah pelaku industri kulit lokal justru makin meredup. Yang berkembang adalah perusahaan jenis penanaman modal asing (PMA).

liem karunia catur perkasaKarena itu, KCP, yang merupakan salah satu penerima penghargaan Primaniyarta 2013 di kategori eksportir potensi unggulan ekspor, berupaya memberikan semangat kepada pengusaha sejenis agar bangkit dan terus maju. Berikut pandangan Liem terkait industri kulit nasional.

Apa pandangan Anda terkait industri kulit?

Terkait visi, industri kulit sesungguhnya punya prospek yang sangat baik dan tidak akan pernah mati, karena kulit sejak zaman dahulu sampai kapanpun akan selalu dibutuhkan oleh manusia. Makin tinggi tingkat ekonomi masyarakat suatu negara, makin tinggi pula kebutuhan masyarakatnya terhadap barang-barang produk dari kulit. Dan kulit yang bermacam-macam jenisnya yang makin lama makin menjadi kebutuhan utama manusia.

Tanpa kita sadari , industri kulit juga sesungguhnya menyangkut hajat hidup orang banyak. Mulai dari petani si pemelihara hewan, pasar hewan, jagal hewan, rumah potong hewan, pengumpul kulit, pemasok kecil, menengah, maupun besar, pabrik kulit, sampai pabrik barang jadi dari kulit. Coba Anda bayangkan ada berapa juta manusia yang hidupnya tergantung dari industri kulit.

Kemudian, terkait misi. Sejak dulu, bahan baku kulit mentah terutama di Pulau Jawa merupakan  yang terbaik mutunya di dunia. Oleh karena itu, oleh pemerintah Belanda peran swasta dilarang, hanya dikuasai oleh pemerintah penjajah. Baru setelah penjajah angkat kaki dari Indonesia, swasta mulai timbul mendirikan pabrik-pabrik kulit, sekitar tahun 1950.

Pada saat itu, pabrik-pabrik kulit mulai timbul satu per satu terutama di daerah Jakarta. Tahun-tahun itu masa keemasannya pabrik kulit swasta. Hanya pabrik kulit daerah dan pemerintah yang makin lama makin terpuruk akibat kalah bersaing dengan swasta.

Sekitar tahun 1970, mulai timbul pertentangan antara pabrik kulit dengan eksportir kulit mentah. Pada akhirnya pertentangan itu tidak pernah terselesaikan sampai sekarang. Semua ini terjadi akibat tiga hal. Pertama, tidak adanya rasa nasionalisme pelaku bisnis kulit di negara kita. Kedua, selalu mau dibodohi oleh pihak luar atau asing. Dan tidak adanya sinkronisasi antara pabrik kulit dengan pabrik sepatu dalam negeri terutama yang orientasinya untuk ekspor. Ketiga, peran pemerintah terhadap dunia kulit masih terlalu kecil.

Dari ilustrasi tersebut di atas maka kami mempunyai cita-cita ingin menjadi pelopor terhadap teman-teman seprofesi apabila suatu saat diberi kesempatan oleh Allah. Baru pada tahun 2006, kami mulai merintis memproduksi kulit untuk ekspor dan bisa diterima dengan baik oleh pembeli luar. Alhamdullilah, rintisan kami ini makin lama makin berkembang dengan baik. Dan pada akhirnya, kami tidak bisa memenuhi permintaan dari pembeli luar.

Buat kami yang terpenting, sesungguhnya ada beberapa aspek yang bisa diambil dan bisa dicontoh oleh teman-teman seprofesi. Pertama, bangsa kita bukanlah bangsa yang bodoh, dan tidak mau dibodohi oleh bangsa lain. Kita mampu bersaing dengan bangsa lain dalam bidang apapun, terutama dalam bidang kulit. Kedua, alhamdulilah, karena kami telah diridhoi oleh-Nya atas kerja keras kami. Ketiga, apabila teman-teman seprofesi mau melakukan seperti apa yang telah kami lakukan Insya Allah pertentangan kepentingan yang terjadi suatu saat akan hilang dengan sendirinya tanpa pemerintah ikut campur. Akhir kata, suatu saat industri kulit di negara kita akan bangkit kembali dari keterpurukannya.

Keempat,, kalau tidak dilakukan seperti apa yang kami lakukan saat ini, pada suatu saat nanti bangsa luar yang akan mendirikan pabrik-pabrik kulit di negara kita dengan memanfaatkan bahan baku kulit mentah yang terbaik kulitasnya di dunia. Sekarang sudah ada satu PT Ecco Indonesia (red-PMA), nanti akan timbul Ecco-Ecco lain di negara kita.

karunia catur perkasaKualitas kulit di Indonesia seperti apa?

Bahan baku kulit mentah dari sapi Jawa kualitasnya terbaik di dunia. Itu dari jaman dahulu. Tidak ada negara lain yang punya, itulah kelebihan bangsa kita. Kulit itu tergantung dari sapi. Jadi, ras sapinya itu yang membuat kulitnya baik. Yang dikatakan kulit Jawa itu sapinya sapi Jawa, orang sini mengatakan sapi benggala.

Sapinya yang membuat karakterisik kulit bagus karena pori-porinya itu halus. Kulit dikatakan terbaik itu melihat pori-pori. Sapi brahman yang impor itu pori-porinya kasar. Beda sekali dengan pori-pori sapi Jawa. Sebetulnya bangsa kita punya sapi yang lebih bagus dari sapi Jawa, yaitu sapi Madura.

Berarti kondisi industri kulit di Tanah Air tidak bagus?

Kondisi sekarang terpuruk. Karena pada tahun 1950, swasta mulai mendirikan pabrik kulit. Itu berkembang dengan baik, satu sama lain mendirikan pabrik kulit. Sehingga di daerah Jakarta saja, kurang lebih ada pabrik kulit sebanyak lebih dari 20, khusus Kota Jakarta. Saat ini, industri kulit yang masih berjalan dengan baik tidak ada lebih dari 20 untuk seluruh Indonesia.

Bagaimana kondisi industri kulit di Malang sendiri?

Yang memproduksi kulit, ada lagi selain kami. Tapi perusahaan itu juga sudah kembang kempis, sudah mau dijual. Ada juga satu di Singosari. Yang di Jakarta sekarang banyak pindah ke daerah. Boleh dibilang nggak lebih dari 10 pabrik di Jawa barat, jadi bukan cuma Jakarta saja. Tapi, itu nggak termasuk industri kecil, seperti di Garut.

Ekspor perusahaan terus naik?

Perkembangan cukup bagus, sehingga sampai saat ini, kapasitas sudah full, tapi permintaan makin banyak.

Pemain di industri kulit tidak bertambah?

Cuma hanya KCP yang ekspor. Orientasi 100 persen ekspor.

Berapa banyak karyawannya?

Karyawan saya 70 persen itu wanita. Baru satu-satunya pabrik kulit di Indonesia yang menggunakan tenaga kerja wanita.

Ekspor terbesar ke Vietnam?

Itu di Vietnam yang punya usaha itu orang Jerman. Dulunya, pabrik sepatunya di Jerman, kemudian dia ekspansi, dia dirikan di Vietnam. Kami pun diinstruksikan untuk kirim ke Vietnam. Ada sebagian kecil ke Jerman. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)