Sudirman MR, Xenia-Avanza Sang Penyelamat

PT Astra Daihatsu Motor sempat terseok-seok pada masa krisis ekonomi. Tingkat produksi turun drastis dari 6.000 unit per bulan menjadi 1.800 unit per bulan, sementara utang menggunung, sehingga beban bunganya saja mencapai Rp 400 juta per hari. Menghadapi situasi pelik ini, Sudirman M.R., yang kala itu bertanggungjawab di bidang produksi  sebagai Direktur Teknik, Enginering dan Manufakturing, berpikir untuk melahirkan mobil idaman keluarga Indonesia.

Tak dinyana, ketika diluncurkan ke pasar, Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza mendapat sambutan hangat dari pasar. PT Astra Daihatsu Motor pun bukan hanya selamat, tapi terus tumbuh. Bagaimana lika-liku Sudirman M.R. memimpin PT Astra Daihatsu Motor, dipaparkan kepada Radito Wicaksana berikut ini:

Sudirman MR, Dirut PT Astra Daihatsu Motor

Terobosan apa saja yang dilakukan selama kepemimpinan Anda, sehingga perusahaan menghasilkan kinerja yang bagus?

Untuk di Daihatsu sendiri, ketika itu kami mengeluarkan terobosan dengan meluncurkan mobil Xiena dan Avanza. Dengan hadirnya dua produk kendaraan tersebut, akhirnya mampu membantu Daihatsu keluar dari kondisi kritis saat itu.

Bagaimana kondisi perusahaan sebelum dan sesudah Anda memimpin PT Astra Daihatsu Motor?

Pada awal 2000-an atau saya bisa bilang pasca krisis tahun 1998, kondisi Daihatsu tidak bagus. Sebelum krisis terjadi, produksi kami saat itu mencapai 6.000 unit per bulan. Pasca 1998, produksi kami menurun drastis hingga hanya mencapai angka 1.800 unit per bulan. Jadi, kurang lebih saat itu produksi kami hanya mencapai kisaran 20.000-22.000 unit per tahun. Padahal kapasitas produksi kami saat itu bisa mencapai 78.000 per tahun.

Selain kondisi krisis saat itu, penyebab lain dari kondisi yang terjadi di Daihatsu saat itu adalah memang kami belum bisa menghadirkan produk yang diinginkan oleh pasar. Produk-produk yang ada saat itu tidak sesuai dengan keinginan pasar, baik harga maupun modelnya.

Dari situ, kami memikirkan terobosan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kami mulai memikirkan untuk menghadirkan produk mobil yang menjadi kendaraan impian masyarakat di Indonesia. Maka lahirlah terobosan pertama, yaitu lahirnya Xenia dan Avanza.

Ternyata, respons masyarakat dengan hadirnya Xenia dan Avanza tersebut sangat baik. Dari situ mulailah kami menambah kapasitas produksi kami. Tantangan pertama saat itu adalah, bagaimana dalam waktu singkat Xenia dan Avanza ini mampu memenuhi permintaan pasar. Maka dari itu, kami meningkatkan kapasitas produksi. Yang  tadinya kapasitas produksi kami hanya 78.000 dengan utilitas hanya mencapai 18.000-20.000 per tahun, setelah keluar Xenia dan Avanza, kapasitas produksi tersebut kurang mampu memenuhi permintaan pasar.

Hingga akhirnya kami tingkatkan kapasitas produksi saat itu menjadi 87.000 unit per tahun. Kemudian, di tahun-tahun berikutnya kapasitas produksi selalu bertambah. Dari tahun 2005 kapasitas produksi mencapai 114.000 per tahun, kemudian tahun 2007 menjadi 150.000 unit per tahun, di tahun 2008, menjadi 211.000 unit, tahun 2010 236.000 unit, 2011 330.000 unit, 2012 340.000 dan di tahun 2013 ini baru saja meresmikan pabrik dengan kapasitas produksi 120.000, hingga totalnya mencapai 460.000 unit per tahun.

