Pesan Sang Ayah kepada Penerusnya: Jujur dan Komitmen

Menjadi presiden direktur di usia 32 tahun, membuat Christian Wanandi masih harus banyak belajar tentang bisnis Asuransi Wahana Tata. Ditempa dengan menjadi sales di salah satu anak perusahaan, membuat Christian tetap bersikap low profile saat bekerja. Anak bungsu dari Rudy Wanandi ini, mampu meningkatkan premi perusahaan menjadi Rp1,8 triliun dari Rp600 milir. Berikut paparan lengkap Christian kepada reporter SWA Online, Destiwati Sitanggang:

(ki-ka) Rudy Wanandi dan putranya, Christian Wanandi (ki-ka) Rudy Wanandi dan putranya, Christian Wanandi

Bisa diceritakan ketika sedang dipersiapkan sebagai Presdir Wahana Tata?

Ketika selesai kuliah, saya bekerja di anak perusahaan, dulu kita punya Life Insurance Winterthur. Sebenarnya, bukan dipersiapkan, mungkin diberikan tanggung jawab. Saya bekerja di sana selama 8 tahun. Saya memulai dari bawah, dari sales dulu, lalu jadi manajer, lalu jadi direktur di asuransi kita, yang joint venture dengan Winterthur. Saat 2009, saya tidak tahu ini disebut sebagai dipilih, dipercayakan, diberi tanggung jawab, atau diberi beban disuruh sama ayah untuk memegang Wahana Tata sebagai Presdir.

Mengapa ditempatkan di sana?

Saya kurang tahu, mungkin karena kakak saya juga memegang anak perusahaan yang lain, maka saya ditempatkan di situ untuk mencari pengalaman. Penempatan di sana memang dipilihkan oleh orang tua. Dulu saya tidak berani bertanya mengapa ditempatkan di sana, nanti dicoret (sambil tertawa). Namanya juga baru lulus, jadi kerja ya kerja saja. Awalnya saya di sana, saya juga tidak memperkirakan akan masuk Wahana Tata, diminta bekerja di sana, ya saya kerja saja.

Tanggung jawab yang diberikan ketika ditempatkan di sana?

Tentunya untuk mengembangkan perusahaan, karena dulu keadaannya di sana agak merugi. Diharapkan dengan memanfaatkan network Wahana Tata-nya.

Pernah merasa putus asa?

Kalau putus asa tidak, tapi kalau dari fasilitasnya tentu jauh, karena kondisi perusahaan masih merugi, jadi saya menerima apa adanya. Saya saat itu belum berkeluarga, jadi ya dicoba saja.

Lalu, bagaimana kondisi di sana sekarang?

Oke, tapi terus terang sekarang baru saja kita jual beberapa bulan lalu. Sekarang namanya Astra Viva, asuransi jiwa.

Ketika ditempatkan di sana, apakah diberi gambaran kalau perusahaannya merugi?

Tidak sih. Saya tahu di sana. Dahulu saya masuk di sana jadi sales, belum jadi direktur, jadi pekerjaannya berbeda dengan direksi.

Apakah menemukan kesulitan ketika terjun pertama kali ke Wahana Tata?

Kalau tentang Wahana Tata saya sudah tahu karena kita suka berkumpul dan berbicara tentang masalah-masalahnya. Jadi, sudah tahu gambaran tentang Wahana Tata. Paling berat ya untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Saya sudah diberi kepercayaan untuk mengelola perusahaan keluarga yang bergerak di bidang asuransi, kepercayaan yang paling penting. Hal itu yang paling berat.

Christian Wahana(tegak)

Apakah sejak kecil memang sudah diarahkan untuk mengetahui tentang bisnis asuransi?

Tidak. Saya juga tidak mengerti asuransi itu seperti apa. Tapi yang pasti dari ayah saya, masalah disiplin, tepat waktu ketika bertemu orang dari ayah saya sudah ditanamkan. Komitmen juga, kalau kita katakan A ya A, jika B ya B. Ya, intinya tidak secara langsung diberitahu asuransi itu begini begitu, tetapi semua berjalan dalam kehidupan saja. Tapi itu secara tidak langsung, berhubungan dengan dunia asuransi.

Berarti sejak kecil sudah tahu sejak Wahana Tata?

Sejak kecil suka ke kantor juga, tetapi tidak mengerti sebesar apa, perusahaan seperti apa saya tidak mengerti. Saya suka ke kantor untuk main atau kalau ada acara gathering, tetapi secara bisnis ikut meeting tidak.

Kalau dari segi pendidikan apakah diarahkan untuk masuk ke bisnis asuransi?

Tidak sih. Kalau orang tua saya terserah mau sekolah apa. Ketika selesai kuliah lalu pulang, diminta untuk coba dulu dunia asuransi. Namanya baru selesai kuliah, belum memiliki pengalaman, ya dicoba saja.

Dulu studinya di mana?

