Akzonobel dan Greenation Foundation Inisiasikan OTP

Akzonobel menyelenggarakan Pembukaan Kegiatan #OperasiTangkapPlastik (OTP) di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Pulau Seribu pada Jumat (10/8/2018).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyakarat akan pentingnya pengelolaan sampah plastik dan kelestarian lautan. Melalui pemberdayaan nelayan, Akzonobel berusaha mengatasi permasalahan sampah plastik yang melanda daerah parisiwasata.

Junot Wijaya, Country Manager AkzoNobel Marine Coatings Indonesia, menjelaskan, “Di AkzoNobel, keberlanjutan adalah fokus utama dalam segala hal yang kami lakukan. Dengan demikian, kami berusaha mengembangkan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kami senang dapat menjalin kemitraan dengan Greeneration Foundation yang menganut nilai-nilai keberlanjutan serta kepedulian yang sama mengenai pencemaran plastik di laut. Melalui inisiatif ini, kami berharap dapat membantu memberikan solusi terhadap pengurangan sampah plastik laut."

Menurut studi Jambeck Research Group pada tahun 2015, Indonesia diindikasikan sebagai negara penghasil sampah plastik laut terbesar kedua setelah Tiongkok. Studi tersebut memperkirakan sampah plastik laut di Indonesia mencapai angka hingga 1,29 juta metrik ton per tahun. Melihat hal tersebut, pihak pemerintah menargetkan untuk mengurangi jumlah plastik dan limbah lainnya yang mencemari wilayah perairan Indonesia sebanyak 70% pada tahun 2025.

Kepulauan Seribu merupakan salah satu dari 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sebagaimana diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo. Kawasan tersebut memiliki potensi komoditas ikan dan komunitas laut lainnya yang melimpah dan dapat dikembangkan, serta berperan sebagai pusat upaya konservasi laut di Jakarta, yang mana menjadikannya sebagai lokasi paling cocok untuk menjalankan inisiatif ini – dengan Pulau Pramuka dan Pulau Panggang sebagai area fokus pengembangan.

Para nelayan setempat di kedua pulau tersebut akan direkrut dan perperan sebagai Rangers, yaitu tim yang akan mendorong adanya pengelolaan persampahan yang berkelanjutan di Kawasan Strategi Pariwisata. Sebanyak 15 nelayan akan dipilih berdasarkan komitmen mereka untuk meningkatkan ekosistem di wilayah tersebut.

AkzoNobel bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta untuk mengidentifikasi kualifikasi para nelayan dalam program tersebut. “Para Ranger diharapkan dapat menjadi agen perubahan untuk menyebarkan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada masyarakat, serta agar menginspirasi berbagai pihak untuk meningkatkan pengelolaan sampah di wilayah lainnya. Selain membangun kapasitas para nelayan, inisiatif ini juga akan dikembangkan menjadi strategi berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dan para nelayan,” tambah Junot.

Bersama Greeneration Foundation, 15 nelayan Ranger terpilih akan diberikan pengembangan kapasitas melalui serangkaian pelatihan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah dan kewirausahaan yang berkelanjutan untuk menangani masalah sampah padat di wilayah tersebut. Sebagai bagian dari program, AkzoNobel akan berkontribusi dalam memberikan pengetahuan tentang pengecatan kapal yang berkelanjutan serta pelatihannya, serta menyediakan cat ramah lingkungan bagi para Rangers.

Vanessa Letizia, CEO Greeneration Foundation, mengungkapkan, sebagai organisasi yang memiliki fokus di isu persampahan, kami mendukung adanya upaya untuk menyelesaikan permasalahan sampah di darat maupun di pesisir. Dengan adanya program pemberdayaan untuk para nelayan di isu persampahan pun secara tidak langsung akan memberikan dampak pada tangkapan ikan mereka, karena dengan ekosistem yang sehat dan lingkungan yang lestari akan memberikan timbal balik positif untuk manusia juga.

Secara terpisah, AkzoNobel juga mendukung upaya Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta dalam mengumpulkan sampah di Kepulauan Seribu dengan penyediaan pemeliharaan kapal, termasuk pengetahuan mengenai pengecatan kapal yang tepat, untuk sembilan kapal pengangkut sampah yang secara teratur berhenti di pulau-pulau di Kepulauan Seribu.

Isnawa Adji, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyampaikan apresiasinya atas inisiatif tersebut.  Dengan adanya kapal yang terpelihara dengan baik serta upaya dari para nelayan, pihaknya berharap kesadaran warga untuk mengelola sampah dan memperhatikan lautan dapat meningkat sehingga Kepulauan Seribu dapat menjadi daerah pariwisata yang lebih bersih dan indah.

Ia juga menyampaikan bahwa plastik telah menjadi permasalahan global. Plastik menjadi ancaman global bila plastik yang digunakan tidak ramah lingkungan. Kita tahu plastik yang tidak ramah lingkungan tidak bisa terurai dalam waktu ratusan tahun. Ini menjadi perhatian dunia, tidak hanya Indonesia. Apalagi ada pemberitaan bahwa Jakarta menjadi penghasil terbesar kedua mikroplastik yang ada di perairan yang ada di Indonesia. Ini membahayakan biota laut yang ada di Indonesia.

"Jadi jangan lagi kita menggunakan plastik sekali pakai. Kita mengharapkan Jakarta ingin mencontoh Banjarmasin atau Balikpapan, mereka sudah stop memberikan kantung plastik kepada ritel. Kita saat ini sedang menggodok rencana itu. Plastik bukan berarti kita harus musuhi, tetapi kita harus bijaksana dalam menggunakan plastik. Kita memberikan contoh pada jajaran pemprov DKI Jakarta, di dinas LH misalnya, wajib membawa tumblr. Rapat tak lagi menyediakan snack yang berpotensi menghasilkan sampah, tapi kita sudah mulai menggunakan barang yang bisa digunakan berhari-hari," ungkapnya.

Inisiatif #OperasiTangkapPlastik terinspirasi dari kemitraan global antara AkzoNobel dan The Ocean Cleanup dalam membersihkan pencemaran di laut. Melalui kemitraan ini, AkzoNobel menyediakan teknologi pelapis untuk perangkat dan peralatan yang digunakan oleh The Ocean Cleanup. Pembersihan ini akan dimulai di Great Pacific Garbage Patch pada September 2018.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)