Peningkatan kapasitas produksi tersebut memang karena permintaan pasar. Sedangkan untuk produknya sendiri, sejak tahun 2003 akhir kami mengeluarkan Xenia-Avanza, berlanjut lagi di tahun 2007, kami mengeluarkan produk Terios dan Rush. Lalu diikuti lagi di tahun 2008, keluarlah GrandMax.

Jadi, saat itu kami memang benar-benar memilih produk yang betul-betul bisa diterima pasar, dan bersamaan dengan diterimanya produk tersebut oleh pasar, kami juga harus mempersiapkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dan tidak hanya itu saja, khusus untuk produk Grandmax, tidak hanya diperuntukan bagi pasar domestik saja, tetapi juga diperuntukan bagi pasar ekspor, yaitu ke Jepang. Jadi, produk bikinan Indonesia yang pertama kali bisa masuk ke pasar Jepang adalah Grandmax.

Selain itu, saat ini kami juga sedang mempersiapkan produk untuk merespons program pemerintah, dengan mempersiapkan produk low cost dan green car. Di mana pada bulan September lalu, kami sudah memperkenalkan kepada publik, namun produk ini belum kami produksi secara massal. Nama produknya adalah Astra Daihatsu Ayla dan Astra Toyota Agya.

Jadi, bisa dibilang memang dengan keluarnya Xenia dan Avanza tersebut merupakan batu loncatan bagi kondisi Daihatsu saat itu. Setelah itu pun kami tidak puas hanya dengan Xenia dan Avanza, makanya kami keluarkan lagi produk-produk lain yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Kunci keberhasilan saat itu adalah, kami menghadirkan suatu kendaraan MPV (multi-purpose vehicle), yaitu kendaraan penumpang dengan tujuh tempat duduk yang benar-benar diminati masyarakat dan cocok bagi masyarakat Indonesia. Saat itu memang pasar sedang membutuhkan kendaraan seperti itu. Kami dapat mengetahuinya setelah kami melakukan survei terlebih dahulu. Dari survei yang paling dalam maka ketemulah kendaraan yang menjadi impian saat itu seperti apa. Kami menghadirkan kendaraan keluarga yang benar-benar diimpikan saat itu.

Persiapan kami dalam menghadirkan Xenia dan Avanza saat itu dimulai dengan kondisi Daihatsu yang sedang terpuruk sekali. Jadi Astra Daihatsu Motor, dengan kondisi produksi yang cukup sedikit saat itu, juga dibebani dengan utang yang cukup besar saat itu ke bank. Pada tahun 2001 saja, beban bunganya mencapai Rp 400 juta per hari. Jadi kami berpikir memang harus mengeluarkan produk baru untuk menyelesaikan permasalahan ini semua. Butuh waktu dua hingga 2,5 tahun dalam mempersiapkan produk ini. Survei kami mulai di tahun 2001, selama lima bulanan, lalu kami berbicara kepada principal, dan akhirnya disetujuilah produk ini.

Pada saat itu posisi saya adalah technical, engingering, and manufacturing director. Jadi betul-betul saya memikirkan produk apa yang bisa diterima di pasar dan dapat dihasilkan guna menyelesaikan permasalahan yang ada saat itu. Sebagai orang yang bertanggung jawab saat itu, memang cukup berat, di mana kami harus mampu menghasilkan produk yang benar-benar diterima pasar. Tanggung jawab produk benar-benar ada di tangan saya saat itu. Bahkan pernah suatu saat, saya di datangi oleh direktur keuangan yang mangatakan bahwa, mulai pagi ini, saya menginjakan kaki di lantai kantor ini, saya sudah punya beban utang sebesar Rp 400 juta. Saya sempat bertanya-tanya mengapa harus saya yang kena bebannya. Padahal direksi saat itu ada delapan, bukan hanya saya saja. Tetapi dari situ justru menjadi trigger bagi saya untuk segera berpikir untuk memberikan sesuatu bagi perusahaan. Maka saya bertemu dengan prinsipal, menyampaikan usul saya, kemudian disetujui dan saya lakukan survei untuk melengkapi semua itu. Saya anggap saat itu sebagai tantangan. Lagipula memang saat itu sebagai direktur teknik dan manufaktur, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menghasilkan produk yang baik. Maka inisiatif dari saya untuk berbicara kepada prinsipal.