Saya di Amerika mengambil Finance. Finance itu asal ambil saja (sambil tertawa). Dalam menjalankan usaha keluarga, tentunya pertama pekerjaannya harus kita sukai dahulu, tanggung jawabnya juga besar, apalagi ketika ditinggalkan ayah saya memiliki reputasi yang baik. Belum apa-apa tanggung jawabnya sudah berat, apalagi orang mulai berkata-kata kalau tanggung jawabnya diberikan ke anaknya. Tetapi semua saya lakukan dan nikmati saja.

Ketika dipercaya mengelola unit, adakah kesulitan yang dihadapi dengan citra sebagai anaknya pemilik?

Itu kan perusahaan yang joint venture dengan perusahaan Swiss, kita bekerja dengan profesional saja. Pemilik ya memang pemilik, tetapi kita juga sebagai mitra lokal, kita juga perlu membuktikan sesuatu. Saya di sana sebagai representasi dari mitra lokal, saya harus menunjukkan kontribusi. Menurut saya, kerja itu prinsipnya secara profesional saja, selama kita benar ya sudah. Kalau mitra asing kita yang tidak benar, ya kita tegur. Jika mereka memberikan kontribusi positif ya kita puji mereka. Saya rasa profesional saja.

Bagaimana pandangan karyawan di sana?

Ya mereka pasti berpikir ini anaknya pemilik. Itu biasa. Ya, kalau saya, tetap low profile saja. Tidak yang yang mentang-mentang anak pemilik bisa memerintah atau bagaimana. Kita juga kalau ada meeting, hanya karena saya anak pemilik, bukan berarti harus mendengarkan saya 100%. Kita juga harus terbuka mendengarkan pendapat orang lain. Tapi intinya harus low profile. Saya awalnya, saya juga ikut jualan, ketemu nasabah, presentasi, meyakinkan nasabah. Kalau nasabah komplen dan dimarah-marahin, ya dimarah-marahin. Itu hal biasa. Saya diperlakukan sama.

Apakah semua berjalan mulus?

Rintangan pasti ada, tidak mulus 100%. Belum berjalan dan tidak setujui juga saya pernah hadapi. Jika tidak disetujui, mungkin memang karena pengalaman saya yang kurang, ujungnya kita harus bersikap profesional. Pokoknya, yang terbaik untuk perusahaan harus kita jalani, kalau tidak tinggalkan. Tidak bisa semaunya.

Adakah mentor yang ditunjuk orang tua untuk membantu Anda?

Kalau memang ada hal-hal berat yang harus saya putuskan dan itu bukan wewenang, memang harus saya diskusikan dengan ayah saya. Kebanyakan yang mengajarkan saya, orang tua saya sendiri. Saya diperkenalkan dengan prinsip-prinsip dasarnya saja seperti komitmen, disiplin waktu. Berbicara tentang histori, tentang karyawan, saya juga harus bertanya bagaimana sih sebenarnya orang ini. Karena dalam mengambil keputusan tidak hanya bisa berdasarkan kertas, juga perlu bertanya. Intinya kalau perusahaan keluarga ya begini lah sama ayah sendiri. Terlalu banyak gangguin, nanti mereka marah. Tapi kalau kita tidak tanya, nanti kok tidak lapor. Jadi, tidak lapor salah, lapor kebanyakan juga salah (sambil tertawa). Kita harus mengerti, sebagai pendiri pasti tetap peduli terhadap perusahaan, saya juga sebagai penerus, saya harus terbuka dengan keadaan perusahaan, agar mereka sebagai pendiri tahu kondisi sekarang.

Apakah memang menyukai dunia asuransi?

Akhirnya saya suka. Awal-awal saya juga tidak tahu apa. Terus terang saya belum pernah mencoba di industri lain. Sekarang saya sudah 13 tahun di industri asuransi, sejauh ini enjoy saja.

Ada keinginan untuk mencoba industri atau dapat tawaran dari perusahaan lain?

Kalau secara operasional tidak. Tapi kalau secara share holder, saya minat-minat saja.

Tapi, apakah memang ada cita-cita ingin meneruskan bisnis asuransi ini?

Tidak terbayang dahulu. Karena saya tidak pernah bertanya dan tidak diberi tahu juga. Karena orang tua saya bilang, jika waktunya belajar ya belajar saja, waktunya kerja ya kerja saja. Tidak perlu tanya-tanya. Jangan ketika sekolah ingin kerja, ketika kerja ingin sekolah.

Ketika langsung menjadi presdir, adakah kesulitan berkomunikasi dengan karyawan senior?

Tidak, karena kita sudah mengenal satu sama lain. Tapi ya memang saya tidak tahu mereka yang keteteran dengan gaya saya atau bagaimana, karena memang berbeda generasi. Jadi, kita harus mengubah pola pikir mereka secara perlahan. Tapi saya tidak mengubah prinsip-prinsip Wahana Tata yang ditanamkan oleh ayah saya. Hanya beberapa hal yang mengikuti kondisi market sekarang. Relasi saya dengan karyawan senior tidak ada masalah, asal mereka bekerja dengan baik, kontribusi dan integritas bagus, saya apresiasi saja loyalitas mereka untuk Wahana Tata.

