Ajang Edukasi Lewat BikinFiiilm Ala MAMI

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menjalankan program CSR edukasinya kepada masyarakat dengan mengadakan ajang Kinescope Short Movie Project Competition (BikinFiiilm) yang bekerja sama dengan Majalah Kinescope Indonesia. Ajang ini adalah sebuah kompetisi membuat film pendek yang diikuti anak-anak muda berusia 15-25 tahun, dan memperebutkan hadiah total senilai Rp60 juta.

MAMI-BikinFiiilm“Kami sudah membicarakan apakah akan membuat edukasi dengan film atau yang lainnya sejak beberapa bulan sebelumnya, dan akhirnya merasa click dengan Kinescope. Bagi kami, edukasi finansial harus diberikan sejak dini, dilakukan dengan cara yang menyenangkan, dan film tentu saja bisa diterima banyak kalangan,” kata Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

BikinFiiilm ini menyertakan tema besar 3I (Insyaf, Irit, Invest) yang juga menjadi slogan edukasi dari MAMI selama ini. Jadi para peserta harus membuat film pendek dengan cerita mengandung unsur 3I. Dengan 3I, MAMI ingin mengajak generasi muda untuk berhenti menganut paham ‘bagaimana nanti’. Sebab, mereka harus mulai insyaf atau menyadari bahwa kebutuhan mereka di masa depan akan membutuhkan dana yang besar.

"Anak-anak muda juga perlu menjadikan irit sebagai gaya hidup mereka sehari-hari, dan bisa mulai berinvestasi sejak muda. Jadi mereka yang sudah mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menjadi culture provocateur (provokator budaya) bagi masyarakat di sekitarnya. Ilmu dan pola hidup yang baik harus ditularkan,” imbuhnya.

Kegiatan BikinFiiilm ini terdiri atas tiga rangkaian acara, yaitu workshop, penggarapan film, dan malam anugerah untuk pemenang. Sebelum workshop dimulai, pendaftarannya sudah dibuka sejak Februari 2014 di beberapa universitas di Indonesia, dan ini meraih animo yang cukup baik dari para mahasiswa. Jumlah pendaftar yang tercatat sebanyak 380 orang, kemudian dari jumlah ini disaring lagi sampai berjumlah 180 orang yang bisa ikut workshop.

“Kami membuat kompetisi dengan konsep berbeda dari lomba membuat film pendek lainnya yang biasanya melakukan open submission. Tapi kami memulainya dengan workshop yang membagi peserta ke dalam empat kelas, yaitu kelas directing, editing, script writing, dan cinematography. Lalu, setiap peserta dari kelas-kelas itu digabung dalam satu kelompok untuk membuat film pendeknya. Sehingga total waktu sampai film jadi adalah sebulan,” tutur Reiza Patters, Pemimpin Redaksi Kinescope Indonesia.

Untuk kelas directing, para peserta dimentori oleh Angga Dwimas Sasongko, sutradara film ‘Hari Untuk Amanda’ dan ‘Cahaya dari Timur’ yang baru akan dirilis beberapa bulan ke depan. Lalu, kelas editing, dimentori oleh Cesa David Lukmansyah, editor senior peraih Penata Editing Terbaik di FFI tahun 2007, 2012, dan 2013. Kemudian, kelas script writing, dimentori oleh Swastika Nohara, pemenang kategori Skenario Asli Terpilih Piala Maya 2013 melalui film ‘Hari Ini Pasti Menang’. Dan kelas cinematography dimentori oleh Dandhy Laksono, jurnalis lepas dan pembuat film-film dokumenter di WatchDoc.

Total 33 film yang akhirnya dibuat oleh para peserta workshop yang sudah masuk dalam kelompok-kelompok itu. Mereka membuat filmnya tidak menggunakan budget besar, melainkan dengan alat-alat yang dipunyai sendiri, bahkan ada yang filmnya hanya memakai budget Rp560 ribu. Dari 33 film itu, dipilih 10 film yang terbaik, yakni yang menampilkan unsur 3I dengan tepat.

“Memang, kita menyediakan hadiah yang bentuknya uang tunai, selain itu satu kelompok pemenang film terbaik akan ikut magang di film Angga Sasongko berikutnya, Filosopi Kopi. Selain itu, ada juga yang akan dapat beasiswa pendidikan editing lanjutan di sekolah editing, Cutting Point, milik Cesa David. Setelah kompetisi ini, kita juga akan kawal mereka membentuk untuk membentuk komunitas-komunitas yang nantinya akan aktif dalam pembuatan film dan apresiasi film nasional,” ungkap Reza.

Dari 10 film terbaik itu, terpilihlah sejumlah pemenang dari beberapa kategori. Kategori The Best Director diraih Jeffri Kaharsyah dalam film ‘Tanpa Kata’, The Best Script Writer diraih Rifki Ardisha dalam film ‘Lullaby’, The Best Cinematography jatuh kepada Putri Octaviani dalam film ‘8000’, The Best Editing jatuh kepada Nindia Pratiwi dalam film ‘Sangkala’, The Most Favourite Movie didapat oleh film ‘8000’, Special Jury Award diraih oleh film ‘Lullaby’, dan The Best Movie diberikan kepada film ‘Tanpa Kata’. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)