CEO Rajamice: Bepergian Sudah Jadi Gaya Hidup

Betapa ramainya sekarang ini maskapai-maskapai menjajakan program diskon. Ada yang menawarkan beli satu tiket gratis satu, ada yang menawarkan diskon sekian persen. Hotel pun demikian. Mereka memberikan diskon bekerja sama dengan agen perjalanan, kartu kredit, dan lainnya. Bukan main mereka berkompetisi demi menggaet konsumen.

Penerbangan dan penginapan yang semakin terjangkau oleh banyak masyarakat mendorong mereka untuk bepergian. Tak heran bila ada pameran travel, masyarakat banyak yang menyerbu. Salah satu pameran besar yang dikunjungi oleh masyarakat adalah Indonesia Travel & Holiday Fair (ITHF) yang digagas oleh Rajamice.

"Kami coba (menargetkan pengunjung) antara 50 ribu sampai 60 ribu orang selama tiga hari," ujar Panca Sarungu, CEO Rajamice, kepada SWA Online, di Jakarta, Kamis (24/10/2013).

panca rajamiceDia bercerita bahwa sekarang ini semakin banyak masyarakat di Indonesia yang bepergian. Baik itu mengunjungi banyak destinasi di negara sendiri maupun di luar negeri.

Seperti apa animo masyarakat Indonesia untuk bepergian?

Kalau animonya bisa dibilang menarik karena travel sekarang sudah jadi lifestyle. Mungkin kalau kita bicara 5-10 tahun lalu, kalau ke Singapura itu sudah heboh banget. "Hebat lo bisa ke Singapura." Tapi, sekarang Singapura sudah kayak ke Bandung. Harga paketnya murah-murah.

Bahkan, nanti di pameran ITHF (yang akan berlangsung pada tanggal 25-27 Oktober 2013 di JIExpo-Kemayoran) tiket yang dijual mungkin harganya sudah seharga travel ke Bandung yang naik bus Cipaganti. Itu sama harganya sama ke Singapura. Jadi, di pameran nanti ada tiket seharga Rp 199 ribu.

Seperti apa sih jenis travelling yang banyak dicari masyarakat Indonesia?

Kebanyakan yang dicari itu yang istilahnya, travelling yang ada tema-temanya. Kalau barengan sama teman, mungkin mencari yang budget. Kalau misalnya sama keluarga carinya yang banyak theme park. Jadi, tergantung temanya.

Jadi, lebih kepada berkunjung dan eksplorasi suatu tempat atau berbelanja?

Ya, kalau elemen dalam travelling itu adalah berbelanja, tidur, dan juga makan. Tiga hal itu yang merupakan pengeluaran utama.

Masyarakat sekarang ini banyak pilih destinasi di dalam negeri atau ke luar negeri?

Sebenarnya relatif ya. Beda segmen, beda pilihan destinasi. Kalau masyarakat menengah ke atas memang rata-rata berkunjung ke luar negeri. Walaupun, sekarang sudah mulai cari destinasi-destinasi yang eksotik di dalam negeri. Mungkin mereka sudah bosan ke Hong Kong, ke China, padahal di Indonesia banyak yang bisa dilihat. Akhirnya, mereka pergi ke Raja Ampat, dan lainnya. Destinasi yang menarik di domestik tentu saja, seperti Bali, Yogyakarta, dan Lombok. Dan ada juga sejumlah tujuan yang naik daun, seperti second tier-nya itu, yaitu Belitung.

Tak lama lagi ITHF ke-12 akan digelar, berapa peserta pameran?

Ada lebih dari 100 partisipan. Mulai dari agen perjalanan, hotel, maskapai, theme park, dan lainnya.

Pameran akan diadakan di JIExpo, Kemayoran, bagaimana cara menarik masyarakat untuk hadir ke sana?

Kalau ada gula kan ada semut. Jadi, kami pun negosiasi dengan para mitra supaya memberikan harga spesial. Kami bernegosiasi dengan maskapai dan hotel untuk memberikan harga spesial saat pameran. Dan, itu akan membuat perbedaan. Mungkin itu akan menarik orang dimanapun tempatnya.

Dan kami memang melihat bahwa setelah hampir berapa puluh kali kami membuat pameran, ternyata sekitar 67 persen tinggalnya itu paling banyak di daerah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Mungkin bisa kami pahami saudara-saudara kita yang tinggal di daerah sana punya kebiasaan untuk travelling lebih tinggi dibandingkan orang-orang di selatan. Makanya, tempat kami bawa ke utara.

Berapa omset yang didapat dari mengadakan pameran travel?

Satu kali travel fair omsetnya antara Rp 1,5 hingga Rp 3 miliar. Itu mungkin untuk pameran yang besar. Kalau yang skala menengah di bawah itu sedikit. Dalam satu tahun kami buat sekitar 3-4 pameran yang besar dan 3-4 yang medium.

Apa rencana ke depan?

Pameran travel ini kan banyak juga diadakan oleh pihak lain, seperti Garuda Indonesia juga buat dan ada asosiasi yang lain juga buat. Jadi, kami ingin bersama-bersama dengan penyelenggara pameran travel lain yang besar untuk disatukan. Sekarang ini juga banyak banget yang kecil-kecil di mal. Itu tiap minggu ada.

Nah, kami ingin pameran-pameran itu bisa disatukan. Seperti dulu, pameran wedding itu skalanya kecil-kecil, yakni ada di mal, ada yang buat in-house, ada yang buat sendiri-sendiri. Sekarang pameran wedding itu sudah bisa menyatu di pameran wedding yang besar. Nah, itu sebenarnya yang kami ingin capai dalam jangka panjang. Ya, mudah-mudahan dalam 3-4 tahun ke depan kami sudah bisa bersatu. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)