Apakah Anda juga belajar dari karyawan senior dalam mengelola perusahaan?

Belajar secara langsung tidak, mantan CEO setelah papa saya ada, dia menjadi advisor untuk direksi, kadang tanya dan diskusi dengan beliau. Itu inisiatif saya untuk bertanya.

Perubahan apa yang terjadi setelah Anda menjabat sebagai presdir?

Secara internal kita banyak berubah, dari struktural organisasi, juga job description yang lebih jelas. Sekarang kita juga mempunyai kantor regional. Nanti juga kita akan adakan GPA untuk setiap karyawan agar lebih akurat dan objektif. Kalau dari segi bisnis, dari awal masuk premi dari sekitar Rp700-an miliar, sekarang 2013 sudah Rp1,8 triliun. Dulu karyawan itu ada 800-900 orang, sekarang ada 1.200 karyawan, itu seiring dengan bisnis kita yang semakin berkembang. Kalau dari jumlah kantor, dulu ada 50-an, sekarang sudah ada 70 kantor. Selain itu, tahun ini juga kita baru saja mempunyai ijin Takaful, tapi masih Unit Usaha Syariah (UUS).

Apa wisdom orang tua untuk mengelola perusahaan?

Pesan-pesan pasti harus menjaga reputasi asuransi Wahana Tata dan mengembangkan bisnisnya saja. Pesan yang simpel, tetapi implementasinya tidak simpel. Ujung-ujung pasti untuk meraih profit yang tinggi. Kita juga harus jujur dan komitmen, tapi yang mengena untuk saya adalah komitmen. Apa yang kita janjikan harus kita laksanakan. Kembali lagi, karena bisnis asuransi ujungnya kepercayaam, jadi komitmen itu menjadi hal yang paling penting untuk dipegang.

Apa kesulitan ketika melanjutkan kepemimpinan ayah Anda?

Di sini jumlah karyawan senior dan junior banyak. Kita harus mencari keseimbangan antara karyawan baru dan cukup senior. Tapi memang, secara keseluruhan tidak terlalu banyak berubah.

Ketika diminta untuk menjadi presdir, apakah Anda sudah siap?

Siap, siap sekali. Bahkan saya ingat sekali, ketika pertama kali saya masuk, 1 September 2009. Pada 30 September 2009 saya diberikan ‘hidangan pembuka’ yang besar, yaitu gempa Padang. Ketika itu kita membayar klaim sebesar Rp260 miliar dari 600 polis. Dan pada bulan itu ada dua kali gempa, yaitu Tasikmalaya dan Padang. Kita mampu membereskan semua itu dalam setahun. Kita kirim orang untuk membantu proses klaim, membuat tenda di depan kantor untuk membantu nasabah yang menjadi korban. Di situ kita juga memberikan keringanan-keringanan dalam melakukan proses klaim karena polis tidak ada karena rumah hancur. Padahal saya lagi dalam tahap belajar, langsung ‘duuaarr’ dikasih gempa.

Seperti apa beban yang dirasakan ketika menjadi presdir?

Ya, tentu tanggung jawab lah. Kalau menjadi penerus itu, setiap orang akan membicarakannya “Kita lihat nih, apa dia bisa atau tidak”. Dipikir mereka enak, tapi kan tanggung jawabnya besar. Saya hanya bisa menikmati dan jalani saja karena memang tidak ada pilihan lain (sambil tertawa).

Menjadi presdir di usia muda, apakah itu menjadi kebanggaan?

Bangga pasti, tapi saya akan lebih bangga lagi jika mampu memberikan kontribusi yang membuat perusahaan ini lebih maju. Itu, yang akan membuat saya lebih bangga lagi. Untuk apa saya bangga menjadi Presdir, jika keadaannya hanya begitu-begitu saja. Karena mempertahankan reputasi menjadi tantangan tersendiri bagi saya, di tengah adanya ekspetasi yang sangat tinggi.

Target untuk Wahana Tata ke depan?

Kita tetap ingin menjadi pemimpin di dunia asuransi dan dapat mmemberikan profit yang besar. Sekarang juga market asuransi masih rendah, kita ingin Wahana Tata dapat mengambil bagian untuk memberikan proteksi untuk masyarakat Indonesia dan memberikan pengetahuan betapa pentingnya asuransi. Di tahun 2013 kita ada di peringkat 6 dari sisi premi, kita ingin menjadi top five. Kita juga memiliki visi untuk 2020, dengan logo baru kita, baru sekitar 3 minggu yang lalu. Dulu logo kita padi dan kapas, saya rasa logo lama itu sudah tidak cocok. Kedua, kita masih memaki nama asuransi Wahana Tata, sekarang kita perpendek dengan Aswata. Tapi esensinya tidak terlalu jauh berbeda dengan logo yang lama. Logo itu setelah 50 tahun Wahana Tata. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)