Baru pada tahun 2006 saya diangkat menjadi vice president dan 2011 saya menjabat sebagai presiden direktur. Memang pemegang saham melihat apa yang sudah dihasilkan, makanya saya bisa mencapai posisi seperti saat ini. Tapi perlu saya tegaskan, hasil yang telah dicapai tersebut bukanlah hasil dari kerja saya, tetapi hasil kerja keras dari semua tim yang ada.

Semenjak 2011 saya menjabat sebagai presiden direktur, terobosan yang dihasilkan adalah mobil low cost dan green car tadi itu, guna merespons program pemerintah, meski produk tersebut masih sedang dipersiapkan. Lalu, di 22 April 2013 kemarin, kami baru meresmikan pabrik, “Karawang Assembly Plant”, dan itu bukan hanya pabrik saja, tetapi kami juga meresmikan R&D Center. Di R&D Center tersebut, kami memiliki desain bangunan, di mana nantinya kami ingin pada saat waktunya, kami benar-benar dapat men-develop mobil secara utuh di tahun 2019.

Untuk mencapai kesana kami harus memilki prasarananya, menyiapkan orang-orangnya, maka kami bangun lah pabrik dan R&D Center tersebut. Bisa dibilang kami adalah produsen otomotif pertama yang memiliki R&D Center di Indonesia. Ini merupakan terobosan yang terbaru. Karena pada tahun 2019 nanti kami harus mampu membuat kendaraan full model change yang dilakukan di Indonesia dan oleh putra-putra Indonesia. Untuk mencapai tahapan ke sana, maka di tahun 2016 ini harus mencapai kepada tahapan minor-change. Yang sudah kami selesaikan kemarin adalah design building dan test track -nya.

Apa saja pengembangan yang akan dilakukan untuk makin memoncerkan perusahaan?

Kami terus melakukan intensifitas di bagian marketing. Jadi, selain dari produk itu sendiri, kami juga akan terus membuat terobosan-terobosan pada bagian marketing. Kami menyinergikan semua potensi yang ada. Untuk produksi, itu tadi, harus membuat produk yang QCD (quality cost delivery) nya the best! Lalu kalau mobilnya sudah jadi, yang paling penting adalah urusan CS (Customer Satisfaction), baik pra-jual maupun purna-jual. Jadi  dari hulu ke hilir benar-benar kami manage menjadi satu kesatuan tim. Kami lakukan review tanpa henti. Kami selalu melaksanakan yang namanya continous improvement atau dalam bahasa Jepang-nya, Kaizen. Itu harus dilakukan demi meraih capaian yang terbaik di setiap saat.

Dan saya sadar, saya tidak akan selamanya berada di sini. Saya akan masuk masa pensiun. Saya ingin meninggalkan legacy di sini. Untuk itu, saya mempersiapakan pondasi dengan mendirikan R&D Center yang tadi sempat saya sampaikan. Hal tersebut dilakukan agar bisnis ini mampu sustainable terus ke depannya. Dengan mempunyai R&D Center ini, kami jadi bisa dengan cepat merespons keinginan pasar. Selain itu, legacy yang saya inginkan suatu saat adalah, nantinya kami mampu menjadi perusahaan yang production base, menjadi product base, namun dengan produk yang didesain dan dibangun oleh orang-orang Indonesia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)